007 First Light sudah terjual sekitar 4 juta copy, tapi IO Interactive jelas belum selesai dengan game ini. Mereka masih menyiapkan banyak konten baru, mulai dari New Game+, Tactical Simulation, Photo Mode, sampai berbagai update lain sepanjang Year One.
Di Tokyo Game Show 2026, kami dapat kesempatan ngobrol langsung dengan beberapa orang penting di balik 007 First Light untuk membahas masa depan gamenya, versi Nintendo Switch 2, DLSS, sampai berbagai cerita menarik dari proses pengembangannya.

Orang yang kami wawancarai:
- Noémie Nakai, pemeran dan pengisi suara Isola
- Cris Vega, Executive and Technical Producer di IO Interactive
- Laurine Deschamps, Global Brand Manager untuk 007 First Light
Seperti apa detailnya? Mari simak artikelnya!
4 Juta Copy Bukan Akhir, IO Interactive Masih Fokus ke 007 First Light

Dengan penjualan yang sudah mencapai sekitar 4 juta copy, respons terhadap 007 First Light jelas jadi sesuatu yang cukup spesial buat tim IO Interactive. Laurine Deschamps bilang mereka senang bukan cuma karena angka penjualannya, tapi juga karena akhirnya bisa melihat respons pemain dan media setelah tim menghabiskan waktu bertahun-tahun mengerjakan game ini. Buat mereka, melihat pemain menikmati sesuatu yang sudah dikembangkan begitu lama jelas punya rasa yang berbeda.
Walaupun gamenya sudah sukses, untuk sekarang IO Interactive ternyata belum mau terlalu jauh ngomongin masa depan James Bond setelah First Light. Fokus utama mereka masih ada di game yang sekarang, terutama soal bagaimana mereka bisa terus menambahkan konten baru dan bikin pemain punya alasan buat terus balik bermain. Laurine juga mengingatkan kalau IO Interactive sudah punya pengalaman panjang dengan konsep yang mereka sebut sebagai single-player as a service, sesuatu yang sebelumnya sudah mereka jalankan lewat Hitman.
“Untuk sekarang kami masih sangat fokus ke 007 First Light dan terus menambahkan konten baru buat para pemain.” ujar Laurine Deschamps.
Salah satu fondasi paling penting buat menjaga gamenya tetap hidup adalah Tactical Simulation Mode. Mode ini nantinya jadi tempat berbagai update baru masuk, mulai dari kosmetik, mode, challenge, sampai konten tambahan lainnya. Jadi setelah pemain menyelesaikan perjalanan utama Bond dari agen muda sampai akhirnya menjadi seorang mata-mata, masih ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan setelah credit selesai.

Tactical Simulation juga dibuat supaya misi lama nggak sekadar dimainkan ulang dengan isi yang sama. Laurine memberikan contoh Kensington, misi pertama yang sudah mendapatkan perlakuan seperti ini. Level tersebut diubah dengan pendekatan yang lebih sandbox sehingga ketika dimainkan lagi, pemain bakal menemukan mekanik baru, musuh baru, serta challenge berbeda yang bikin pengalaman mengulang misinya tetap terasa segar.

Roadmap Year One sendiri sudah punya cukup banyak konten. IO Interactive sudah mengonfirmasi Photo Mode, New Game+, kosmetik baru, senjata baru, challenge tambahan, sampai konten racing. Laurine juga bilang fitur fast racing baru saja dirilis dua hari sebelum sesi interview ini berlangsung. Selain itu, Bawma juga dipastikan bakal kembali, sementara pemain yang suka mengendarai mobil nantinya juga bakal mendapatkan Valhalla Protocol, yang memungkinkan pemain kembali berada di balik kemudi Aston Martin Valhalla.
New Game+ Sudah Dipastikan Datang Tahun Ini

