Developer Easy Fox lagi menghadapi masalah yang cukup unik gara-gara demo game mereka, Teach My Little Sister How To Drive, tiba-tiba meledak. Jumlah pemain yang naik drastis bikin biaya penggunaan AI ikut melonjak sampai lebih dari $1.000 atau Rp17 Jutaan sehari, sampai tim developernya harus pinjam uang ke bank cuma buat menjaga demo tetap bisa dimainkan.
Sesuai namanya, Teach My Little Sister How To Drive adalah game simulator nyetir di mana pemain duduk di kursi penumpang dan harus ngajarin adik perempuan yang masih pemula buat nyetir, parkir, sampai menghindari berbagai rintangan. Semua instruksi diberikan cuma lewat suara, jadi pemain harus benar-benar ngomong langsung ke karakter tersebut.
Yang bikin gamenya menarik adalah penggunaan generative AI buat percakapan secara real-time. Karakter adiknya bisa merespons apa pun yang pemain bilang, baik lewat ucapan maupun aksi di dalam mobil seperti injak gas atau rem. Sistem ini mengandalkan layanan AI eksternal seperti Gemini dan ChatGPT buat mendengarkan suara pemain lalu menghasilkan respons.

Demo gamenya sebenarnya sudah tersedia sejak Februari, tapi baru belakangan ini popularitasnya benar-benar naik, terutama di kalangan streamer Jepang. Salah satu alasannya justru karena AI-nya sering salah nangkep instruksi dengan cara yang kacau, ditambah karakter sang adik yang kadang ngasih respons cukup pedas dan nggak terduga.
Dalam update pada 7 Oktober, Easy Fox bilang jumlah pemain demo naik lebih dari 20 kali lipat hanya dalam sebulan. Masalahnya, setiap percakapan pemain terus memakai token dari layanan AI tersebut, jadi lonjakan traffic langsung bikin tagihannya ikut meledak. Tim yang cuma berisi empat orang ini akhirnya sampai mengambil pinjaman bank buat menjaga demo tetap online. Mereka sekarang juga mempertimbangkan buat menutup demo lebih cepat dari rencana, meskipun keputusan akhirnya belum dibuat.
Buat versi penuh nanti, Easy Fox sedang mempertimbangkan beberapa solusi supaya biaya AI nggak terus membengkak. Salah satunya adalah menghadirkan model AI lokal sebagai opsi tambahan, sekaligus menyesuaikan harga game berdasarkan perkiraan biaya penggunaan AI. Jadi kasus ini cukup menunjukkan kalau game berbasis AI memang bisa menawarkan pengalaman unik, tapi biaya operasionalnya juga bisa jadi masalah besar kalau pemainnya tiba-tiba meledak.
Sumber: GameSpark
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post