Akhirnya kami dapat kesempatan buat nyobain langsung Alpha Test global Honor of Kings: World, game open-world terbaru dari TiMi Studio Group dan Tencent yang belakangan memang lagi ramai dibahas gamer. Setelah cukup lama jadi misteri soal bakal seperti apa bentuk finalnya, sekarang mulai kelihatan jelas kalau game ini jauh lebih ambisius dibanding sekadar versi open-world dari Honor of Kings biasa.
Dari combat, eksplorasi, sampai sistem monetisasinya, semuanya terasa punya pendekatan yang cukup berbeda dari ekspektasi awal banyak pemain. Dan setelah nyobain langsung build Alpha Test versi globalnya, ada cukup banyak hal menarik yang bikin game ini mulai terasa menjanjikan sebagai action RPG open-world skala besar berikutnya.
Sistem Monetisasi yang Ternyata Cukup Fair

Hal pertama yang paling bikin penasaran banyak orang tentu saja soal sistem monetisasinya. Dari pengalaman selama nyobain Alpha Test saat ini, pendekatan monetisasi di Honor of Kings: World terasa cukup beda dibanding mayoritas game gacha lain. Alih-alih fokus ke sistem pull karakter dan constellation seperti RPG mobile pada umumnya, game ini justru lebih condong ke model monetisasi berbasis kosmetik mirip Where Winds Meet.

Sistem progres utama seperti hero, level, skill tree, talent resonance, sampai gear semuanya bisa didapat lewat gameplay normal tanpa biaya apa pun, tanpa paywall, dan tanpa shortcut berbayar. Bahkan sistem gachanya sendiri sejauh ini lebih difokuskan untuk item kosmetik.

Memang ada beberapa hero yang perlu dibuka lewat Battle Pass, tapi karakter tersebut nantinya juga bakal masuk ke shop dalam game dan bisa dibeli menggunakan mata uang in-game. Yang dimaksud di sini jelas currency hasil bermain, bukan currency premium berbayar.
Karena itu, untuk sekarang kelihatannya fokus monetisasi utama game ini memang masih berkutat di kosmetik saja, dan jujur ini terasa cukup menyegarkan buat ukuran game sebesar ini.
Sistem Combat yang Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu fitur paling menarik di Honor of Kings: World adalah bagaimana hero-hero ikonik dari Honor of Kings tidak hadir sebagai karakter playable tradisional. Sebagai gantinya, mereka diubah menjadi modul skill bernama “Flow Style”. Player tetap mengontrol satu karakter utama, tapi bisa memasang dua Flow Style berbeda dari dua hero berbeda sekaligus dan menggantinya secara real-time saat combat berlangsung.
Setiap Flow Style punya mekanik skill dan ritme pertarungan yang benar-benar berbeda. Bukan cuma itu, dua modul yang dipakai juga bisa saling bersinergi dan menciptakan kombinasi build yang ternyata cukup luas.

Mau fokus burst damage, area control, utility, sampai setup berbasis pull musuh semuanya bisa dibentuk dari kombinasi hero yang berbeda. Selama sesi hands-on ini, ada sekitar tujuh tipe Flow Style yang dicoba dan semuanya terasa punya identitas masing-masing, bukan sekadar reskin moveset yang sama.
Secara keseluruhan, struktur combat Honor of Kings: World terasa seperti action ARPG modern. Kontrol dasarnya terdiri dari basic attack dan tiga skill utama, ditambah mekanik switching Flow Style serta ultimate yang membutuhkan pengisian energi sebelum bisa dipakai.
Selain itu, tergantung desain masing-masing hero, game ini juga memasukkan mekanik action game umum seperti parry, block, sampai perfect dodge counterattack. Sistemnya memang cukup gampang dipelajari di awal, tapi untuk bisa bermain benar-benar mulus dan efektif tetap butuh adaptasi terhadap ritme combat dan sistem sinerginya.

Setiap hero juga punya sistem energi unik masing-masing. Contohnya Mengya yang bisa mengumpulkan energi untuk mengeluarkan serangan burst area besar, sementara Shye menggunakan “Phantom Silk” untuk menarik musuh dan memicu chain healing lewat basic attack. Jadi setiap karakter benar-benar punya ritme bertarung sendiri, bukan variasi template yang terasa mirip-mirip. Di build Alpha Test ini sendiri, sekitar tujuh tipe Flow Style yang dicoba semuanya terasa punya identitas mekanik yang jelas.
Selain itu, game ini juga punya sistem sinergi dual-hero. Dalam pertarungan boss, timing pergantian antar Flow Style ternyata sangat berpengaruh terhadap alur combat. Dan tentu saja, sebagus apa combat-nya memang baru benar-benar bisa dirasakan saat dimainkan langsung karena sensasinya cukup beda dibanding cuma nonton gameplay.