Salah satu fitur yang cukup banyak ditunggu pemain tentunya New Game+. Menariknya, fitur tersebut ternyata sudah bukan lagi sekadar sesuatu yang sedang dipertimbangkan. Laurine memastikan New Game+ memang sudah resmi dikerjakan dan direncanakan hadir dalam tahun ini.
Sayangnya, ketika kami mencoba menggali lebih jauh soal seperti apa bentuk New Game+ tersebut, termasuk apakah bakal ada mekanik baru, tingkat kesulitan berbeda, atau lebih dari sekadar membawa senjata dan gadget lama ke playthrough berikutnya, Laurine masih belum bisa membocorkan detailnya.
“Kami sudah mengonfirmasi kalau New Game+ akan hadir tahun ini dan tim sekarang memang sedang mengerjakannya.” ujar Laurine.
Menurutnya, tim sangat tahu kalau New Game+ merupakan salah satu fitur yang banyak diminta pemain. Hanya saja, mereka masih butuh sedikit waktu sebelum bisa memperlihatkan seperti apa bentuk akhirnya.
Hal yang sama juga berlaku ketika bicara soal masa depan Bond setelah origin story di First Light selesai. Secara cerita, Bond sekarang sudah melewati proses belajar menjadi seorang agen 00, yang tentunya membuka kemungkinan kalau versi Bond berikutnya bisa dibuat lebih jago atau gameplay-nya lebih menantang. Tapi untuk sekarang, tim belum mau terlalu jauh membicarakan arah tersebut.
Prioritas mereka tetap memperluas pengalaman 007 First Light yang sudah ada terlebih dahulu. IO Interactive ingin pemain bukan cuma datang buat menyelesaikan campaign, tapi juga tetap betah berada di dunia game ini lewat Tactical Simulation, New Game+, Photo Mode, challenge baru, dan berbagai konten setelah rilis lainnya.
Ada Kolaborasi Kacamata AR dan Gadget Baru di Dalam Game

Salah satu bagian roadmap yang cukup unik datang dari kolaborasi dengan Even Realities. Buat yang belum tahu, mereka adalah perusahaan yang membuat kacamata augmented reality, dengan G2 Model sebagai salah satu produk terbarunya yang sudah mulai dijual lewat berbagai retailer.
Yang menarik, kolaborasinya bukan cuma berupa produk fisik bertema James Bond. IO Interactive ternyata juga punya rencana buat memasukkan integrasi langsung ke dalam game. Laurine belum mau membocorkan cara kerjanya atau fitur apa yang bakal muncul, tapi memastikan integrasi tersebut memang sedang disiapkan.
“Kami punya rencana integrasi langsung di dalam game. Detail fiturnya memang belum bisa kami ungkap sekarang, tapi ini akan datang.” ujar Laurine.
Buat game James Bond, kolaborasi seperti ini memang terasa cukup nyambung. Gadget sudah jadi salah satu bagian paling ikonik dari identitas 007 sejak lama, jadi menghubungkan perangkat AR di dunia nyata dengan gadget yang ada di dalam game terdengar seperti sesuatu yang memang cocok dengan konsep spy fantasy yang lagi mereka bangun.
Versi Nintendo Switch 2 Sudah Playable dan Tinggal Digenjot Performanya

Dari sisi teknis, Cris Vega juga memberikan update cukup menarik soal versi Nintendo Switch 2. Menurutnya, proses porting game ini sudah berkembang cukup jauh dibandingkan ketika pertama kali dimulai. Versinya sekarang sudah berada dalam kondisi playable dan secara visual juga disebut sudah terlihat bagus.
Tim sekarang masuk ke tahap yang lebih fokus terhadap optimisasi performa. Cris memang nggak mau menyebutnya sebagai tahap terakhir sepenuhnya, tapi mereka sudah berada di bagian akhir proses peningkatan performa sebelum versi Switch 2 benar-benar siap.
“Sekarang versinya sudah cukup playable dan secara visual juga sudah terlihat bagus.” ujar Cris Vega.
Salah satu tantangan terbesarnya tentu bagaimana membuat game sebesar 007 First Light tetap berjalan stabil di target 30 FPS. Game ini punya lingkungan yang cukup besar, NPC dalam jumlah lumayan banyak, sequence mengemudi, sampai berbagai adegan action sinematik yang tentunya cukup berat buat hardware portable.

