Yoshiki Okamoto, veteran Capcom dan produser Street Fighter II, menjelaskan bahwa selama era NES/Famicom, hanya Nintendo yang benar‑benar meraih keuntungan stabil dari cartridge. Sementara Capcom dan developer ketiga lainnya menghadapi margin tipis. Keuntungan Capcom baru meroket saat beralih ke CD dengan PlayStation 1.
Okamoto, melalui Youtube pribadinya, menyebut bahwa dari setiap cartridge Famicom, Nintendo selalu menerima pembayaran penuh di awal, meski keuntungan akhirnya tidak tergantung pada penjualan aslinya. Ini membuat Nintendo memiliki profit yang terjamin, berbeda dengan developer pihak ketiga yang menanggung risiko stok dan pembiayaan.

Sebagai developer pihak ketiga, Capcom harus membayar di muka untuk setiap unit. Proses produksi bisa memakan waktu hingga tiga bulan, diikuti penagihan distributor yang baru dibayar tiga bulan kemudian yang mengakibatkan pengembalian bunga selama enam bulan sebelum keuntungan masuk ke kas perusahaan.
Karena produksi cartridge memakan waktu lama, Capcom sering memesan lebih dari kebutuhan untuk mengantisipasi stok habis. Namun stok yang tidak terjual membuat mereka menanggung kerugian sehingga menggerus keuntungan.

Profit Capcom mulai melesat saat beralih ke format CD di PlayStation 1. Sony memungkinkan pengembalian stok CD yang tak terjual, sehingga Capcom hanya menanggung biaya produksi bukan biaya penuh lisensi. Restock juga lebih cepat, hanya butuh seminggu, bukan bulanan.
“Misalkan Capcom membayar Sony 1.800 yen per CD: 200 yen untuk biaya produksi, dan 1.600 yen untuk Sony. Namun, jika ada stok yang tidak laku, Sony akan mengembalikan bagian 1.600 yen-nya, dan hanya memotong 200 yen sebagai biaya produksi.” Jelas Okamoto.
Sumber: Automaton
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post