Pasar game penuh dengan game tembak-tembakan bergaya anime, tapi Fate Trigger berhasil mencuri perhatian dengan kombinasi yang cukup segar: hero shooter bercampur battle royale. Lewat closed beta yang baru saja dibuka, game garapan Saroasis Studios ini memperlihatkan potensi besar untuk jadi salah satu penantang baru di genre yang sudah padat.
Meski begitu, tidak semua bagiannya sudah sempurna. Ada beberapa hal yang bikin semangat, tapi juga tidak sedikit yang perlu diperbaiki sebelum benar-benar siap dirilis penuh. Kebetulan kami dapat kesempatan untuk nyobain tahap closed beta dari Fate Trigger. Seperti apa detailnya? Mari simak!
Dunia Unik dan Para Awakener yang Menawan

Di balik genre battle royale-nya, Fate Trigger punya latar dunia yang cukup menarik. Ceritanya membawa pemain ke dunia yang hancur karena bencana misterius bernama Paleblight. Dalam kekacauan itu, muncul para Awakener—pahlawan terpilih yang bertugas memulihkan keseimbangan dunia. Yang bikin dunia Fate Trigger terasa beda adalah peta yang terdiri dari pulau-pulau terapung di langit, dilindungi oleh sebuah bola raksasa misterius di angkasa.
Beta ini mengenalkan sepuluh Awakener: Huxley, Kira, Xiva, Nase, Ryoin, Cynric, Mindy, Eos, Soarwynne, dan Camille. Masing-masing punya gaya main unik dan kemampuan spesial yang membuat tiap pertempuran terasa berbeda.

Misalnya Nase bisa berubah jadi air saat hampir mati, sementara Kira bisa membangun perisai dan menara untuk pertahanan tim. Ada juga Mindy yang bisa ‘hack’ airdrop dan tarik langsung ke posisinya. Menariknya, semua karakter ini dibagi ke dalam empat peran utama: Assault, Support, Recon, dan Defender—tapi tidak benar-benar membatasi karena kemampuan mereka sangat fleksibel.
Awakener’s Trials – Gabungan Hero Shooter dan Battle Royale

Mod utama yang jadi andalan Fate Trigger adalah Awakener’s Trials. Di sinilah semua elemen unik game ini bertemu: karakter dengan kemampuan spesial, sistem looting khas battle royale, serta tempo permainan yang menggabungkan gaya PUBG dan taktik ala Overwatch. Setiap match menempatkan empat pemain dalam satu tim, diterjunkan ke peta besar bernama Helix Arena. Di sana, mereka harus cari senjata, armor, dan item lainnya sambil bertahan hidup hingga akhir.
Sensasi tembakannya cukup responsif. Saat membidik, pandangan otomatis berpindah ke first-person untuk presisi lebih tinggi. Gerakan pemain juga dibantu dengan fitur seperti zipline, kendaraan terbang, dan glider agar pertempuran tetap dinamis. Senjata yang tersedia juga cukup lengkap—dari assault rifle sampai sniper.

Yang paling penting, kemampuan masing-masing Awakener sangat krusial untuk strategi tim. Ultimate skill memang kuat, tapi cooldown-nya panjang, jadi harus dipakai di saat yang tepat. Sementara kemampuan biasa bisa jadi alat penting untuk membalikkan keadaan dalam duel tim.
Rapid Trials dan Team Deathmatch

Kalau tidak ingin main panjang-panjang, Rapid Trials bisa jadi pilihan menarik. Ini adalah versi lebih cepat dan intens dari battle royale biasa. Peta lebih kecil, zona aman mengecil lebih cepat, dan sistem armor upgrade-nya mirip seperti di Apex Legends. Jadi setiap detik benar-benar berarti. Anda harus cepat ambil keputusan, naikkan perlindungan, dan terus bergerak kalau tidak mau jadi korban pertama.

Selain itu, ada juga Team Deathmatch untuk yang lebih suka tembak-tembakan langsung. Mod ini mempertemukan dua tim dalam pertempuran cepat tanpa looting—semua senjata dan item sudah dipilih di awal. Sayangnya, mode ini terasa kurang menggigit. Semua kemampuan spesial karakter dinonaktifkan, jadi rasanya seperti main shooter biasa tanpa identitas khas Fate Trigger. Padahal, justru kemampuan itulah yang bikin game ini unik.
Masih Ada yang Perlu Dibenerin

Walaupun beta ini menunjukkan banyak potensi, tetap saja belum sempurna. Masalah utama ada di pergerakan karakter yang terasa lambat dan kaku. Ini membuat reaksi terhadap serangan jadi sulit. Akibatnya, banyak momen di mana pemain bisa mati tiba-tiba tanpa sempat berbuat apa-apa. Dalam kondisi ini, siapa yang menembak lebih dulu sering menang, bukan siapa yang lebih pintar bergerak.
Masalah ini juga bikin kendaraan jadi terlalu penting. Karena jadi satu-satunya cara buat gerak cepat sambil menembak, banyak pertempuran berakhir jadi kekacauan ala drive-by. Penambahan fitur gerakan seperti sliding, atau sekadar menambah kecepatan dasar karakter, bisa memperbaiki masalah ini. Selain itu, peta yang tersedia—Helix Arena dan Factory—terasa agak membosankan. Padahal dengan latar dunia penuh pulau terapung, seharusnya bisa lebih kreatif dan menarik.

Bug juga masih ada di mana-mana. Mulai dari susahnya mengambil loot dari musuh yang mati, glitch saat membidik dari kendaraan, hingga bug loadout di Team Deathmatch. Tidak terlalu parah, tapi tetap harus diperbaiki sebelum rilis final.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Fate Trigger sudah menunjukkan fondasi yang kuat. Gameplay-nya seru, variasi karakternya menyenangkan, dan pilihan modenya cukup beragam. Jika kamu suka game shooter bergaya anime dengan elemen strategi berbasis tim, game ini jelas layak masuk radar.
Yang paling menonjol tentu para Awakener—mereka benar-benar menjadi bintang utama. Tiap karakter punya gaya main dan kepribadian yang membuat tiap pertandingan terasa beda. Dengan cerita dunia yang unik dan ruang besar untuk ekspansi, Fate Trigger punya potensi besar buat tumbuh jadi IP besar di masa depan.
Asalkan pengembang bisa terus memperbaiki masalah teknis, menyempurnakan sistem pergerakan, dan menghadirkan lebih banyak konten kreatif seperti peta dan mode baru, tidak mustahil Fate Trigger bisa bersaing di tengah padatnya genre battle royale saat ini. Kita tunggu saja peluncuran penuhnya di Android, iOS, PC, PlayStation 5, dan Xbox Series. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post