Menurut Cris, salah satu keuntungan terbesar dari console justru datang dari hardware yang sudah pasti. Setiap console punya semacam “superpower” masing-masing karena developer tahu persis spesifikasi hardware yang mereka pegang dan bisa melakukan optimisasi secara langsung buat perangkat tersebut.
Situasinya jauh berbeda dengan PC. Ada pemain yang mungkin punya GPU sangat kencang tapi dipasangkan dengan CPU yang jauh lebih lemah, atau sebaliknya. Kombinasi hardware yang sangat banyak seperti itu bikin developer harus menyiapkan jauh lebih banyak kemungkinan ketika melakukan optimisasi engine.
Switch 2 justru merupakan closed system. IO Interactive tahu hardware apa yang bakal dipakai semua pemain, jadi mereka bisa mengoptimalkan Glacier Engine semaksimal mungkin tanpa harus menyediakan banyak buffer buat kemungkinan hardware yang nggak diketahui.
Tentu tetap ada beberapa tweak dan perubahan kecil yang dilakukan. Cris mengakui kalau hal seperti itu memang normal ketika membawa game ke hardware berbeda. Tapi ia menegaskan kalau penyesuaian tersebut nggak sampai mengorbankan isi game, cerita, ataupun keseluruhan pengalaman pemain.
“Kami memang melakukan beberapa penyesuaian kecil, tapi kami nggak mengorbankan game, cerita, atau pengalaman pemain. Pemain tetap bisa menikmati pengalamannya secara penuh.” ujar Cris.
Jadi walaupun versi Switch 2 jelas bakal punya beberapa perbedaan teknis dibandingkan PC atau console yang lebih bertenaga, IO Interactive nggak berencana bikin versi yang dipotong dari sisi konten.
DLSS 5 Belum Dikonfirmasi, Tapi Glacier Engine Terus Mengikuti Teknologi Baru
Kami juga sempat menanyakan soal perkembangan teknologi grafis seperti DLSS 5, apalagi versi PC 007 First Light sudah menggunakan teknologi rendering berat seperti path tracing. Cris sendiri bilang DLSS merupakan teknologi yang sangat bagus, terutama karena kemampuan upscaling-nya yang tetap bisa menghasilkan kualitas visual menarik.
Untuk sekarang, implementasi yang dipakai di 007 First Light masih berada di DLSS 4.5. Tapi seperti teknologi lain yang mereka gunakan di Glacier Engine, IO Interactive biasanya terus melakukan update dan mengikuti perkembangan terbaru.
“Sekarang kami masih menggunakan DLSS 4.5. Tapi seperti teknologi lain di Glacier, kami biasanya terus update mengikuti perkembangan zaman. Jadi tentu saja pada akhirnya kami juga akan ikut berkembang.” ujar Cris.
Pernyataan tersebut memang belum bisa dianggap sebagai konfirmasi resmi bahwa 007 First Light pasti mendapatkan DLSS 5. Tapi setidaknya jelas kalau IO Interactive nggak berhenti di teknologi yang mereka pakai sekarang dan terus memantau perkembangan baru yang bisa digunakan Glacier Engine di masa depan.
Isola Sengaja Nggak Dibuat Jadi Femme Fatale

Obrolannya kemudian pindah ke Noémie Nakai, yang memainkan karakter Isola. Ia mendeskripsikan Isola sebagai seorang mata-mata yang cukup badass dan pada awal cerita punya posisi yang kurang lebih seperti rekan Bond.
Buat Noémie sendiri, mendapatkan peran di proyek James Bond jelas jadi pengalaman yang luar biasa. Proses casting-nya ternyata juga cukup mirip seperti film dan serial televisi yang biasa ia kerjakan. Awalnya ada self-tape, lalu audisi langsung dengan director dan producer, sebelum akhirnya masuk ke tahap chemistry test bersama pemain lainnya.
Salah satu orang yang ikut dalam chemistry test tersebut tentu saja Patrick Gibson, pemeran James Bond. Setelah itu masih ada camera test di volume studio buat melihat bagaimana wajah, pergerakan, dan chemistry mereka ketika mulai diterjemahkan ke dalam format game.

