Jujur saja kami sempat merasa khawatir sebelum mulai menonton serial ini. Season pertamanya sukses besar, dan mengulang kesuksesan seperti itu bukan perkara mudah. Studio Trigger sebenarnya bisa saja bermain aman dengan formula yang sama: anak jalanan yang berisik, cyberware militer yang gila-gilaan, lalu perjalanan singkat menuju kematian dramatis. Tapi David Martinez sudah melewati semua itu. Mati dengan cara yang spektakuler memang jalan keluar paling mudah.
Dalam Night City, hal yang benar-benar mengerikan justru adalah bertahan hidup. Bayangkan harus terus hidup cukup lama untuk menyaksikan kota ini menghancurkan hidupmu, merenggut semua orang yang kamu sayangi, lalu melanjutkan hidup seolah-olah kamu tidak pernah ada. Dari sinilah Edgerunners 2 menurut kami benar-benar berhasil memahami hal tersebut.
Showrunner Bartosz Sztybor dan Studio Trigger memperlakukan serial mandiri yang terdiri dari sepuluh episode ini sebagai awal yang baru. Season pertama hadir sebagai tontonan aksi penuh warna dengan gemerlap neon. Sebaliknya, episode-episode awal season kedua terasa sangat berbeda. Nuansanya lebih menyerupai drama kriminal kelam era 90-an yang tidak berusaha menutupi sisi buruk dan brutal dari kekerasan di dunia nyata.
Cerita dan Karakter
Episode pertama langsung membawa kita ke inti cerita. Kita diperkenalkan dengan Weak Kingsley, yang disuarakan oleh Clancy Brown dalam bahasa Inggris dan Kentaro Tone dalam bahasa Jepang. Dahulu, orang-orang di jalanan mengenalnya sebagai King, seorang tentara bayaran legendaris yang disegani. Tapi sebuah perampokan terhadap perusahaan Arasaka berakhir kacau dan membuatnya mengalami cyberpsychosis.
Asuransi medis Trauma Team Platinum berhasil menyelamatkan nyawanya, tetapi seluruh tabungannya habis untuk membayar biaya rumah sakit. Anggota tim lamanya kini sudah tewas atau membencinya. Lebih parah lagi, dokter terpaksa mencopot semua cyberware tempurnya agar otaknya tidak benar-benar terbakar akibat kerusakan yang dialaminya.
Kingsley terbangun dalam mimpi buruk yang sesungguhnya. Dalam Night City, tubuh manusia tanpa augmentasi membuat seseorang menjadi sasaran empuk. Kini, Kingsley hanyalah mantan petarung yang sudah kehilangan masa kejayaannya dan tidak lagi memiliki chrome untuk melindungi diri. Beberapa jarinya bahkan sudah tidak ada. Kaki palsu murah berbahan plastik yang digunakannya mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali melangkah.

Hari-harinya dihabiskan dengan minum sendirian sambil dihantui kenangan tentang mantan kekasihnya, Avida. Rasanya menyakitkan melihatnya kesulitan hanya untuk mengangkat segelas air dengan tangan palsunya yang kaku. Dia hanyalah veteran yang hancur, berusaha menemukan alasan untuk terus hidup alih-alih menembak kepalanya sendiri.
Kehidupan Kingsley yang semakin terpuruk kemudian mempertemukannya dengan tiga orang lain yang juga berjuang untuk bertahan hidup di jalanan. Pertama adalah Talia Yang yang disuarakan oleh Kimoy Lee dalam bahasa Inggris dan Akari Kito dalam bahasa Jepang. Sejak kecil, Talia menderita penyakit serius yang semakin parah setiap tahunnya dan perlahan-lahan menghancurkan tubuhnya.
Dia muak dengan kendali ketat ayahnya, Kiril Yang, seorang petinggi korporasi Kang Tao yang disuarakan oleh Daniel Wu dan Yasunori Matsumoto. Karena itu, Talia memutuskan kabur dari rumah. Kini dia bergaul dengan geng Maelstrom dan menjalani operasi ekstrem yang berbahaya untuk mengganti bagian-bagian tubuhnya. Dia membenci tubuh manusianya yang lemah dan ingin mengubah dirinya menjadi baja sepenuhnya.

Selanjutnya ada Roman Carax yang disuarakan oleh Valeria Rodriguez dan Momoka Terasawa. Roman adalah bocah berusia dua belas tahun yang selalu membawa kamera video genggam lawas. Kami sangat menyukai konsep karakter ini. Kehadiran anak berusia dua belas tahun di tengah mimpi buruk penuh darah ini kabarnya sempat menjadi bahan perdebatan di balik layar, tetapi keputusan tersebut terbukti berhasil. Roman terasa cocok berada di Night City karena kota ini tidak mengenal belas kasihan kepada siapa pun, bahkan kepada seorang anak yang hanya ingin membuat film menggunakan kamera lamanya. Hampir semua orang di Night City kecanduan brain feed dan unduhan Braindance yang membuat ketagihan.
Tapi Roman justru berkeliling dengan kamera video lawas demi mencari kehidupan yang nyata. Dia berburu film-film lama yang direkam dalam kaset video fisik. Dia ingin mengabadikan kenyataan manusia yang berantakan, bukan mimpi palsu. Saat perampokan Kingsley yang kacau di awal cerita berlangsung, kamera Roman tanpa sengaja merekam seluruh kejadian tersebut. Rekaman itu kemudian menghubungkannya dengan D, yang disuarakan oleh Nazeeh Tarsha dan Koki Uchiyama. D adalah netrunner nomaden pendiam dari Snake Nation. Dua tahun sebelumnya, para pembunuh yang didukung Arasaka memusnahkan seluruh klannya. Kini, dia bertekad membalas dendam.

