Kazutaka Kodaka selaku kreator dibalik Danganronpa dan The Hundred Line: Last Defense Academy ternyata memulai karir besarnyanya di dunia game lewat sebuah “tamparan” realitas yang tak terduga. Pada saat berada di usia pertengahan hingga akhir 20-an, dia sempat menjalani pola hidup yang tidak stabil dengan bekerja paruh waktu di beberapa tempat, membuat film indie, dan belum benar-benar menetap di jalur karier tertentu meski pernah punya pengalaman di industri game. Salah satu pekerjaannya adalah di toko game bekas, di mana pada waktu itu dia bekerja bersama seorang mahasiswi sebagai juniornya.

Hanya saja suatu hari setelah Kodaka menegur mahasiswi tersebut karena kesalahan kerja dan mengatakan kalau dia tidak akan bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial, mahasiswi tersebut kemudian membalas dengan tajam. Dia menegaskan kalau justru Kodaka sendiri sudah lama tidak menjadi bagian dari “masyarakat umum”. Ucapan itu seolah jadi hantaman keras, di mana Kodaka kemudian mengakui kalau komentar tersebut membuatnya cemas akan masa depannya dan memaksanya bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya aku ini sedang apa?”.

Momen refleksi itu justru menjadi titik balik dalam kehidupannya, karena Kodaka kemudian memutuskan untuk mulai “hidup dengan benar” dan menghubungi kembali mantan rekan kerjanya di industri game untuk mencari peluang. Usahanya membuahkan hasil ketika dia diterima bekerja di Spike Chunsoft, tempat dia akhirnya dia kemudian menciptakan franchise Danganronpa. Tapi sebelum mencapai kesuksesan mainstream, Kodaka sempat terlibat dalam industri game di mana dia bekerja di tim motion capture untuk Clock Tower 3 milik Capcom, lalu bergabung dengan Flagship yang merupakan anak perusahaan Capcom, dan menulis skenario untuk judul-judul besar seperti Resident Evil 2, Onimusha, dan The Legend of Zelda: The Minish Cap. Hanya saja kondisi kerja yang berat membuatnya keluar setelah sekitar satu tahun.
Setelah meninggalkan Flagship, Kodaka ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar original. Keinginan ini membawanya ke dunia film indie sambil bertahan hidup lewat pekerjaan paruh waktu, termasuk di toko game tempat peristiwa penentunya terjadi. Pengaruh film, anime dari sang kakak, serta game yang dia akui sering “dipinjam” dari tempat kerja membentuk gaya kreatifnya sebagai pembuat game. Meski dorongan terakhir datang dari teguran pahit seorang rekan yang lebih muda, momen itulah yang akhirnya melahirkan karya-karya Kodaka yang kini dikenang dan dicintai oleh banyak gamer di seluruh dunia.
Sumber: Denfaminicogamer
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post