Prosesnya ternyata cukup panjang. Tapi justru menurut Noémie hal tersebut sangat membantu karena ia punya lebih banyak waktu buat menemukan karakter Isola sebelum proses shooting sebenarnya dimulai. Ia bisa mulai memahami cara Isola bergerak, berinteraksi dengan karakter lain, sampai hubungan yang ingin ia bangun dengan Bond.
Ketika akhirnya tahu dirinya mendapatkan peran tersebut, reaksinya tentu saja sangat senang. Noémie bahkan bercanda kalau karena ini James Bond, ia mungkin bakal tetap menerima pekerjaannya meskipun cuma diminta bermain sebagai pohon.
“Ini James Bond. Saya rasa kalau diminta jadi pohon sekalipun, saya bakal tetap dengan senang hati menerimanya.” ujar Noémie Nakai sambil bercanda.
Tapi sejak awal ada satu hal yang cukup penting buat dirinya ketika membangun Isola. Noémie nggak mau karakter tersebut jatuh menjadi tipe femme fatale yang terlalu klise, hanya terlihat seksi, keren, dan misterius seperti karakter perempuan yang sudah sangat sering muncul dalam cerita spy.
Menurutnya, orang sudah punya bayangan sendiri soal seperti apa karakter perempuan dalam dunia James Bond. Justru karena itu, ia ingin Isola terasa lebih manusiawi dan benar-benar seperti seseorang yang bisa ada di dunia nyata.
Demi Jadi Mata-Mata, Noémie Malah Banyak Belajar Hal yang “Membosankan”

Alih-alih cuma mempelajari adegan car chase, baku tembak, atau misi mata-mata yang keren, Noémie justru menghabiskan banyak waktu mempelajari bagian pekerjaan spy yang menurutnya paling membosankan.
Ia mencari tahu seperti apa pekerjaan mata-mata modern pada tahun 2026. Bukan cuma ketika sedang mengejar seseorang atau menjalankan operasi rahasia, tapi juga apa yang dilakukan ketika nggak sedang berada dalam misi besar. Apakah mereka duduk menunggu telepon? Apakah mereka mengerjakan corporate espionage? Seperti apa keseharian seorang agen intelijen sebenarnya?
Menurut Noémie, bagian aksi yang sering ditampilkan di film mungkin cuma sekitar lima persen dari pekerjaan sebenarnya. Sisanya justru jauh lebih biasa dan bahkan terdengar membosankan.
“Saya ingin memastikan karakternya terasa seperti orang yang benar-benar ada, bukan cuma sebuah gambaran atau konsep karakter keren.” ujar Noémie.
Ia akhirnya membaca cukup banyak materi soal espionage modern supaya punya pemahaman yang lebih dalam tentang dunia tersebut. Lucunya, hampir nggak ada hasil riset tadi yang benar-benar dipakai secara langsung ketika shooting berlangsung.
Meski begitu, buat Noémie, riset tersebut tetap sangat berguna. Dengan memahami dunia mata-mata secara lebih lengkap, ia jadi bisa mempercayai karakter Isola yang dimainkan. Isola nggak lagi cuma terasa seperti karakter yang muncul ketika cerita butuh adegan keren, tapi seseorang dengan latar belakang dan kehidupan yang utuh di kepalanya.
Noémie sendiri mengakui kalau mempelajari semua bagian “membosankan” tersebut ternyata cukup banyak kerjaannya. Tapi menurutnya usaha itu terbayar karena ia akhirnya bisa memainkan Isola sebagai karakter yang lebih kompleks dan nggak berhenti di stereotip karakter perempuan dalam cerita spy.
Dari Film ke Video Game, Sampai Bingung Karena Nggak Punya Kantong

007 First Light ternyata juga menjadi pengalaman video game pertama Noémie setelah sebelumnya lebih banyak bekerja di film dan televisi. Melihat wajahnya sendiri bergerak di dalam game tentu terasa cukup aneh pada awalnya, tapi yang lebih menarik adalah proses performance capture yang sangat berbeda dibandingkan shooting film biasa.
Sebagian besar cast 007 First Light juga datang dari film dan televisi. Nggak banyak dari mereka yang benar-benar punya spesialisasi sebagai aktor video game, jadi semuanya harus belajar menyesuaikan diri dengan proses baru tersebut.
Noémie bahkan masih ingat bagaimana awkward-nya hari-hari pertama. Ada kamera di depan wajah, kostum motion capture, dan berbagai aturan yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan ketika bekerja di film.
Hal sesimpel memasukkan tangan ke kantong misalnya. Dalam film, aktor bisa memakai gestur itu secara natural. Tapi ketika memakai suit motion capture, mereka nggak punya kantong seperti kostum biasa. Jadi tiba-tiba tangan terasa seperti nggak tahu harus ditaruh di mana.
Ada juga momen ketika Noémie memainkan rambut Bond sedikit dalam salah satu scene, lalu tim langsung bilang kalau ia nggak bisa melakukan itu begitu saja. Reaksinya kurang lebih, “Kalau begitu tangan saya harus ngapain?”
Setelah melewati masa adaptasi tersebut, Noémie justru merasa video game memberikan ruang yang sangat menarik buat seorang aktor. Dalam film berdurasi sekitar dua jam, waktu yang tersedia buat mengembangkan karakter sangat terbatas. Setiap scene biasanya harus punya fungsi yang sangat jelas.
Game memberikan ruang jauh lebih besar. Mereka bisa punya momen kecil antar karakter, memperlihatkan sisi rentan, membangun hubungan, dan memainkan berbagai emosi yang mungkin nggak sempat masuk ke film biasa.
“Sebagai aktor, ada begitu banyak hal yang bisa dimainkan di sini. Rasanya benar-benar memuaskan.” ujar Noémie.
Buat dirinya, kebebasan tersebut menjadi salah satu bagian paling seru selama mengerjakan 007 First Light. Sekarang ia hanya berharap semua detail kecil yang mereka bangun selama proses produksinya benar-benar bisa dirasakan pemain.
Kesuksesan Gamenya Ternyata Cukup Emosional Buat Para Cast

