Salah satu daya tarik terbesar Silo Season 3 adalah hadirnya kisah baru yang berpusat pada Helen dan Daniel. Di tengah misteri besar yang terus berkembang, hubungan kedua karakter ini justru menghadirkan sudut pandang yang lebih personal, membahas kepercayaan, trauma, memori, hingga bagaimana seseorang bisa tetap mempertahankan harapan ketika kebenaran terus dimanipulasi.
Dalam sesi wawancara, Jessica Henwick yang memerankan Helen dan Ashley Zukerman sebagai Daniel membahas banyak hal di balik karakter mereka. Mulai dari inspirasi cerita yang terasa sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini, proses membangun chemistry yang berkembang secara perlahan, hingga pesan besar yang ingin disampaikan Silo lewat tema memori dan identitas.

Thriller Konspirasi yang Terasa Sangat Dekat dengan Dunia Nyata
Kalau melihat alur Daniel dan Helen, banyak yang langsung mengaitkannya dengan film thriller konspirasi era 1970-an seperti The Parallax View atau Three Days of the Condor. Namun menariknya, kisah mereka justru terasa sangat modern karena berbicara tentang dunia di mana kebenaran bisa dimanipulasi dan persepsi publik dapat dibentuk sesuka hati.
Jessica Henwick mengaku setuju dengan pandangan tersebut. Menurutnya, pembacaan itu memang sangat tepat terhadap cerita yang sedang dibangun. Ashley Zukerman pun memiliki pendapat serupa. Menurut sang aktor, Hugh Howey memang menulis novel Silo dengan latar yang terasa seperti masa sekarang agar bisa membahas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat modern. Seperti yang ia jelaskan, “Hugh Howey wrote books definitely set right now so that he could discuss exactly what you’re talking about.”
Dengan kata lain, meski Silo mengambil latar dunia fiksi, isu yang diangkat justru sangat dekat dengan kehidupan nyata. Informasi yang dipelintir, kebenaran yang diperebutkan, hingga bagaimana masyarakat bisa diarahkan untuk mempercayai narasi tertentu menjadi tema yang semakin relevan saat ini.
Hubungan Helen dan Daniel Dibangun Perlahan, Bukan Romansa Instan
Salah satu aspek yang cukup menarik perhatian di Season 3 adalah hubungan Helen dan Daniel. Awalnya mereka saling mencurigai, tetapi perlahan berkembang menjadi hubungan yang jauh lebih dalam. Menurut Jessica Henwick, perubahan itu muncul karena Helen sebenarnya terbiasa mengotak-ngotakkan orang.
Ia menjelaskan bahwa Helen selalu merasa bisa membaca seseorang hanya dari latar belakang mereka. Saat pertama kali bertemu Daniel di Season 2, Helen langsung menganggap dirinya sudah mengetahui tipe seperti apa pria tersebut hanya karena statusnya sebagai seorang politikus.
Namun asumsi itu langsung runtuh ketika Daniel memberikan kejutan kecil yang tidak ia duga. Sejak saat itu, setiap kali Helen merasa sudah memahami Daniel, pria tersebut selalu berhasil menunjukkan sisi lain yang sama sekali berbeda.
Menurut Jessica, itulah yang membuat hubungan mereka berkembang. Helen akhirnya bertemu seseorang yang benar-benar mampu menantangnya secara intelektual maupun emosional. Ia bahkan menyebut bahwa Daniel adalah sosok yang bisa “go toe-to-toe with her”, sesuatu yang sangat jarang dialami Helen sepanjang hidupnya. Bagi Jessica, pasangan yang baik memang seharusnya saling menantang untuk berkembang.
Ashley Zukerman juga menambahkan bahwa mereka sengaja membangun hubungan ini secara perlahan. Meski sejak awal sudah ada koneksi yang kuat di antara keduanya, mereka tidak ingin penonton merasa hubungan tersebut dipaksakan atau berjalan terlalu cepat.
Menurut Ashley, mereka selalu berusaha menahan perkembangan hubungan itu selama mungkin agar terasa alami. Sama seperti kehidupan nyata, seseorang bisa saja merasakan ketertarikan kepada orang lain, tetapi berbagai keraguan, logika, dan konflik batin sering kali membuat seseorang tidak langsung bertindak.
Jessica memiliki pendekatan yang sama saat memerankan Helen. Menurutnya, seorang aktor tidak boleh memainkan akhir cerita sejak awal. Meski mengetahui bahwa kedua karakter nantinya akan semakin dekat, Helen tetap harus bersikap seperti orang yang rasional. Ia terus berusaha mengecilkan perasaannya sendiri dengan berpikir bahwa semua yang terjadi hanyalah akibat situasi tertentu, bukan sesuatu yang benar-benar nyata.

