Indiana Jones and the Great Circle termasuk salah satu game yang awalnya terasa mustahil buat jalan mulus di Nintendo Switch 2. Apalagi versi PC dan Xbox Series X tampil dengan visual modern dan performa yang benar-benar berat. Jadi waktu versi Switch 2 diumumin, banyak yang langsung penasaran seberapa besar kompromi yang harus dilakukan.
Setelah dicoba langsung, ternyata hasilnya masih cukup solid. Memang ada penurunan di beberapa sisi, tapi nuansa petualangan khas Indiana Jones tetap terasa seru, mulai dari eksplorasi makam kuno sampai puzzle ala film klasik yang jadi daya tarik utamanya. Seperti apa detailnya? Mari simak artikelnya!
Petualangan Indiana Jones yang Tetap Seru di Mode Handheld

Di PC dan Xbox Series X, Indiana Jones and the Great Circle langsung kelihatan seperti game yang memang dibangun buat jadi pameran teknologi. Pencahayaan ray tracing global illumination bikin semua lokasi terasa sinematik banget, mulai dari reruntuhan Mesir yang kepanasan sampai lorong Vatican yang cuma diterangi cahaya lilin di malam hari. Detail karakter juga terlihat tajam, ditambah performa 60fps yang mulus sepanjang permainan. Di platform aslinya, game ini benar-benar terasa tanpa kompromi.

Makanya waktu versi Nintendo Switch 2 diumumin, banyak yang langsung ragu. Hardware Switch 2 jelas beda kelas dibanding Xbox Series X, dan biasanya kalau game open-world generasi sekarang dipaksa masuk ke handheld hybrid, pasti ada banyak hal yang harus dikorbanin. Pertanyaan utamanya bukan soal apakah port ini bisa jalan atau tidak, tapi lebih ke seberapa banyak kualitas aslinya yang masih bisa dipertahankan setelah dipindah ke Switch 2.
Dan ternyata hasilnya lebih bagus dari yang diperkirakan banyak orang. Walaupun memang tetap ada beberapa kompromi yang cukup terasa.
Cerita Klasik Indiana Jones yang Masih Kuat

Buat yang baru mau main, The Great Circle mengambil setting waktu di antara Raiders of the Lost Ark dan The Last Crusade. Ceritanya mengikuti Indiana Jones yang sedang menyelidiki sebuah kelompok misterius kuno yang punya hubungan dengan sejarah awal agama Kristen. Petualangannya membawa pemain ke Mesir, Vatican City, hutan Sukhothai, dan berbagai lokasi lain yang langsung terasa seperti ciri khas franchise Indiana Jones.
Gameplay-nya sendiri berisi area semi open-world yang cukup besar, penuh dengan misi utama, side quest, sampai puzzle tersembunyi. Fokus utamanya bukan tembak-tembakan brutal, tapi lebih ke stealth, improvisasi, dan cara berpikir kreatif. Indiana Jones di sini memang terasa seperti arkeolog yang pakai cambuk, bukan tentara perang.

Tempo permainan juga cukup santai dan penuh eksplorasi. Banyak bagian puzzle ala dungeon yang jadi pusat pengalaman bermain, bahkan kadang terasa lebih mirip Zelda dibanding game action adventure biasa. Sampai sekarang, ini masih jadi salah satu adaptasi Indiana Jones paling setia yang pernah dibuat, dan kualitas itu tetap terasa walaupun dimainkan di Nintendo Switch 2.
Visual Masih Bertahan, Walaupun Turun Kelas

Sebelum main, kebanyakan pemain pasti sudah menurunkan ekspektasi soal kualitas visualnya. Dan memang benar, versi Switch 2 jelas tidak bisa menyamai PC atau Xbox Series X. Tapi di luar dugaan, hasil akhirnya tetap cukup solid. Ini bukan port ajaib yang bikin semua orang melongo, tapi lebih ke port yang pintar dalam memilih kompromi.
Hal paling menarik adalah ray-traced global illumination ternyata masih dipertahankan di versi ini. Implementasinya juga cukup bersih. Efek pencahayaan tetap terasa natural dan atmosfer lokasi-lokasinya masih berhasil dipertahankan dengan baik. Nuansa petualangan khas Indiana Jones masih terasa kuat karena pencahayaannya tetap hidup.