Ketika ditanya soal hal menarik yang ingin ia sampaikan kepada pemain, Noémie justru kembali membicarakan respons terhadap game. Menurutnya, memang gampang melihat kesuksesan hanya dari angka seperti jumlah kopi terjual, tapi buat orang-orang yang mengerjakannya selama bertahun-tahun, rasanya jauh lebih personal.
Para cast menghabiskan waktu sangat lama bekerja dalam ruang yang relatif kecil sambil melakukan performance capture. Selama proses tersebut, mereka juga belum benar-benar tahu seperti apa hasil akhir gamenya nanti. Mereka hanya mengerjakan bagian masing-masing dan mempercayai seluruh proses pengembangan sampai akhirnya semuanya disatukan.
Karena itu, ketika game akhirnya keluar dan pemain benar-benar menikmatinya, rasanya cukup menyentuh buat Noémie. Menurutnya, seberapa bangga tim terhadap hasil akhirnya tetap nggak akan berarti banyak kalau gamenya nggak bisa sampai ke pemain atau ternyata pemain nggak menikmatinya.
“Seberapa sukanya kami terhadap game ini nggak akan terlalu berarti kalau gamenya nggak sampai ke pemain dan mereka nggak menikmatinya.” ujar Noémie.
Itulah kenapa melihat respons positif dari pemain terasa sangat spesial buat dirinya. Semua pekerjaan bertahun-tahun yang sebelumnya cuma dilakukan di balik layar akhirnya benar-benar sampai ke orang lain.
Humor James Bond Sempat Terasa Terlalu Denmark

Salah satu cerita pengembangan yang paling menarik justru datang dari proses penulisan script. Cris Vega menceritakan kalau ketika naskah awal dibuat, studio IO Interactive di Brighton sedang berkembang dan semakin banyak orang Inggris bergabung ke dalam tim.
Saat mereka mulai membaca naskahnya, muncul satu masalah yang cukup lucu. Beberapa bagian ternyata terasa nggak cukup Inggris.
Masalahnya bahkan bisa datang dari hal kecil seperti pilihan kata. Cris memberikan contoh penggunaan kata “parking”, sementara orang Inggris lebih natural menggunakan “car park”. Tapi yang lebih besar adalah humornya. Beberapa orang Inggris di studio merasa humor dalam script awal belum benar-benar terasa seperti humor British.
Sampai akhirnya responsnya kurang lebih seperti, “Ini bukan humor Inggris. Ini orang Denmark yang mencoba menulis humor Inggris.”
Karena itu, IO Interactive akhirnya membawa penulis Inggris buat meninjau kembali script tersebut. Mereka mengganti berbagai pilihan kata, memperbaiki dialog, dan menyesuaikan humor supaya hasil akhirnya terasa lebih natural sebagai cerita James Bond.
“Kami benar-benar memberikan banyak usaha supaya semuanya terasa seperti sesuatu yang dibuat dari sudut pandang orang Inggris.” ujar Cris.
Laurine juga menegaskan kalau mereka sangat serius memperlakukan warisan James Bond yang sudah berjalan lebih dari 60 tahun. British humor merupakan salah satu ciri khas franchise tersebut, jadi mereka nggak mau bagian itu terasa setengah-setengah.
Patrick Gibson Akhirnya Bikin Semua Orang Sepakat Soal Wajah Bond

