Melanjutkan artikel liputan kami dari Busan Indie Wave Conference, sesi panel keduanya yang kami rangkum dalam artikel ini adalah “AI as Core Gameplay: Co-Creative Storytelling in 1001 Nights” yang dibawakan oleh Chuyan Xu, seorang Lead Game Programmer di Ada Eden. Dia membahas penerapan AI dalam pembuatan konten yang mendorong keterlibatan pemain, yang mana kali ini dia menggunakan game indie garapan timnya yaitu 1001 Nights sebagai studi kasus.

Terinspirasi dari kumpulan cerita rakyat Seribu Satu Malam, dalam game tersebut pemain berperan sebagai Scheherazade yang harus menceritakan kisah untuk menghibur Raja Shahryar, sekaligus memancingnya menyebut kata tertentu seperti “pedang,” “pisau,” atau “perisai.” Dengan dukungan large language model (LLM), sang raja bisa merespon pemain secara dinamis baik itu mulai dari menunjukkan emosi hingga memajukan alur cerita.
Sistem ini membuat pilihan pemain terasa bermakna dan mendorong kreativitas, memungkinkan pihak developer menciptakan kisah unik yang berdampak langsung pada gameplay. Cerita yang lemah menghasilkan senjata dengan statistik rendah, sementara cerita yang memikat memberi akses ke equipment yang lebih kuat. Titik-titik plot kunci digunakan sebagai input untuk menghasilkan “kartu senjata” dan dialog yang sesuai saat berada dalam combat. Jika pemain berhasil mengalahkan raja, mereka akan membuka “storybook” yang mencatat progress, gelar yang diperoleh, nasib sang raja, serta kompilasi keseluruhan cerita gamenya.

Dari sisi teknis, Xu merekomendasikan penggunaan mode JSON dengan teknik few-shot untuk menjaga konsistensi kepribadian dan reaksi sang raja. Beberapa pemain mencoba “menjebol” AI dengan memintanya keluar dari peran seperti bercerita di luar konteks gamenya, atau membahas hal modern yang selalu memicu kemarahan raja. Tantangan lain adalah campuran bahasa, misalnya kata bahasa Inggris muncul di tengah cerita meski sudah diatur dengan bahasa Mandarin. Meski belum berencana menambah bahasa lain, Xu menilai AI tetap mampu memberikan pengalaman bermain yang unik dan kreatif.
Xu juga menjelaskan strategi pengelolaan sumber daya seperti AI berkinerja tinggi bisa cocok digunakan untuk sistem inti, sedangkan model gratis menangani bagian pendukung lain yang lebih ringan. Dia mengingatkan kalau feedback tidak valid yang berulang dapat memicu “halusinasi” pada AI, namun sebagian besar pemain masih bisa menerima kesalahan kecil tersebut sepanjang memainkan gamenya.

Sebagai penutup, Xu memberi saran teknis penting yaitu bagaimana developer harus selalu menyertakan langkah pengecekan dan perbaikan data JSON yang rusak untuk menjaga stabilitas game kapan saja. Meskipun teknologi AI belum sempurna, penerapannya pada inti gameplay 1001 Nights menunjukkan potensi besar dari kolaborasi kreatif antara pemain dan kecerdasan buatan.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post