Hal lain yang cukup menarik adalah sistem stagger saat combat. Ketika menyerang musuh, bar stagger mereka bakal terus terisi dan begitu penuh, musuh akan masuk kondisi stagger selama beberapa saat. Dalam momen itu player didorong untuk menghasilkan damage sebanyak mungkin karena setelah mencapai threshold tertentu, bakal muncul execution attack dengan damage besar. Besarnya damage execution ini kelihatannya tergantung dari seberapa banyak damage yang berhasil diberikan selama fase stagger tadi.
Yang cukup keren, saat sequence execution berlangsung game juga menampilkan sistem ranking seperti S, A, B, dan C lengkap dengan indikator persentase damage execution yang bakal keluar berdasarkan performa player selama fase stagger berlangsung.
Hero Familiar dengan Gameplay yang Dirombak Total

Hero-hero di Honor of Kings: World mayoritas adalah wajah-wajah familiar yang pasti langsung dikenali pemain Honor of Kings, mulai dari Shye (Shi), Novar (Yao), Sun Bin, Mengya, Li Bai, Wang Zhaojun, dan masih banyak lagi. Semua karakter ini bisa didapat secara gratis lewat daily mission, event terbatas, academy sign-in, sampai achievement story tanpa sistem gacha sama sekali.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, rasa familiar itu bukan cuma hadir lewat desain visual dan identitas karakternya saja, tapi juga masih terasa dari gaya skill mereka. Contohnya Shye yang menjadi salah satu hero awal yang bisa didapat pemain. Flow Style miliknya berfokus pada peluncuran orb, menarik musuh, dan memicu ledakan. Walaupun konsep dasarnya masih mengingatkan pada skill kit versi original di Honor of Kings, implementasi dan desain sistemnya dirombak cukup besar.

Meski begitu, perlu dicatat kalau seluruh skill kit hero dari Honor of Kings memang sudah didesain ulang total supaya cocok dengan struktur gameplay baru di game ini. Jadi bahkan pemain veteran sekalipun tetap harus belajar ulang cara memainkan hero favorit mereka. Perubahan ini memang bikin pengalaman terasa fresh, tapi di sisi lain pemain juga perlu waktu untuk membiasakan diri dengan versi baru karakter yang sudah sangat familiar.
Open-World Besar dengan Banyak Aktivitas

Map di Honor of Kings: World hadir dalam format seamless open-world. Dimulai dari area Jixia Academy, setiap region saling terhubung tanpa loading screen. Memang developer belum memberikan ukuran pasti map-nya, tapi dari yang diperlihatkan sejauh ini skalanya jelas sangat besar.

Dunia gamenya juga dipenuhi banyak collectible seperti World Boss, Invisible Path Challenge, treasure chest, dan berbagai titik eksplorasi berbasis puzzle. Buat pemain tipe completionist yang suka menyelesaikan semuanya sampai 100 persen, game ini jelas punya sangat banyak aktivitas yang bisa dihabiskan. Dan banyak di sini benar-benar banyak.

Untuk konten misi sendiri ada main story quest dan side quest dengan kedalaman cerita yang cukup solid, bahkan nuansanya sedikit mengingatkan pada world quest di Genshin Impact. Volume kontennya sejauh ini benar-benar terasa besar dan cukup mengesankan untuk ukuran Alpha Test.
Kesimpulan Alpha Test
Pada akhirnya, Honor of Kings: World terasa seperti game yang bisa bikin fans lama merasa excited sekaligus sedikit kaget di waktu bersamaan. Excited karena semua hero familiar favorit mereka tetap hadir dan dunia yang dibangun di sini memang terasa ambisius baik dari sisi skala maupun detailnya.

Tapi di sisi lain juga cukup mengejutkan karena ini bukan lagi Honor of Kings seperti yang selama ini dikenal pemain. Game ini sekarang adalah full open-world ARPG, dan perbedaan itu penting banget untuk dipahami sebelum masuk bermain supaya ekspektasi tidak salah dari awal.
Kabar baiknya, pendekatan monetisasi game ini sejauh ini terasa cukup fair untuk ukuran game sebesar ini. Hero bisa didapat lewat gameplay, progres inti tidak dikunci paywall, dan sistem gacha hanya berfokus ke kosmetik. Pemain free-to-play benar-benar masih bisa menikmati seluruh isi game tanpa harus mengeluarkan uang sama sekali.

Meski begitu, perlu diingat juga kalau semua pembahasan ini masih berdasarkan versi Alpha Test. Angka balancing, skill kit hero, ketersediaan konten, sampai detail monetisasi semuanya masih bisa berubah sebelum perilisan resmi nanti. Apa yang dicoba saat ini baru sekadar gambaran awal dari potensi penuh game tersebut, dan jujur saja pengalaman ini malah bikin semakin penasaran ingin melihat versi finalnya nanti.
Lima tahun masa pengembangan memang terasa cukup terlihat di sini. Usaha dari Tencent dan TiMi Studio Group juga cukup terasa dari kualitas pondasi yang sudah dibangun. Memang masih ada beberapa bagian yang terasa kasar dan butuh polesan lebih lanjut, tapi sebagai debut open-world dari salah satu IP gaming terbesar asal China, fondasi Honor of Kings: World sejauh ini terlihat benar-benar solid.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post