Drama soal game dewasa di Steam dan Itch.io makin ribet. Mastercard, yang sebelumnya dituding ikut nge-push buat ngehapus konten NSFW dari platform-platform itu, akhirnya buka suara. Mereka bilang, “Kita nggak pernah nyuruh siapa pun buat ngebatasin game apa pun.” Tapi pernyataan itu langsung dibantah Valve, yang bilang kalau Mastercard emang punya aturan internal yang bikin payment processor jadi ragu nerima game-game yang dianggap sensitif.
Awalnya, Valve bikin aturan baru yang agak ngambang soal larangan “konten dewasa tertentu” di Steam. Beberapa game NSFW mulai dicopot diam-diam karena katanya melanggar aturan dari payment processor dan bank. Nggak lama setelah itu, Itch.io juga mulai ‘ngilangin’ semua game dewasa dari hasil pencarian. Keduanya nyebut kalau tekanan ini datang dari grup anti-porn asal Australia, Collective Shout, yang sebelumnya juga sempet nyerang Visa, Mastercard, dan PayPal. Yang jelas, baik Steam maupun Itch.io sama-sama bilang kalau dukungan dari payment processor itu penting banget buat kelangsungan platform mereka.

Beberapa minggu kemudian, Itch.io mulai balikin lagi beberapa game NSFW—tapi yang gratisan doang—dan lagi nyari mitra pembayaran baru yang nggak alergi sama konten dewasa. Sementara itu, toko game lain kayak GOG mulai angkat suara lewat kampanye #FreedomToBuy buat nentang sensor berlebihan di industri game. Di tengah semua ini, Mastercard malah coba jaga jarak dari kekacauan, bilang mereka nggak pernah nyuruh siapa pun buat ngapus game, apalagi nge-review isinya satu per satu.
Mereka ngejelasin kalau sistem pembayaran Mastercard jalan sesuai hukum yang berlaku. Selama sesuatu itu legal, mereka ngizinin transaksinya. Tapi di sisi lain, merchant kayak Steam dan Itch.io tetep diwajibin punya filter biar kartu Mastercard nggak dipake buat beli konten yang ilegal, termasuk konten dewasa yang masuk kategori terlarang.

Valve nggak tinggal diam. Mereka ngasih pernyataan kalau sebenernya Mastercard nggak ngomong langsung ke mereka. Tapi Mastercard ngobrolnya lewat payment processor dan bank, yang akhirnya nyampe juga ke Valve. Steam udah jelasin sejak awal kalau mereka cuma nyediain game yang legal buat dijual. Tapi tetep aja ditolak, dan payment processor langsung ngarah ke aturan Mastercard yang namanya Rule 5.12.7 sebagai alasan mereka nggak bisa ngelanjutin.
Nah, aturan itu isinya memang cukup luas. Di satu sisi, jelas-jelas ngelarang transaksi ilegal dan konten ekstrem kayak eksploitasi seksual anak atau kekerasan nonkonsensual. Tapi di sisi lain, Mastercard juga ngasih celah buat nolak apa pun yang menurut mereka bisa ngerusak citra merek. Jadi sebenernya, mereka punya kuasa penuh buat mutusin mana yang “layak” dijual dan mana yang nggak, tanpa harus transparan ke publik. Gara-gara ini, banyak pihak di industri game, termasuk IGDA, mulai angkat suara, nuntut supaya lembaga keuangan nggak semena-mena nentuin konten apa aja yang boleh eksis di dunia game.
Sumber: Eurogamer
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post