Proses menemukan wajah James Bond juga ternyata cukup panjang. Sebelum Patrick Gibson akhirnya dipilih, IO Interactive sudah mencoba sangat banyak desain Bond versi muda.
Mereka membuat berbagai model 3D internal dengan gaya rambut berbeda, tampilan wajah berbeda, sampai pakaian berbeda. Cris bahkan masih ingat kalau jaket Bond menjadi salah satu bagian yang paling sering diperdebatkan di studio.
Setiap kali model baru diperlihatkan, selalu ada orang yang punya komentar. Ada yang nggak suka rambutnya, ada yang merasa jaketnya kurang cocok, dan hampir semua orang punya versi Bond favorit masing-masing.
Situasi tersebut berubah ketika tim mencoba memasukkan Patrick Gibson sebagai karakter. Cris masih ingat ketika seseorang mengatakan kalau Patrick merupakan aktor muda yang sangat bagus dan mereka seharusnya mencoba memakai wajahnya langsung.
Begitu model Patrick diperlihatkan, respons internalnya langsung berbeda.
“Itu pertama kalinya semua orang sepakat soal Bond. Semua langsung bilang, ‘Nah, ini dia!’” ujar Cris.
Cris mengatakan momen tersebut benar-benar terasa seperti akhirnya semua orang berada di halaman yang sama. Sebelumnya hampir setiap minggu selalu ada perdebatan soal desain Bond, tapi ketika Patrick muncul, konsensusnya langsung terbentuk.
Menariknya, respons positif dari publik terhadap Patrick ternyata mirip dengan apa yang terjadi lebih dulu di dalam studio. Buat tim sendiri, ia memang sudah terasa seperti pilihan yang tepat bahkan sebelum pemain melihatnya.
Trailer Pertama Sampai Lagu Lana Del Rey Jadi Momen Besar Buat Tim

Laurine juga masih ingat jelas ketika 007 First Light akhirnya diumumkan ke publik. Menurutnya, melihat respons terhadap announcement trailer menjadi salah satu momen terbesar selama bekerja di proyek ini.
Untuk pertama kalinya, nama 007 First Light diperlihatkan ke seluruh dunia sebagai game James Bond besar berikutnya. Buat tim, itu bukan pengumuman kecil karena mereka sadar sudah cukup lama pemain menunggu game James Bond dengan skala sebesar ini.
Setelah itu muncul tantangan lain, yaitu memperkenalkan Patrick Gibson sebagai James Bond mereka. Selalu ada rasa penasaran soal apakah pemain bakal menerima wajah Bond baru tersebut, apalagi karakter ini punya fanbase besar dan setiap interpretasi baru hampir pasti langsung dibandingkan dengan versi sebelumnya.
Ternyata responsnya sangat positif. Laurine mengatakan pemain langsung menerima Patrick dan announcement trailer berhasil memberikan perasaan yang memang mereka incar sejak awal.
“Ketika orang-orang melihat trailernya dan bilang, ‘Ya ampun, ini dia. Ini game James Bond yang selama ini ditunggu,’ rasanya luar biasa buat kami.” ujar Laurine.
Respons tersebut memberikan kepercayaan diri besar buat seluruh tim. Mereka sudah menaruh banyak perhatian pada detail agar trailer pertamanya langsung terasa seperti James Bond, dan melihat pemain menangkap hal yang sama tentu terasa sangat memuaskan.
Momen lain yang nggak kalah spesial adalah ketika title sequence dan lagunya akhirnya jadi. Menurut Laurine, itu jadi salah satu titik ketika tim benar-benar merasa, “Oke, kita memang sedang bikin game James Bond.”
Apalagi mereka juga berhasil mendapatkan Lana Del Rey. Laurine bilang sejak lama Lana terasa seperti musisi yang seharusnya pernah membuat lagu James Bond, dan sekarang mereka akhirnya berhasil benar-benar mendapatkannya buat mengisi lagu untuk proyek ini.
“Ketika melihat title sequence, ledakan, dan mendengar lagunya, rasanya benar-benar seperti, ‘Wow, kita sedang bikin game James Bond.’” ujar Laurine.

007 First Light sudah resmi dirilis dan bisa dimainkan di PlayStation 5, Xbox Series, dan PC. Nanti juga akan tersedia di Switch 2 pada Maret 2027. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post