Setelah selama dua musim membuat penonton terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik dunia Silo, Season 3 akhirnya mulai membuka banyak tabir misteri yang selama ini disimpan rapat. Bukan cuma membawa Juliette Nichols ke fase baru dalam hidupnya, musim terbaru ini juga mulai mengupas bagaimana semua kekacauan tersebut bisa bermula ratusan tahun lalu.
Kami berkesempatan berbincang langsung dengan Rebecca Ferguson yang kembali memerankan Juliette Nichols sekaligus bertindak sebagai Executive Producer, bersama Graham Yost selaku kreator dan showrunner Silo. Keduanya membahas banyak hal menarik, mulai dari relevansi cerita dengan kondisi dunia saat ini, perkembangan karakter Juliette selama empat musim, alasan Season 3 mulai memberikan banyak jawaban kepada penonton, hingga suasana kekeluargaan yang tercipta selama proses syuting.

Cerita Fiksi yang Makin Terasa Seperti Dunia Nyata
Meski mengambil latar dunia masa depan, Silo semakin terasa dekat dengan kenyataan. Perubahan iklim, perang, kecerdasan buatan, manipulasi informasi, hingga penyebaran berita palsu menjadi tema yang terasa sangat relevan beberapa tahun terakhir. Menariknya, Graham Yost mengatakan semua itu sebenarnya bukan sesuatu yang sengaja mereka tambahkan mengikuti kondisi dunia saat ini.
Menurut Graham, sebagian besar elemen tersebut sudah ada sejak Hugh Howey menulis novel Silo sekitar 13 sampai 14 tahun lalu. Di dalam buku memang sudah ada pembahasan mengenai AI, perkembangan teknologi, hingga konflik dengan Iran. Ketika serial ini diadaptasi, mereka memilih mempertahankan elemen tersebut.
Yang lebih mengejutkan lagi, Season 3 sebenarnya sudah ditulis sekitar tiga tahun lalu. Saat itu berbagai isu global yang sekarang kembali memanas bahkan belum terjadi. Graham mengaku tim produksi sama sekali tidak menyangka cerita mereka akan terasa begitu relevan ketika akhirnya tayang.
Namun menurut sang showrunner, ada satu hal yang jauh lebih penting dibanding semua kemiripan tersebut. Ia mengatakan bahwa ketika penonton akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi di dunia Silo, mereka akan menyadari bahwa apa yang selama ini dipercaya belum tentu merupakan kenyataan. Seperti yang dijelaskan Graham, “what you might think is happening or what you’re told is happening is not what really is going on.” Kalimat itu menurutnya menjadi inti besar dari keseluruhan cerita Silo.
Rebecca Ferguson Awalnya Sempat Menolak Silo
Sulit membayangkan Silo tanpa Rebecca Ferguson sebagai Juliette Nichols. Namun ternyata, pada awalnya ia justru sempat ragu menerima proyek tersebut. Rebecca bercerita bahwa Graham Yost pertama kali datang membawa naskah kepadanya. Ia mengaku langsung menyukai ceritanya, tetapi menurutnya saat itu naskah tersebut masih belum benar benar sempurna. Selain itu, ia juga merasa takut harus berkomitmen menjalani proses syuting selama empat tahun.
Karena berbagai pertimbangan itu, Rebecca sempat mengambil jarak dari proyek tersebut. Meski begitu, rasa penasarannya tidak pernah benar benar hilang. Ia terus bertanya tanya siapa saja aktor yang akan bergabung dan bagaimana perkembangan serial tersebut. Pertemuan berikutnya akhirnya mengubah segalanya. Graham memperlihatkan berbagai perubahan pada naskah yang sebelumnya menjadi kekhawatiran Rebecca. Ia mengaku sangat terkejut karena revisi yang dilakukan berlangsung begitu cepat.
Tidak lama setelah itu, Graham menawarkan posisi Executive Producer kepadanya. Lucunya, Rebecca mengaku sama sekali tidak tahu apa arti posisi tersebut. Ia bahkan sampai diam diam membuka mesin pencari di bawah meja untuk mencari tahu sebenarnya apa tugas seorang Executive Producer di serial televisi.
Meski menyandang jabatan tersebut, Rebecca mengatakan dirinya tidak merasa berubah menjadi seorang produser penuh. Baginya, posisi itu justru membuka akses ke berbagai bagian penting dalam proses produksi yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
Ia bisa ikut hadir dalam rapat bersama Apple, diundang masuk ke writer’s room, hingga menyaksikan langsung bagaimana sebuah serial sebesar Silo dibangun dari balik layar. Menurut Rebecca, kesempatan belajar mengenai seluruh roda penggerak produksi itulah yang menjadi pengalaman paling berharga baginya.