Situasi semakin memanas ketika D mendapatkan sebuah biochip uji coba milik Arasaka yang dicuri dan langsung menanamkannya ke lehernya. Puluhan subjek uji coba manusia telah tewas saat mencoba menggunakan chip tersebut. D berhasil bertahan hidup setelah menanamkannya, tetapi kini dia harus berbagi pikirannya dengan Capri, yang disuarakan oleh Brittany Lauda dan Aoi Koga. Capri adalah sosok digital liar yang penuh gangguan, menganggap peretasan basis data militer dan pengambilalihan tubuh manusia layaknya sebuah permainan.
Pertemuan berbagai karakter ini sepanjang tiga episode pertama terasa sangat alami. Serial ini tidak memaksakan mereka untuk bergabung menjadi satu tim dengan cara yang canggung. Sebaliknya, alur ceritanya bergerak seperti film kriminal klasik. Setiap karakter hanya berusaha bertahan hidup atau menyelesaikan urusan lama. Tapi satu kesalahan bodoh di suatu sudut kota bisa berkembang menjadi bencana menyakitkan bagi orang lain di tempat berbeda.
Di balik baku tembak berdarah, cerita ini sebenarnya sangat peduli terhadap cara orang biasa menghadapi penderitaan dan kebenaran. Kita dipaksa melihat dampak nyata yang ditinggalkan oleh semua kekacauan tersebut terhadap kehidupan manusia. Ketika penderitaan pribadi ini berpadu dengan konflik antara Arasaka dan Kang Tao, muncul pertarungan sengit untuk memperebutkan kendali atas teknologi, ingatan, dan kebenaran. Tanpa membocorkan detail penting, beberapa peristiwa dalam serial ini juga berkaitan dengan karakter dari season pertama.
Style Visual
Sebagian besar pendekatan visual yang realistis dan terasa berat ini berasal dari sutradara Kai Ikarashi. Dia dipercaya memimpin serial ini setelah sebelumnya menyutradarai momen kehancuran Maine yang memilukan pada season pertama. Kali ini, Ikarashi membawa Studio Trigger menjauh dari aksi penuh warna yang serba cepat. Dia memilih memanfaatkan teriknya sinar matahari sebagai senjata artistik, alih-alih menyembunyikan semuanya dalam kegelapan.
Perubahan visual terbesar dalam serial ini disebut oleh para kreatornya sebagai “kerasnya cahaya”. Tapi bukan berarti seluruh cerita berlangsung di bawah terik matahari siang. Sebagian besar Edgerunners 2 tetap mengambil tempat di lokasi gelap dan menyesakkan, seperti arsip bawah tanah, bengkel modifikasi tubuh milik Maelstrom, ruang rumah sakit, laboratorium kriogenik, hingga kerusuhan malam hari yang diguyur hujan. Kekuatan pendekatan “kerasnya cahaya” justru terletak pada kontras visual yang dihasilkannya.

Kebanyakan cerita cyberpunk mengandalkan hujan gelap dan papan neon yang menyala untuk membangun suasana. Edgerunners 2 memilih pendekatan sebaliknya dengan menampilkan adegan paling berdarah dan menyakitkan tepat di bawah terik matahari. Menempatkan momen-momen aksi penting di siang bolong merupakan salah satu keputusan terbaik Studio Trigger dalam beberapa tahun terakhir. Night City biasanya menyembunyikan keburukannya di balik gemerlap lampu yang indah.
Kali ini, para kreatornya sengaja menampilkan momen-momen penting di bawah sinar matahari agar kekerasan yang terjadi tidak terlihat keren atau romantis. Contohnya adalah ketika cyberware milik King mengalami kerusakan di tempat terbuka pada episode pertama, serta saat Talia mengalami kehancuran emosional di depan umum, tepat di luar sebuah restoran, tanpa hujan dramatis atau bayangan neon yang memperindah suasana.

Saat berada bawah terik matahari, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Kekerasan terlihat jauh lebih mengerikan, cyberware berbahan logam tampak kotor dan berkarat, sementara kota ini terasa semakin kejam di bawah cahaya yang menyengat. Berkat adegan-adegan di siang hari tersebut, suasana di dalam ruangan maupun pada malam hari juga terasa sangat berbeda dari season pertama yang sebelumnya tampil jauh lebih stylish.
Gaya gambarnya sendiri terlihat kasar, tetapi jelas disengaja dan sangat efektif. Bersama tim animator muda, Ikarashi menghidupkan kembali tampilan anime klasik era 1990-an yang dipadukan dengan gaya komik Barat yang kelam. Hal ini paling terlihat dari teknik arsiran yang kasar serta garis luar karakter yang tebal dan tidak beraturan. Seperti biasa, Studio Trigger tetap menunjukkan kualitas animasi kelas atas. Setiap adegan terlihat memukau, bahkan ketika aksi berlangsung sangat cepat dan penuh kekacaun, dengan gerakan karakter yang tetap halus serta ekspresif.

