Sepuluh tahun sejak peluncurannya, Until Dawn masih dikenang sebagai salah satu game horor interaktif paling ikonis. Supermassive Games awalnya menghadapi keraguan dari Sony, namun justru berhasil membuktikan bahwa pendekatan berbasis sains dalam menciptakan ketakutan dan tidak hanya mengandalkan jump scares menjadikan game ini sukses secara mengejutkan.
Perubahan signifikan terjadi saat Until Dawn awalnya direncanakan sebagai game eksklusif PlayStation Move untuk PS3. Namun setelah beralih ke platform PS4, Supermassive mengubah gameplay menjadi pengalaman ala film interaktif, yang terinspirasi dari Heavy Rain. Pendekatan ini memudahkan pemain secara langsung merasa terlibat dengan alur cerita dan keputusan yang diambil, sekaligus memantik ketegangan yang intens.
Supermassive bahkan menggunakan teknologi galvanic skin response untuk mengukur respons ketakutan pemain secara real time selama pengujian. Daripada mengandalkan jump scares, mereka menciptakan ketegangan mencekam melalui rasa takut yang perlahan naik, mereka menyebutnya sebagai “the dread of an unseen threat” atau “ketakutan terhadap ancaman yang tak terlihat”.
Eksperimen ini membuahkan hasil. Supermassive berhasil memukau Sony yang awalnya skeptis, dan Until Dawn mencetak sukses sebagai sleeper hit. Game ini menjadi yang terlaris kedua di Inggris, masuk tujuh besar di AS, dan menjadi game paling banyak dibicarakan di YouTube saat itu. Ini membuktikan bahwa pendekatan inovatif mereka mampu memikat para gamers.
Warisan Until Dawn tidak berhenti di situ. Supermassive melanjutkan dengan game spin-off VR seperti Until Dawn: Rush of Blood dan The Inpatient, serta menciptakan The Quarry (2022) yang berakar dari fondasi dan gaya interaktif Until Dawn. Kesuksesan ini membuka jalur baru bagi genre horor interaktif modern. Info lanjut tentang studio keren ini bisa diakses DI SINI.
Sumber: Eurogamer
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id











Discussion about this post