Juliette Bukan Sekadar Karakter Utama, tetapi Perjalanan Panjang Selama Empat Musim
Rebecca menyebut Silo sebagai “bayinya”. Bukan karena ia menciptakan karakter tersebut, melainkan karena ia berkesempatan melihat perkembangan cerita dari awal hingga benar benar selesai. Menurut Rebecca, Hugh Howey sudah menciptakan karakter Juliette dengan sangat luar biasa. Lalu Graham Yost datang membangun dunia yang membuat karakter tersebut benar benar terasa hidup.
Yang membuat pengalaman itu semakin spesial adalah proses kreatif yang berjalan sejak musim pertama. Rebecca mengungkapkan bahwa ketika mereka sedang menjalani syuting Season 1, Graham sudah mulai menceritakan garis besar Season 2 di sela sela pengambilan gambar.
Hal yang sama terus berlanjut setiap musim. Rebecca selalu mengetahui ke mana arah perkembangan Juliette jauh sebelum proses syuting dimulai. Menurutnya, hal tersebut sangat membantu karena ia bisa memahami perjalanan emosional karakter dari awal hingga akhir. Baginya, kesempatan mengikuti pertumbuhan karakter secara utuh selama empat musim merupakan pengalaman yang sangat jarang bisa didapat seorang aktor.
Juliette Terus Bergerak karena Selalu Mengejar Kebenaran
Berbicara mengenai Season 3, Graham Yost menjelaskan bahwa ada satu sifat Juliette yang tidak pernah berubah sejak awal serial, yaitu selalu terdorong mencari kebenaran. Menurut Graham, Juliette sebenarnya tidak pernah bercita cita menjadi pemimpin. Ia tidak ingin menjadi sheriff pada Season 1, tetapi jabatan itu ia manfaatkan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada George. Di Season 2, ia harus bertahan hidup di silo lain sambil belajar bekerja sama dengan Solo. Lalu ketika memasuki Season 3, kondisinya kembali berubah drastis.
Yang menarik, kali ini Juliette terbangun tanpa mengetahui siapa dirinya sendiri, tetapi justru berada dalam posisi sebagai seorang wali kota. Menurut Graham, situasi itu terdengar sangat menyenangkan untuk dimainkan. Mereka ingin melihat bagaimana karakter sekeras Juliette harus menghadapi kondisi yang benar benar berbeda dari sebelumnya.
Meski begitu, Graham menegaskan bahwa kondisi tersebut hanyalah titik awal. Perjalanan Juliette sepanjang Season 3 akan terus berkembang dan tidak akan berhenti pada satu kondisi saja.

Kehilangan Ingatan Menjadi Tantangan Baru Bagi Rebecca Ferguson
Salah satu tantangan terbesar Season 3 adalah kondisi Juliette yang perlahan kehilangan sebagian besar memorinya. Rebecca sempat bercanda ketika ditanya apakah dirinya pernah mengalami kehilangan ingatan di kehidupan nyata. Ia mengatakan, “Back in the day when I would drink. A lot of memory loss,” yang langsung memancing tawa di ruangan wawancara.
Namun ketika membahas proses aktingnya secara serius, Rebecca mengatakan bahwa tantangan sebenarnya bukan terletak pada memerankan seseorang yang kehilangan ingatan. Menurutnya, proses tersebut justru dimulai sejak tahap membaca naskah. Bersama Graham dan tim penulis, mereka harus benar benar memetakan bagian mana dari memori Juliette yang masih tersisa dan bagian mana yang sudah hilang.
Rebecca menjelaskan bahwa mereka berkali kali berdiskusi mengenai urutan memori tersebut agar semuanya tetap masuk akal. Misalnya, jika Juliette masih mengingat satu kejadian tertentu, apakah logis jika ia juga mengingat kejadian lain yang berhubungan dengan itu. Ia mengaku proses memetakan perjalanan memori itu jauh lebih sulit dibanding proses memerankannya di depan kamera.
