Neverness to Everness (NTE) baru saja kedatangan update 1.3 yang membawa area baru, termasuk spot memancing dan ikan-ikan baru yang bisa ditangkap. Tapi ada satu hal yang malah bikin komunitas China ramai. Salah satu asset memancing di NTE ternyata masih punya watermark Doubao, chatbot AI populer asal China buatan ByteDance yang juga bisa bikin gambar dan video lewat teknologi Seedance.
Temuan ini langsung jadi bahan bercandaan pemain China. Lucunya, mereka sebenarnya nggak terlalu mempermasalahkan NTE pakai AI. Yang bikin ramai justru karena Hotta Studio ketahuan pakai Doubao versi gratis, sampai watermark-nya masih ikut masuk ke game. Banyak yang menyebut developernya pelit, kurang teliti, sampai mempertanyakan apakah beginilah caranya NTE bisa menekan biaya produksi.
Salah satu komentar bilang, “Pakai AI sih nggak masalah, tapi pakai Doubao itu lucu. Versi gratis pula.”

Ada juga yang mulai membandingkan Hotta Studio dengan perusahaan game China lainnya. HoYoverse dan NetEase, misalnya, sudah punya teknologi AI yang mereka kembangkan sendiri, sementara Hotta malah ketahuan pakai chatbot AI yang bisa digunakan orang biasa. Gampangnya, minta Doubao bikin asset kurang lebih seperti minta ChatGPT bikinin gambar. Sampai ada pemain yang bercanda, “Doubao, Doubao, tolong bikinin asset game kuda laut ungu pakai mahkota.”
Sebenarnya pemain China sudah cukup tahu kalau NTE memang menggunakan AI dalam proses pengembangannya. Jadi penggunaan AI-nya sendiri bukan sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Yang nggak mereka sangka adalah Hotta ternyata pakai Doubao, apalagi sampai hasil versi gratis dengan watermark-nya lolos masuk ke game. Setelah ramai dibahas, watermark tersebut sekarang sudah dihapus, sementara asset-nya tetap sama.

NTE juga sebelumnya pernah ketahuan menggunakan generative AI untuk beberapa asset. Hotta Studio waktu itu menjelaskan kalau karakter, cerita, dan dunia utama NTE tetap dibuat langsung oleh artist, writer, dan designer manusia. Tapi mereka memang mengakui ada sejumlah kecil asset background dan lingkungan yang dibuat dengan bantuan AI-assisted tools.
Terlepas dari masalah AI ini, Neverness to Everness sebenarnya laris banget. Sejak dirilis pada 29 April, game tersebut langsung menghasilkan lebih dari 100 juta Yuan atau sekitar $14,8 juta hanya dalam sehari. Sampai 30 Juni, Perfect World Games mengumumkan pendapatan NTE sudah mencapai 1,4 miliar Yuan atau sekitar $207 juta, setara kurang lebih Rp3,3 triliun. Angka tersebut diumumkan pada 14 Juli lewat laporan proyeksi keuangan semester pertama 2026.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post