Helen yang Selalu Mengutamakan Karier Akhirnya Mulai Berubah
Helen digambarkan sebagai sosok yang sangat percaya diri terhadap keyakinannya dan selalu mendahulukan pekerjaan dibanding kehidupan pribadi. Menariknya, kehadiran Daniel mulai menggoyahkan cara pandang tersebut. Jessica Henwick menjelaskan bahwa keduanya sebenarnya memiliki kesamaan mendasar. Menurutnya, orang-orang yang merasa kesepian sering kali dapat langsung mengenali sesama orang yang juga hidup dalam kesepian.
Ia menyebut bahwa chemistry seperti itu sulit dijelaskan secara logis. Perasaan tersebut memang bisa langsung muncul atau bahkan tidak muncul sama sekali. Helen sendiri sebenarnya menyadari koneksi itu sejak awal, tetapi justru berusaha melawannya.
Menurut Jessica, sepanjang delapan episode Season 3, Helen sama sekali tidak pernah berniat menjalin hubungan romantis. Seluruh hidupnya telah dipusatkan pada pekerjaan dan profesinya. Karena itulah, setiap perkembangan emosional yang terjadi terasa jauh lebih masuk akal karena selalu dibarengi dengan penolakan dari dalam dirinya sendiri.
Daniel dan Helen Sama-sama Belajar Berdamai dengan Masa Lalu
Selain membahas hubungan kedua karakter, Jessica dan Ashley juga mengungkap bahwa mereka ikut belajar banyak dari karakter yang diperankan. Ashley mengatakan bahwa Daniel memiliki masa lalu yang rumit dan penuh trauma. Namun sepanjang cerita, Daniel memilih menerima semua pengalaman pahit tersebut dibanding terus mencoba menghindarinya. Menurut Ashley, proses menerima sejarah hidup dan rasa sakit itulah yang akhirnya membuat Daniel bisa benar-benar bebas. Ia mengaku sudut pandang tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya.
Jessica ternyata mengalami pengalaman yang hampir sama. Ia bahkan sempat bercanda bahwa jawabannya terdengar seperti meniru Ashley, padahal kenyataannya memang demikian. Jessica mengaku dulu dirinya sering berharap bisa menghapus kenangan buruk begitu saja ketika mengalami hal menyakitkan. Ia merasa selama bertahun-tahun sangat ahli dalam mengotak-ngotakkan emosi dan menyimpan semuanya rapat-rapat. Namun perjalanan Helen justru membuatnya melihat semuanya dari sudut pandang berbeda. Ia mulai membuka kembali semua “kotak” yang selama ini disembunyikan dan membiarkan semuanya menjadi berantakan.
Menurut Jessica, pengalaman buruk memang tidak selalu membuat seseorang lebih bahagia, tetapi membuat seseorang menjadi lebih kaya secara emosional dan lebih kompleks sebagai manusia. Ia mengatakan bahwa kenangan buruk sama pentingnya dengan kenangan indah karena keduanya sama-sama membentuk siapa diri seseorang sekarang. Tidak heran jika ia merasa banyak belajar dari Helen mengingat Silo sendiri memang sangat berfokus pada tema memori dan cerita yang terus kita bangun tentang diri sendiri.

Memori Menjadi Tema Terbesar yang Diangkat Silo
Salah satu pertanyaan menarik dalam wawancara ini membahas sebuah pepatah Brasil yang mengatakan bahwa masyarakat tanpa memori akan terus mengulangi kesalahan masa lalu. Ashley Zukerman merasa pepatah tersebut sangat cocok menggambarkan keseluruhan cerita Silo.
Menurut sang aktor, tema itu tidak hanya berlaku untuk individu, tetapi juga sebuah masyarakat secara keseluruhan. Silo sendiri hanya menyimpan sejarah dalam jumlah generasi yang sangat terbatas. Sementara Daniel dan saudara perempuannya mengalami kondisi kehilangan memori yang jauh lebih ekstrem.
Ashley kemudian mengangkat pertanyaan besar yang menjadi inti cerita, yaitu siapa sebenarnya diri seseorang jika seluruh memorinya hilang. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang kehilangan pengalaman hidupnya, kehilangan kesalahan yang pernah dibuat, dan kehilangan proses belajar dari masa lalu, maka orang tersebut akan sangat mudah diisi oleh cerita apa pun yang ingin diberikan orang lain.
Menurut Ashley, kondisi yang sama juga berlaku bagi sebuah masyarakat. Ia mengatakan bahwa masyarakat tanpa memori akan sangat mudah dipenuhi narasi baru dan informasi modern yang belum tentu benar. Bahkan menurutnya, kondisi seperti itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Ia menegaskan bahwa itulah sebenarnya cerita utama yang sedang ingin disampaikan oleh Silo.