Perjalanan Juliette Justru Membuatnya Belajar Membuka Diri
Selama memerankan Juliette selama bertahun tahun, Rebecca merasa dirinya semakin memahami sisi terdalam karakter tersebut.Ia mengatakan sejak awal Juliette memiliki DNA yang sangat jelas. Juliette mampu memperbaiki mesin, memahami teknologi, dan selalu tahu cara memperbaiki sesuatu yang rusak. Ironisnya, Juliette sendiri merupakan pribadi yang penuh luka. Ia menyimpan trauma yang mengendap sangat lama, tetapi sama sekali tidak tahu bagaimana cara memperbaiki dirinya sendiri.
Menurut Rebecca, perubahan besar mulai terjadi ketika Juliette bertemu Solo di silo lain. Awalnya Juliette terpaksa membutuhkan bantuan Solo agar bisa bertahan hidup. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berkembang menjadi proses saling membantu satu sama lain.
Rebecca mengaku bagian inilah yang paling sulit dimainkan. Bahkan ia sering berdebat dengan Graham di lokasi syuting. Ia beberapa kali berkata, “No, she wouldn’t do this. Why is she talking to him like this?”
Namun Graham selalu mengingatkan bahwa Juliette memang harus berkembang sebagai manusia. Ia harus belajar membuka diri karena kini membutuhkan orang lain. Rebecca akhirnya menyadari bahwa memainkan Juliette yang dingin dan tertutup jauh lebih mudah dibanding memainkan Juliette yang perlahan mulai membangun hubungan dengan orang lain. Justru perkembangan emosional itulah yang menjadi tantangan terbesar karakter ini.

Season 3 Akhirnya Mulai Mengungkap Asal Usul Silo
Salah satu kabar yang paling ditunggu penggemar akhirnya benar benar terjadi di Season 3. Graham Yost menjelaskan bahwa sejak awal mereka sudah mengetahui Silo akan memiliki empat musim. Karena itulah, Season 3 dianggap sebagai titik tengah cerita yang sudah seharusnya mulai memberikan jawaban kepada penonton.
Menurutnya, mereka tidak ingin membuat penonton terus menunggu hingga episode terakhir Season 4 hanya untuk mengetahui semua misteri besar. Inspirasi tersebut memang berasal dari novel kedua karya Hugh Howey berjudul Shift yang mengupas asal usul dunia Silo.
Namun Graham mengaku mereka memilih pendekatan berbeda dibanding versi novel. Alih alih mengikuti buku secara penuh, tim serial mengubah bagian tersebut menjadi perpaduan political thriller dan kisah hubungan Daniel dengan Helen.
Melalui cerita itulah penonton perlahan mulai mengetahui bagaimana semua bencana tersebut bermula. Menurut Graham, memang belum semua misteri dijawab di Season 3, tetapi penonton akan mendapatkan cukup banyak informasi sehingga tidak lagi merasa serial ini hanya mengulur ulur jawaban sampai musim terakhir.
Dua Timeline Menjadi Tantangan Terbesar Season Ini
Season 3 juga menghadirkan dua alur waktu yang berjalan bersamaan, yaitu masa kini dan masa lalu. Saat ditanya bagaimana mereka menyusun struktur cerita yang cukup rumit tersebut, Rebecca langsung bercanda sambil menjawab singkat, “Use AI scheduling.”
Graham langsung tertawa dan membalas bahwa mereka sama sekali tidak menggunakan AI. Menurutnya, sejak awal mereka memang sangat khawatir apakah dua timeline tersebut bisa berjalan berdampingan tanpa membingungkan penonton.
Titik baliknya muncul ketika mereka menyadari bahwa kehilangan ingatan yang dialami Juliette ternyata bisa diparalelkan dengan kondisi Charlotte, saudara perempuan Daniel.
Saat hubungan tersebut ditemukan, semuanya mulai terasa menyatu. Menurut Graham, penonton akhirnya dapat memahami bahwa kondisi yang dialami Juliette ternyata memiliki akar yang sudah dimulai lebih dari 350 tahun sebelumnya.
Meski kedua cerita terkadang berjalan ke arah yang sangat berbeda, justru perbedaan itulah yang membuat ritme Season 3 terasa semakin menarik. Setelah melihat hasil akhirnya, Graham merasa perpindahan antara dua timeline tersebut tidak terasa mengganggu, bahkan justru menjadi salah satu kekuatan terbesar musim ini.

Produksi Terbesar Selama Empat Musim
Dibanding musim sebelumnya, Season 3 menjadi tantangan produksi paling besar bagi seluruh tim. Graham mengungkapkan bahwa selama berbulan bulan mereka menjalankan dua unit produksi secara bersamaan.