Studio Trigger juga membuktikan kemampuannya lewat detail-detail kecil. Bahkan keringat dingin yang mengalir di wajah karakter yang ketakutan digambarkan dengan tekstur tebal yang membuat kita bisa merasakan ketegangan dalam situasi tersebut. Animasi ini terasa nyata, membuat para karakter dan dunianya terlihat jauh lebih meyakinkan dibandingkan anime pada umumnya.
Hal lain yang terus membuat kami terpukau adalah pertarungannya yang begitu brutal dan berdarah. Pada season pertama, sutradara Hiroyuki Imaishi menggunakan garis-garis kecepatan yang mencolok dan akrobat anime yang gila-gilaan. Tapi pertarungan di season kedua terasa lebih kejam dan sadis dibandingkan pertempuran anime fiksi ilmiah yang biasanya penuh gaya. Adegan-adegannya menghadirkan aksi jarak dekat yang cepat seperti dalam film John Wick.
Koreografi pertarungannya menggabungkan baku hantam langsung dengan tembakan dari jarak sangat dekat. Aksinya mengesampingkan gaya pertarungan anime yang mencolok demi kekerasan yang lebih praktis, dengan setiap gerakan ditujukan untuk membunuh. Tidak ada pose pertarungan anime yang berlebihan di sini, kecuali dalam adegan yang melibatkan Capri.
Musik dan Voice Acting
Musik dalam season kedua juga menghadirkan nuansa baru. Tsuneo Imahori, yang dikenal lewat musik gitar penuh energi dalam Trigun, kini mengambil alih soundtrack serial ini. Jika season pertama dipenuhi atmosfer elektronik gelap racikan Akira Yamaoka, Imahori justru mengambil arah yang sangat berbeda. Suara synthesizer hampir sepenuhnya menghilang. Sebagai gantinya, kita mendapatkan riff gitar rock, dentuman bass yang berat, serta momen-momen hening mendadak yang membuat setiap pukulan terasa lebih kuat.
Pilihan lagu berlisensinya juga sangat tepat. Setiap episode dibuka dengan lagu “10:15 Saturday Night” dari The Cure yang dirilis pada 1978. Sementara itu, setiap episode ditutup dengan “Watson” dari Petite Meller. Satu-satunya hal kecil yang sedikit mengganjal bagi kami adalah tidak adanya lagu yang langsung ikonis seperti “I Really Want to Stay at Your House” dari Rosa Walton. Lagu tersebut sudah begitu melekat dengan Edgerunners pertama, meskipun sebenarnya tidak pernah digunakan sebagai lagu pembuka maupun penutup resminya.
Kesimpulan

Jika kalian menonton Edgerunners 2 dengan harapan akan mendapatkan pengulangan sederhana dari kisah David Martinez, kalian mungkin akan terkejut. Cerita dalam episode-episode awalnya bergerak lebih lambat dan tidak terburu-buru. David dan Lucy berhasil memikat penonton melalui kisah romansa yang cepat dan penuh daya tarik. Tapi season baru ini meminta kita untuk bersabar mengikuti sekelompok orang yang sama-sama hancur saat perlahan-lahan jalan hidup mereka mulai bersinggungan. Ceritanya berfokus pada intrik politik antarkorporasi, rahasia berbahaya, serta perjuangan brutal sehari-hari dari orang-orang yang sudah didorong hingga batas kemampuan mereka.
Bagi kami, kesabaran inilah yang justru membuat season kedua menjadi sekuel yang sangat kuat. Menghancurkan mitos tentang edgerunner keren yang seolah tidak terkalahkan terasa jauh lebih efektif daripada sekadar mengulang apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Ceritanya memang menyakitkan, tetapi juga jujur dalam menggambarkan harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup di Night City. Studio Trigger dan CD Projekt Red benar-benar berhasil menciptakan sesuatu yang terasa lebih dari sekadar spin-off video game. Ini adalah kisah cyberpunk yang luar biasa dan layak mendapatkan perhatian penuh dari penontonnya.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
The Review
Cyberpunk Edgerunners 2
PROS
- Cerita berat penuh konsekuensi yang tidak seolah mengulangi formula Season 1
- Direksi Kai Ikarashi yang berani dan penggunaan kontras dengan hari cerah yang sangat cocok
- Para karakter utama yang sangat kuat dan terasa seperti orang asli
- Sisi aksi brutal tanpa adanya plot armor
- Pembawaan style visual dan kualitas animasi yang masih jempolan
CONS
- Pacing di porsi awal cerita yang lambat dan lebih berat di dialog, yang tentu bisa menguji kesabaran sebagian fans jika mengharapkan aksi non-stop













Discussion about this post