Dari tanggal 16 sampai 19 Oktober 2025, Queen Sirikit National Convention Center di Bangkok jadi tuan rumah untuk acara gabungan pertama antara Gamescom Asia dan Thailand Game Show 2025. Kolaborasi besar ini menandai babak baru buat industri game di kawasan Asia Tenggara yang terus berkembang pesat.
Selama empat hari penuh, acara ini berhasil menarik perhatian luar biasa dengan total 206.159 pengunjung. Angka ini jadi bukti nyata kalau Asia Tenggara makin punya posisi penting di peta industri game global. Seperti apa detailnya? Simak rangkuman dari kami!
Suasana dan Keramaian yang Luar Biasa

Segmen B2C resmi dibuka pada 17 Oktober dan langsung disambut lautan pengunjung di setiap hall. Antrean panjang terlihat di booth besar seperti Capcom, Bandai Namco Entertainment Asia, dan HoYoverse. Di setiap sudut, cosplayer dengan berbagai karakter berpose untuk foto dan jadi pusat perhatian.
Jalan di area pameran terasa padat, tapi semua tetap penuh semangat dan antusias. Banyak yang sibuk berburu merchandise, berfoto, dan menikmati acara di panggung utama dari pagi sampai tutup.
Kolaborasi antara Gamescom Asia dan Thailand Game Show terbukti sukses menghadirkan perpaduan antara keseriusan pameran internasional dan semangat festival penggemar lokal. Suasananya ramai, seru, tapi tetap terasa teratur dan profesional—sebuah kombinasi yang jarang bisa dicapai di event besar.
Island of Hearts Jadi Pusat Perhatian Awal

Setelah upacara pembukaan, acara langsung dibuka dengan penampilan Island of Hearts dari 4Divinity, hasil kerja sama dengan GCL Global Holdings dan Titan Digital Media. Game dating-sim ini menampilkan deretan kreator konten populer, dan kehadiran mereka di panggung langsung menarik banyak penggemar, baik dari dunia game maupun komunitas influencer.
Responsnya luar biasa positif. Banyak yang melihat Island of Hearts sebagai bukti kalau proyek yang digarap oleh talenta Asia Tenggara punya daya saing tinggi dan bisa berdiri sejajar dengan game buatan publisher global.
Capcom dan Bandai Namco Jadi Magnet Pengunjung

Hari kedua bisa dibilang puncak dari keseluruhan acara. Booth Capcom nyaris gak pernah sepi. Pengunjung berbondong-bondong mencoba demo Resident Evil Requiem, PRAGMATA, Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflections, Mega Man Star Force Legacy Collection, dan Onimusha: Way of the Sword.
Sore harinya, produser Ryozo Fujimoto naik ke panggung utama dan mengumumkan detail baru untuk Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection, termasuk fitur kustomisasi karakter yang lebih luas dan dukungan penuh bahasa Thai—yang jadi pertama kalinya untuk seri ini. Sorak-sorai dari pengunjung terdengar jelas, menandakan betapa besarnya komitmen Capcom ke pasar Asia Tenggara.

Sementara itu, Bandai Namco Entertainment Asia juga gak kalah ramai. Mereka memamerkan Little Nightmares III, Digimon Story: Time Stranger, Elden Ring: Tarnished Edition (Switch), Towa and the Guardians of the Sacred Tree, dan My Hero Academia: All Justice.
Di area yang sama, ada juga display motor dari Code Vein II dan versi Final Fantasy VII Remake Intergrade untuk Switch 2 di bawah area gabungan dengan Square Enix. Gabungan konten dan atraksi ini bikin booth Bandai Namco jadi salah satu yang paling menarik perhatian di seluruh acara.

Sementara di sisi lain, booth Nintendo Switch 2 hadir dengan nuansa lebih ceria lewat Pokémon Legends: Z-A, Donkey Kong Bananza, Super Mario Party Jamboree, dan Mario Kart World. Suasana penuh tawa dan kompetisi santai di area ini jadi kontras menyenangkan dengan pameran besar beraroma “AAA” dari publisher lainnya.
Sorotan untuk Indie dan Studio Regional

Di hari terakhir, pengunjung tetap berdatangan tanpa henti, terutama ke area Indie Zone dan Thai Pavilion. Dua area ini selalu ramai oleh pengunjung yang penasaran menjajal karya dari studio-studio lokal dan regional. Banyak game yang baru pertama kali tampil ke publik, dan antusiasmenya luar biasa tinggi. Keramaian di area ini menunjukkan kalau developer Asia Tenggara mulai mendapatkan perhatian dan tempat tersendiri di antara raksasa industri.
Booth-Booth Paling Berkesan

Selain pameran utama dari publisher besar, booth MechaBreak berhasil mencuri perhatian lewat sesi gameplay langsung di panggung, lengkap dengan cosplayer dalam kostum mecha penuh detail yang berpose di sekitar area. Sementara itu, booth Little Nightmares 3 dari Bandai jadi salah satu spot paling ikonik berkat balon raksasa berbentuk “Monster Baby” yang langsung jadi magnet foto bagi para pengunjung.
Cosplayer dari berbagai genre game juga terlihat memenuhi venue, menambah warna dan keceriaan di setiap sudut. Kombinasi antara booth interaktif, panggung besar, dan kehadiran komunitas cosplay bikin suasana acara jadi hidup sepanjang hari.
Langkah Besar untuk Asia Tenggara

Meski kadang terasa sesak karena banyaknya pengunjung, keberhasilan acara gabungan ini menunjukkan betapa cepatnya pertumbuhan industri game di Asia Tenggara. Dibanding edisi Gamescom Asia sebelumnya, versi Bangkok tahun ini terasa jauh lebih terbuka, lebih interaktif, dan lebih menonjolkan kreativitas lokal.
Bagi Asia Tenggara, acara ini bukan cuma pameran biasa. Ini adalah pernyataan yang kuat. Dari jumlah pengunjung yang luar biasa, hingga besarnya partisipasi komunitas dan publisher besar, semuanya memperlihatkan satu hal: kawasan ini sudah gak lagi sekadar “pasar yang berkembang”—tapi sudah jadi salah satu pemain penting di panggung global industri game.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post