Satu tim fokus mengerjakan kisah asal usul Silo, sementara tim lainnya mengerjakan cerita utama yang berlangsung di masa sekarang. Menurutnya, proses tersebut benar benar melelahkan karena dua produksi besar harus berjalan dalam waktu yang sama selama berbulan bulan.
Rebecca sendiri memiliki cerita lucu saat syuting salah satu adegan di luar ruangan. Ia mengaku sempat diberi tahu bahwa akan ada sebuah efek kejutan besar di lokasi syuting. Dengan santai Rebecca menjawab bahwa dirinya sudah pernah bermain di Mission Impossible sehingga merasa tidak ada lagi yang bisa membuatnya terkejut.
Namun ketika efek tersebut benar benar dijalankan, ia justru refleks menyemburkan kopi yang sedang diminumnya ke arah Shane McRae yang memerankan Knox. Akibatnya, kostum Shane harus diganti karena sudah basah terkena kopi. Rebecca mengaku kejadian itu masih menjadi salah satu momen paling lucu selama syuting.
Momen Favorit Rebecca Bukan Saat Kamera Menyala
Menariknya, momen yang paling disukai Rebecca selama bekerja di Silo ternyata bukan ketika kamera mulai merekam adegan. Menurutnya, bagian terbaik justru terjadi jauh sebelum sutradara meneriakkan kata “action”.
Rebecca menjelaskan bahwa setiap episode melalui proses persiapan yang sangat panjang. Setelah naskah selesai ditulis, seluruh pemain membaca naskah tersebut, berdiskusi dengan para sutradara, memberikan berbagai masukan, lalu bersama sama membangun karakter sedikit demi sedikit.
Tahap latihan di lokasi syuting menjadi momen favorit Rebecca. Di sanalah seluruh pemain, sutradara, penulis, hingga Graham Yost berkumpul untuk mencoba berbagai kemungkinan baru. Adegan bisa berubah, dialog bisa berkembang, dan karakter bisa menemukan bentuk terbaiknya. Menurut Rebecca, proses kreatif seperti itulah yang membuat pekerjaan sebagai aktor terasa sangat menyenangkan.

Silo Menjadi Rumah Kedua bagi Seluruh Tim Produksi
Menjelang akhir wawancara, Rebecca dan Graham sama sama mengaku cukup kesulitan memilih satu cerita paling berkesan selama proses syuting. Alasannya sederhana. Setelah menyelesaikan Season 3, mereka hanya memiliki jeda sekitar tiga bulan sebelum langsung lanjut menjalani syuting Season 4.
Akibatnya, semua kenangan dari dua musim tersebut masih bercampur menjadi satu di kepala mereka. Rebecca mengatakan lokasi syuting Silo dipenuhi orang orang yang sangat lucu. Mereka sering bermain charades bersama, bercanda, dan menghabiskan waktu di sela sela syuting. Graham sendiri mengenang momen di akhir Season 1 ketika ia duduk bersama Rebecca di dalam sel penjara lokasi syuting hanya untuk menceritakan seluruh garis besar Season 2.
Menurutnya, momen sederhana seperti itu sangat penting karena mereka bisa memastikan bahwa arah cerita benar benar dipahami bersama sejak awal. Namun bagi Rebecca, kenangan terbaik justru datang dari sesuatu yang terlihat sangat sederhana. Tidak seperti banyak produksi film besar yang menyediakan trailer mewah dan terpisah untuk para pemeran utama, seluruh pemain Silo justru menggunakan ruangan sederhana yang disusun membentuk setengah lingkaran.
Di bagian tengah terdapat meja makan, pohon zaitun, lampu hias, dan musik yang selalu menemani waktu istirahat. Semua orang makan siang bersama. Para kru ikut berkumpul. Tidak ada jarak antara pemain utama dengan anggota tim lainnya. Rebecca mengatakan suasana seperti itu sangat jarang ditemui di produksi besar. Banyak lokasi syuting terasa sangat individual karena setiap orang menghabiskan waktu di ruangannya masing masing.
Namun di Silo semuanya benar benar terasa seperti keluarga. “Kami makan bersama. Kami berbagi perasaan bersama. Kami menangis bersama. Kami tertawa bersama,” ungkap Rebecca. Menurutnya, justru kebersamaan seperti itulah yang akan paling ia rindukan ketika perjalanan Silo benar benar berakhir setelah Season 4. Bagi seluruh tim, serial ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun tahun.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post