Nama Yoshiki Okamoto mungkin sudah tidak asing di industri game. Ia dikenal sebagai produser Street Fighter II saat masih di Capcom. Baru-baru ini, Okamoto muncul di acara TV Jepang yang membahas kisah orang-orang yang pernah jatuh dan bangkit secara finansial, dan ia cukup terbuka soal bagaimana ia menghasilkan serta menghabiskan uangnya.
Okamoto sempat mengalami masa sulit sekitar 2011 ketika studio miliknya, Game Republic, bangkrut dan meninggalkan utang lebih dari 10 Juta USD atau 169 Miliar Rupiah. Studio tersebut memiliki lebih dari 300 karyawan dan kesulitan bertahan akibat minimnya game sukses serta masalah pembayaran dari mitra luar negeri. Kondisi itu membuatnya benar-benar terpuruk secara finansial.

Situasi berubah drastis pada 2013 ketika ia merilis game mobile Monster Strike bersama publisher Mixi. Game tersebut meledak di pasaran dan sempat menjadi game mobile dengan pendapatan tertinggi di dunia. Kesuksesan itu membuat Okamoto bangkit dan kini melalui perusahaannya, Deluxe Games, ia disebut bisa meraup jutaan dolar per tahun.
Namun yang paling mengejutkan bukan jumlah penghasilannya, melainkan cara ia membelanjakannya. Okamoto mengaku menghabiskan hingga 80 Juta Yen atau 8,7 Miliar Rupiah per akun di game gacha yang ia produksi sendiri. Jumlah tersebut bukan untuk gaya hidup mewah di dalam game, melainkan sebagai bagian dari pendekatan kerjanya.
Menurut Okamoto, ia sengaja mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk merasakan langsung pengalaman pemain kelas atas atau “high spender” atau para whale ini. Dengan begitu, ia bisa memahami perasaan mereka dan memastikan bahwa pemain yang menghabiskan banyak uang tidak merasa kecewa dengan sistem gacha atau hadiah yang didapat.

Ia juga menegaskan bahwa meski sebagai produser ia mungkin saja punya akses khusus atau “hak admin”, ia memilih untuk tidak menggunakannya. Baginya, kalau menggunakan jalur khusus, ia tidak akan benar-benar memahami pengalaman pemain. Di media sosial, ia menyebut dirinya hanya sedang bekerja dengan serius dan konsisten.
Kini, setelah melewati fase bangkrut hingga sukses besar, Okamoto bahkan disebut memiliki rumah besar di Malaysia dengan luas setara puluhan lapangan tenis. Kisahnya jadi contoh ekstrem bagaimana industri game, khususnya gacha, bisa membawa seseorang dari titik terendah ke puncak, sekaligus menunjukkan betapa seriusnya ia memahami pasar yang ia ciptakan sendiri.
Sumber: Sponichi Annex
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post