Untuk kualitas karakter memang ada penurunan dibanding versi console dan PC. Detail wajah terlihat lebih lembut dan tidak setajam versi lain, walaupun model dasarnya sebenarnya masih sama. Menariknya, animasi wajah di game original memang dari awal sudah terasa agak kaku, dan itu masih terjadi di Switch 2. Tapi karena resolusinya lebih lembut di 720p, kekakuan itu justru sedikit tersamarkan. Jadi anehnya, downgrade visual di area ini malah sedikit membantu.
Kualitas lingkungan secara keseluruhan masih cukup oke. Pepohonan, padang pasir, sampai area bersalju tetap terlihat layak dan tidak langsung hancur saat dilihat sekilas. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, keterbatasannya mulai kelihatan. Texture karakter dan lingkungan mengalami kompresi yang cukup jelas dibanding versi high-end. Bentuk besarnya memang masih ada, tapi detail-detail kecilnya tidak tahan kalau dilihat terlalu dekat. Main dari jarak nyaman masih terasa bagus, tapi kalau diperhatikan detailnya, kualitas rendahnya mulai kelihatan jelas.
Performa Stabil Cuy

Versi Switch 2 berjalan di 30fps lock baik dalam mode docked maupun handheld, turun dari 60fps di PC dan Xbox. Untungnya, buat game seperti The Great Circle yang fokus ke eksplorasi, puzzle, dan observasi, penurunan ini tidak terlalu menyakitkan. Game-nya jarang butuh reaksi super cepat atau input presisi tinggi, jadi 30fps masih terasa cukup nyaman buat pengalaman bermainnya.
Secara umum performanya cukup stabil. Adegan kejar-kejaran maupun pertarungan jarak dekat tetap berjalan lancar tanpa stutter besar yang mengganggu. Frame rate juga jarang terasa drop parah di momen penting.
Walaupun begitu, ada dua masalah yang cukup menonjol. Pertama adalah stutter saat autosave aktif. Game ini cukup sering melakukan save otomatis, dan setiap autosave muncul akan ada freeze singkat yang cukup terasa. Karena game berjalan di 30fps, gangguan kecil seperti ini jadi lebih gampang kelihatan dibanding di 60fps. Dan karena autosave muncul cukup sering, lama-lama pemain pasti sadar pola gangguannya.

Masalah kedua ada di texture resolusi rendah pada beberapa objek close-up, terutama benda yang menampilkan tulisan atau gambar. Saat kamera fokus dekat ke objek seperti ini, blur-nya cukup parah sampai bisa merusak suasana adegan.
Loading asset dengan detail rendah dari kejauhan juga masih ada, lalu perlahan membaik saat pemain mendekat. Tapi ini sebenarnya sudah sangat umum buat port game sebesar ini jadi tidak terlalu mengejutkan. Jumlah NPC juga sedikit dikurangi, walaupun di area luas pengurangannya tidak terlalu terasa.
Ada satu catatan penting soal audio. Dynamic range audio game ini sebenarnya bagus kalau dimainkan pakai headphone, tapi kurang cocok buat speaker bawaan Switch 2. Dialog yang datang dari kejauhan kadang jadi terlalu pelan saat dimainkan di mode handheld, dan positioning suara juga terasa kurang jelas tanpa earphone. Ini lebih terasa seperti keterbatasan speaker hardware dibanding masalah mixing audio, tapi tetap penting buat diketahui sebelum main lama tanpa headphone.
Kesimpulan

Indiana Jones and the Great Circle di Nintendo Switch 2 bisa dibilang port yang cukup berhasil mempertahankan fondasi utamanya. Frame rate stabil, pengalaman inti masih utuh, dan kompromi teknisnya dikelola dengan cukup baik supaya game tetap nyaman dimainkan. Untuk ukuran port game generasi sekarang ke handheld hybrid, hasilnya sebenarnya sudah melewati ekspektasi dasar.
Tapi tetap harus jujur juga soal konteksnya. The Great Circle memang dibuat untuk dimainkan di 60fps dengan kualitas visual penuh generasi sekarang. Pemandangan gurun luas, suasana makam kuno yang gelap, sampai detail kecil dunia gamenya memang terasa lebih hidup di platform yang lebih kuat. Sebagian pengalaman itu memang hilang di Switch 2.
Versi Switch 2 ini tetap kompeten, tapi jelas bukan versi terbaik kalau pemain punya pilihan lain. Buat yang punya PC atau console generasi sekarang, kemungkinan besar versi itulah yang tetap lebih direkomendasikan.
Tapi buat pemilik Nintendo Switch 2 yang tidak punya alternatif lain, port ini masih cukup bagus untuk dinikmati. Hanya saja jangan berharap visualnya bisa memberikan efek yang sama megahnya seperti di platform tempat game ini memang dirancang dari awal.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
The Review
Indiana Jones and the Great Circle - Switch 2
PROS
- Ray tracing global illumination masih dipertahankan dan hasil pencahayaannya tetap bagus.
- 30fps lock cukup stabil sepanjang permainan.
- Cerita, struktur gameplay, dan atmosfer petualangannya tetap utuh.
- Gyro, mouse control, dan HD Rumble diimplementasikan dengan baik.
CONS
- Stutter saat autosave cukup sering muncul dan lumayan mengganggu flow permainan.
- Texture terlihat kasar kalau diperhatikan terlalu dekat.
- Speaker bawaan Switch 2 kurang maksimal buat audio game yang dynamic range-nya lebar.












Discussion about this post