Setelah sekitar tiga jam main game ini, rasanya sudah cukup jelas kalau Island of Hearts bakal jadi game yang sangat memecah pendapat. Ada yang bakal jatuh cinta banget, tapi tidak sedikit juga yang mungkin langsung ilfeel dari awal. Ini bukan sekadar Full Motion Video dating simulation biasa. Game ini mencoba sesuatu yang beda dengan menjadikan KOL sebagai karakter utama.
Karena konsep itu, kualitas aktingnya jadi terasa tidak konsisten. Ada yang natural dan enak ditonton, tapi ada juga yang terasa kaku sampai bikin momen tertentu jadi agak canggung. Secara keseluruhan, vibe-nya lebih terasa seperti game fan-service buat penggemar mereka, bukan sesuatu yang benar-benar dirancang untuk pasar luas. Seperti apa detailnya? Simak review kami!
Gameplay & Cerita yang Santai Banget

Dari sisi gameplay dan cerita, semuanya dibuat simpel. Tidak ribet, tidak berat. Ceritanya tentang seseorang yang kabur dari hubungan yang gagal lalu pergi ke sebuah pulau, di mana dia bertemu enam wanita dengan kepribadian dan rahasia masing-masing.
Pengalaman bermainnya terasa ringan dan santai. Cocok buat sesi main tanpa mikir berat. Tapi bukan berarti pilihan tidak penting. Ada lebih dari 13 ending dan beberapa storyline tersembunyi tergantung bagaimana pemain menjalani hubungan di dalam game. Ini yang bikin ada nilai replay.
Namun, game ini terasa sangat sadar siapa targetnya. Kalau sudah familiar dengan para KOL yang ada di dalamnya, pengalaman bermainnya bakal terasa jauh lebih menarik dibanding pemain yang benar-benar baru.
Cerita Menarik di Awal, Tapi Kurang Dalam

Secara konsep, ceritanya sebenarnya cukup menjual. Premisnya sederhana dan gampang diikuti: move on dari putus cinta, datang ke pulau tropis, ketemu enam cewek, lalu jalani romansa.
Masalahnya, kesederhanaan ini justru jadi kelemahan terbesar. Penulisan ceritanya sering terasa terlalu dangkal, bahkan cenderung kekanak-kanakan. Emosi yang seharusnya bisa digali lebih dalam malah terasa seperti disederhanakan supaya tetap ringan.
Momen romantisnya memang terlihat menarik secara visual, tapi jarang terasa punya bobot emosional. Hubungannya terasa cepat, kurang build-up, dan lebih seperti rangkaian interaksi flirting daripada hubungan yang benar-benar berkembang. Kalau berharap kisah cinta yang bikin benar-benar terikat secara emosional, kemungkinan besar bakal terasa kurang puas.
Karakter yang Jadi Daya Tarik Utama

Enam karakter wanita di game ini jelas jadi pusat perhatian. Masing-masing punya vibe berbeda, mulai dari yang rebel sampai yang pemalu. Secara konsep, variasinya cukup menarik dan bisa menjangkau berbagai selera pemain.
Karena ini game berbasis KOL, karakter-karakternya terasa sangat dekat dengan persona asli mereka. Buat yang sudah follow, ini jadi nilai plus. Tapi buat yang tidak familiar, kadang terasa agak blur antara karakter dan sosok aslinya.

Aktingnya sendiri campur aduk. Ada yang terasa hidup dan charming, tapi ada juga yang terasa kaku. Interaksi dengan karakter cukup menarik karena pilihan dialog terasa berpengaruh, mulai dari yang manis sampai yang cukup berani. Beberapa momen bahkan terasa cukup intens dan bikin suasana berubah.
Mini Game yang Niat, Tapi Bermasalah

Salah satu hal yang cukup diapresiasi adalah keberadaan mini game. Dibanding FMV lain yang cenderung pasif, game ini mencoba kasih variasi gameplay. Sayangnya, eksekusinya tidak selalu berhasil. Beberapa mini game memang seru, tapi banyak juga yang terasa seperti filler. Masalah terbesar ada di timing input yang terasa tidak konsisten. Kadang sudah merasa menekan di waktu yang tepat, tapi game tetap menganggap gagal.

Hal ini jadi makin menyebalkan ketika mini game tersebut wajib diselesaikan untuk lanjut cerita. Alhasil, momen yang seharusnya fun malah berubah jadi repetitif dan melelahkan. Menurut kami ini cukup penting untuk sebuah game yang akan dimainkan berulang-ulang.
Lebih parah lagi, tidak ada tutorial yang jelas. Tidak ada contoh, tidak ada penjelasan, langsung dilempar ke mekanik baru. Untuk game yang harusnya kasual, ini terasa seperti keputusan desain yang cukup aneh dan mengganggu flow.
Replay Value yang Ada, Tapi Kurang Maksimal

Dengan lebih dari 13 ending, jelas game ini mendorong pemain untuk replay. Dan memang, keinginan untuk mencoba jalur berbeda itu ada. Game ini juga kasih fitur skip untuk dialog yang sudah pernah dilihat, jadi tidak perlu ulang dari nol sepenuhnya. Ini cukup membantu.
Namun, di luar itu, sistem replay terasa kurang matang. Tidak ada chapter select, tidak ada scene gallery, dan tidak ada cara untuk lompat ke bagian tertentu. Setiap playthrough terasa seperti mulai dari awal lagi.
Kalau ingin melihat semua ending, mau tidak mau harus menjalani playthrough penuh berulang kali. Untuk game yang mengandalkan branching story, ini terasa seperti peluang yang terlewat.
Kesimpulan

Island of Hearts adalah percobaan yang cukup berani untuk membawa genre FMV dating sim ke arah yang lebih segar dengan menghadirkan KOL sebagai pusatnya. Untuk penggemar mereka, jelas ada banyak hal yang bisa dinikmati.
Cerita yang santai, karakter yang variatif, dan banyaknya ending bikin game ini tetap punya daya tarik untuk dimainkan ulang, meskipun perjalanan ke sana tidak selalu mulus.
Sayangnya, banyak hal yang mengurangi potensinya. Mulai dari mini game yang bermasalah, tidak adanya tutorial yang jelas, sampai sistem replay yang kurang fleksibel. Ceritanya juga terasa kurang dalam, dan romansa yang ada lebih terasa seperti interaksi cepat daripada hubungan yang berkembang.
Dan soal fan service, game ini terasa terlalu berlebihan. Bukannya menambah daya tarik, justru kadang terasa seperti dipaksakan. Momen yang seharusnya spesial jadi kehilangan impact karena terlalu sering dan terlalu eksplisit.
Kalau memang sudah follow para KOL yang ada di sini dan cuma ingin pengalaman santai tanpa komitmen, game ini masih bisa dinikmati. Tapi kalau berharap sesuatu yang lebih dalam dan polished, kemungkinan besar bakal terasa kurang.
Island of Hearts bisa kamu mainkan di PC melalui Steam. Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post