Kami berkesempatan mencoba Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen lewat sesi hands-on sekitar satu jam di PlayStation 5, ditambah sekitar 15 menit di Nintendo Switch 2. Demo yang kami mainkan hanya mencakup bagian pembuka dari region Norgan, tetapi bahkan dalam waktu yang cukup singkat tersebut, impresi yang ditinggalkan sudah terasa kuat.
Pertarungan melawan Fallen Dragon dan pertemuan dengan Yeti terasa seperti ujian dari berbagai hal yang sebelumnya sudah dipelajari di game utamanya, hanya saja sekarang levelnya dinaikkan lagi. Menurut developer, hal ini memang disengaja karena konten yang tersedia di demo ini baru sebatas misi-misi awal di Norgan, sementara masih ada jauh lebih banyak hal yang menunggu setelahnya.
Bukan cuma region baru, game utamanya juga bakal mendapatkan 12 dungeon tambahan, dengan masing-masing dungeon diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai satu jam untuk diselesaikan. Kalau digabung dengan campaign utama Norgan yang diperkirakan punya durasi sekitar 15 sampai 20 jam, Dark Arisen secara keseluruhan bakal menawarkan lebih dari 25 jam konten baru. Jadi ini jelas bukan ekspansi kecil yang cuma numpang lewat, tapi tambahan konten yang ukurannya cukup serius.

Norgan Benar-Benar Punya Nuansa yang Berbeda
Preview ini dibuka dengan perjalanan langsung menuju Norgan, region baru yang hadir lewat DLC ini. Hal pertama yang langsung terasa adalah perubahan atmosfernya. Kalau map di game utama lebih banyak dipenuhi area hijau, reruntuhan, dan dataran terbuka, Norgan benar-benar menjadi dunia yang dipenuhi es dan salju.

Ada lembah yang membeku, jalur pegunungan, sampai area yang terus dihantam badai salju. Semuanya langsung terasa lebih dingin dan lebih berbahaya dibanding apa pun yang sebelumnya ditemui di game utama. Secara visual, kesan pertamanya cukup kuat dan langsung memberikan gambaran soal apa yang bakal dihadapi sepanjang ekspansi ini. Norgan bukan sekadar biome lama yang kemudian dilapisi salju, tetapi benar-benar terasa seperti lingkungan berbeda yang sejak awal memang dibangun dengan kondisi dingin sebagai identitas utamanya.
Menariknya, tema salju dan es tersebut juga bukan sekadar pemanis visual. Jalur yang membeku dan berbagai formasi es ikut dimasukkan langsung ke dalam eksplorasi maupun pertarungan. Jadi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Norgan, tampilan map dan mekaniknya sudah terasa saling melengkapi.

Yeti dan Fallen Dragon Punya Tantangan yang Berbeda
Dalam preview kali ini, kami bertemu dengan dua boss, yaitu Fallen Dragon dan Yeti. Mari mulai dari Yeti terlebih dahulu. Cara bertarungnya cukup mengingatkan dengan Cyclops. Monster ini punya dua taring besar, bisa menggunakan senjata berukuran besar dengan mudah, dan jelas bukan tipe musuh yang bakal mundur dari pertarungan.

Hal yang membuat Yeti lebih menarik adalah serangan napas es area miliknya ketika masuk ke mode rage, yang sekaligus menjadi salah satu serangan utamanya. Sama seperti di game utama, pemain harus mencari tahu kelemahannya sekaligus memahami bagaimana cara menghindari setiap serangannya. Kami menemukan satu trik yang cukup efektif ketika Yeti mulai bersiap mengeluarkan napas es tersebut. Pemain ternyata bisa langsung memanjat tubuhnya dan bergelantungan di bagian punggung ketika serangan sedang berlangsung, sehingga napas es tadi bisa dihindari sepenuhnya. Secara keseluruhan, Yeti bukan boss yang terlalu sulit setelah memahami trik tersebut.

Fallen Dragon benar-benar berbeda. Boss satu ini jauh lebih agresif dan pertarungannya memang dirancang untuk terus memberikan tekanan tanpa banyak memberikan ruang bagi pemain untuk santai. Fallen Dragon cukup rutin memanggil minion di tengah pertarungan, memaksa pemain membagi perhatian antara sang naga dan musuh-musuh kecil yang terus berdatangan. Serangannya sendiri juga punya cakupan area yang luas, jadi posisi pemain selama bertarung benar-benar harus diperhatikan.

Hal yang paling menarik dari Fallen Dragon adalah semacam mekanik rebirth. Di tengah pertarungan, naga tersebut terlihat seperti hancur atau pecah sebelum kemudian membentuk kembali tubuhnya dengan moveset yang sudah berubah. Rasanya seperti pertarungan tersebut di-reset menjadi fase kedua yang jauh lebih sulit. Dibanding Yeti, Fallen Dragon jelas terasa lebih brutal dan tanpa ampun, sekaligus menjadi boss yang paling membekas dari sesi preview kali ini.
Kalau dilihat secara keseluruhan, kedua boss tersebut terasa seperti gambaran yang sengaja diberikan developer soal arah tingkat kesulitan Dark Arisen. Yeti terasa seperti penjaga gerbang di bagian awal. Boss ini cukup mudah dipahami dan seperti dirancang untuk mengenalkan pemain dengan berbagai mekanik baru di Norgan tanpa langsung menghukum terlalu keras.