Pandangan Baru Tentang Jurnalis dan Politikus
Karena Helen merupakan seorang jurnalis sementara Daniel adalah anggota kongres, pembahasan juga mengarah pada bagaimana kedua aktor memandang profesi tersebut. Jessica mengaku pandangannya tidak berubah sejak awal. Ia memang selalu menghormati profesi jurnalis karena menurutnya dibutuhkan keberanian luar biasa untuk mempertaruhkan nama, reputasi, bahkan nyawa demi mengungkap kebenaran. Baginya, profesi tersebut tetap merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
Ashley melihatnya dari sisi yang sedikit berbeda. Menurutnya, Silo tidak mencoba menggambarkan politikus atau jurnalis sebagai kelompok yang seragam. Daniel bukan sekadar anggota kongres. Ia adalah individu dengan latar belakang, pengalaman, dan sejarah hidup yang unik.
Ashley bahkan mengatakan bahwa Daniel sebenarnya lebih merasa dirinya seorang insinyur dibanding seorang politikus. Meski begitu, alasan ia masuk ke dunia politik adalah karena sejak awal ia benar-benar percaya terhadap sistem pemerintahan yang ada. Menariknya, kepercayaan tersebut perlahan mulai terkikis sepanjang perjalanan cerita. Perubahan itulah yang menurut Ashley menjadi salah satu perkembangan karakter paling menarik di Season 3.
Memainkan Dua Versi Daniel Menjadi Tantangan yang Sangat Menarik
Ashley juga berbicara mengenai tantangan terbesar saat memerankan Daniel, terutama karena karakternya mengalami perubahan identitas yang sangat drastis akibat kehilangan memori. Menurutnya, kesempatan memainkan dua kondisi mental berbeda dalam satu cerita merupakan hadiah yang sangat langka bagi seorang aktor.
Pendekatan yang ia gunakan ternyata cukup sederhana. Ashley memilih membuat Daniel sedekat mungkin dengan dirinya sendiri. Ia memasukkan berbagai sisi aneh, trauma, kebiasaan, hingga kompleksitas pribadinya ke dalam karakter tersebut agar Daniel terasa seperti manusia modern.
Ketika memori Daniel akhirnya menghilang, seluruh keunikan itu ikut lenyap. Bukan hanya ingatan, tetapi juga cara berbicara, gestur, hingga perilaku sehari-hari.
Menurut Ashley, pengalaman itu memberinya perspektif baru mengenai bagaimana memori ternyata membentuk hampir seluruh identitas seseorang.

Silo Bukan Sekadar Misteri, tetapi Cerita Tentang Harapan
Saat ditanya apa yang paling menarik dari Silo, Ashley mengatakan bahwa hal yang paling ia sukai bukanlah misterinya, melainkan sisi kemanusiaan yang begitu kuat. Menurutnya, sudah banyak cerita post apocalyptic dengan misteri besar, tetapi Silo terasa berbeda karena semua karakter terus berjuang melawan dirinya sendiri demi melakukan hal yang benar.
Ashley merasa cerita yang ingin disampaikan kreator Graham Yost sebenarnya bukan kisah yang sinis atau penuh keputusasaan, melainkan cerita tentang harapan. Bagaimana seseorang bisa terus menjaga cahaya kecil dalam dirinya meski dunia di sekitarnya dipenuhi kebohongan dan ketidakpastian.
Jessica juga menganggap Silo sebagai serial yang sangat berani mengambil risiko. Ia mencontohkan bagaimana karakter utama yang diperkenalkan sejak episode pertama bisa saja menghilang, kemudian fokus cerita berpindah ke karakter lain. Ia juga mengingatkan bahwa episode pertama Season 2 hampir tidak memiliki dialog sama sekali. Menurut Jessica, keputusan seperti itu merupakan langkah yang sangat berani untuk ukuran serial televisi.
Karena itulah ia merasa Graham Yost tidak pernah takut mendorong batasan dalam bercerita. Dan menurut Jessica, keberanian tersebut akan terus berlanjut hingga Season 3 maupun Season 4.

Syuting yang Penuh Canda Meski Sulit Mencari Cerita Lucu
Menjelang akhir wawancara, keduanya ditanya mengenai pengalaman paling berkesan selama proses syuting. Ashley justru tertawa karena merasa dirinya selalu gagal mengingat kisah lucu ketika mendapat pertanyaan seperti ini. Padahal menurutnya, hampir setiap hari di lokasi syuting terasa sangat menyenangkan.
Jessica kemudian menambahkan bahwa sebenarnya ada banyak momen kecil yang sangat lucu bagi mereka berdua. Sayangnya, sebagian besar hanya akan terasa lucu bagi orang yang memang berada di lokasi saat itu. Menurut Jessica, mereka hampir setiap hari saling meledek satu sama lain selama proses syuting berlangsung.
Ashley pun menutup pembahasan dengan mengatakan bahwa keseluruhan proses produksi Silo benar-benar dipenuhi rasa bahagia. Bahkan ia bercanda bahwa setiap selesai mengerjakan sebuah proyek, dirinya selalu berjanji akan menyiapkan setidaknya satu cerita lucu agar tidak lagi kebingungan saat ditanya di sesi wawancara berikutnya.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post