Sementara Fallen Dragon terasa seperti sedikit bocoran soal apa yang bakal menunggu pemain semakin jauh masuk ke ekspansi ini. Pertarungannya lebih tajam, jauh lebih agresif, dan terasa dirancang untuk benar-benar menguji build Relic yang sudah dikumpulkan pemain pada titik tersebut. Ini menjadi pertanda yang cukup menjanjikan kalau tingkat kesulitan di Norgan memang punya taring. Ekspansi ini sepertinya tidak bakal menjadi sekadar perjalanan santai untuk pemain yang sudah berhasil menamatkan game utamanya.

Relic dan Senjata Baru Bikin Fighter Lebih Menarik
Untuk sesi preview ini, kami bermain menggunakan Fighter, dan ternyata vocation tersebut menjadi pilihan yang cukup pas untuk langsung mencoba sistem Relic baru. Senjata baru yang ditemukan di Norgan tidak langsung muncul sebagai equipment yang siap digunakan. Senjata tersebut ditemukan dalam bentuk Relic yang belum teridentifikasi, pada dasarnya seperti barang rampasan yang ditinggalkan musuh setelah dikalahkan atau tersembunyi di berbagai bagian region. Relic tersebut harus melalui proses appraisal terlebih dahulu sebelum akhirnya benar-benar terbuka dan bisa digunakan.
Salah satu hasil appraisal yang paling menarik perhatian kami adalah Barbaric Axe, sebuah senjata kapak satu tangan. Kehadiran pilihan senjata satu tangan yang benar-benar baru di dalam perlengkapan Fighter ternyata cukup terasa mengubah gaya bermainnya. Serangannya lebih cepat dan mobilitasnya terasa lebih baik, tetapi setiap pukulannya masih punya bobot yang menjadi ciri khas Fighter.
Barbaric Axe menjadi contoh awal yang cukup jelas soal apa yang sebelumnya dimaksud developer ketika mengatakan kalau Relic bakal membuka “senjata yang benar-benar baru” dan disesuaikan dengan masing-masing vocation. Jadi sistem ini bukan cuma memberikan senjata lama dengan tampilan baru dan angka statistik berbeda, tetapi memang bisa memberikan pilihan gameplay baru untuk vocation yang sebelumnya sudah sangat familiar.

Kesimpulan
Satu jam bermain di PlayStation 5, ditambah sekitar 15 menit di Nintendo Switch 2, sudah cukup untuk memperlihatkan satu hal dengan jelas. Dark Arisen tidak sekadar mengandalkan reputasi game utamanya, tetapi benar-benar mencoba membangun sesuatu yang lebih besar di atas fondasi tersebut.
Perjalanan menuju Norgan saja sudah cukup untuk mengubah nuansa keseluruhan pengalaman. Area hijau dan reruntuhan dari game utama sekarang digantikan dunia yang benar-benar terkunci dalam es, dengan lingkungan yang terasa berbahaya dan bahkan menjadi bagian langsung dari pertarungan, bukan cuma latar belakang.
Yeti memberikan pengenalan yang cukup adil dan mudah dipelajari terhadap dunia tersebut, sementara Fallen Dragon dengan gaya bertarung agresif, kemampuan memanggil minion, serta mekanik rebirth yang mengubah pertarungan menjadi fase kedua yang lebih sulit, langsung memperlihatkan kalau tingkat kesulitan di sini tidak main-main.
Sistem Relic juga sudah terasa menarik bahkan dari potongan awal yang kami mainkan. Kehadiran senjata seperti Barbaric Axe membuat vocation yang sudah familiar terasa punya cara bermain baru, bukan sekadar mendapatkan senjata lama dengan statistik dan tampilan berbeda. Kalau sistem ini terus berkembang sepanjang Norgan, ada potensi besar pemain bakal punya lebih banyak alasan untuk kembali bereksperimen dengan vocation yang sebelumnya sudah mereka kuasai.
Sesi di Nintendo Switch 2 memang jauh lebih singkat, jadi masih terlalu cepat untuk menarik kesimpulan besar mengenai versi tersebut. Namun, 15 menit yang kami mainkan setidaknya sudah cukup untuk memastikan kalau pengalaman intinya tetap terbawa ke platform ini. Atmosfer dingin Norgan, pertarungan boss, dan sistem Relic semuanya tetap terasa di Switch 2. Hanya saja, kami masih membutuhkan sesi hands-on yang lebih panjang untuk benar-benar menilai performanya, terutama ketika console tersebut harus menangani momen Norgan yang lebih ramai dan berat seperti badai salju atau pertarungan melawan banyak musuh sekaligus dengan berbagai serangan area.
Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen akan dirilis pada 9 Oktober mendatang.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post