Masih dari Busan Indie Wave Conference, kami ikut mendengarkan sesi panel “An Indie Game Development Journey with an IP Holder” yang dibawakan oleh Joongkyu Kwon selaku CEO Sinkhole Studio. Dia membahas tantangan mengembangkan game indie berbasis intellectual property (IP) yang sudah ada. Menurut Kwon, IP yang cukup dikenal luas bisa menurunkan hambatan awal dan memberikan keuntungan di sisi marketing, namun juga membawa ekspektasi tinggi dari fans yang jika tidak terpenuhi, maka bisa berujung pada kekecewaan lebih besar. Tantangan utamanya adalah menyeimbangkan keunggulan IP dengan desain kreatif yang menonjolkan ciri unik lewat gamenya.

Kolaborasi ini berawal dari persahabatan Kwon dengan pendiri MoonLab yaitu Jongbeum Moon. Moon menginginkan sebuah game petualangan 2D bergaya Pokémon, sementara Kwon lebih menyukai dunia beragam dengan alur cerita terhubung yang penuh humor ala kartun Amerika. Perbedaan visi ini melahirkan universe Ogu and the Secret Forest. MoonLab menggarap desain karakter dan latar belakang dunia, sedangkan Sinkhole Studio menangani map, puzzle, dan sistem combat.
Pengembangan gamenya dimulai pada Februari 2021 yang mana banyak adegan digambar oleh kreator asli dan diimplementasikan tim developer. Kwon menekankan pentingnya mendengarkan ide pemilik IP bahkan meski terdengar samar. Contohnya Moon sempat meminta adanya “kuda nil raksasa yang menghalangi sesuatu.” Pihak tim akhirnya menempatkan kuda nil tersebut di area gurun, sehingga menghalangi titik pertahanan yang harus dilindungi pemain, dan ini otomatis berhasil memenuhi ide kreator tanpa mengganggu mekanisme gamenya.

Ogu and the Secret Forest berhasil mendapat 93% review positif di Steam dan memenangkan kategori umum di BIC Awards 2022. Kwon mengatakan mereka fokus membuat game yang disukai seluruh tim dan bukan semata mengejar pasar besar, sambil di saat bersamaan juga terus menghadirkan update untuk menjaga minat pemain. Namun, ia mengakui adanya tantangan seperti perbedaan selera antara penggemar emotikon (asal IP) dan pemain gim, serta pasar petualangan 2D yang kecil dan didominasi pemain hardcore.
Dari sisi strategi rilisnya pada waktu itu, Kwon mengungkap kalau metode Early Access dengan pembaruan per kuartal kurang cocok untuk game petualangan berbasis cerita. Meski membantu mendapatkan perhatian awal dan feedback, sebagian besar pemain lebih menyukai pengalaman lengkap sejak hari pertama rilisnya. Penyajian konten secara bertahap justru berisiko menurunkan minat mereka.

Setelah Ogu and the Secret Forest, Kwon mendapat inspirasi dari kunjungan ke pemandian umum untuk membuat game mereka berikutnya yaitu Maltese’s Fluffy Onsen yang terinspirasi juga dari gameplay idle Rusty’s Retirement. Game ini terpilih untuk demo Steam Next Fest pafda Februari lalu dan masuk 25 besar demo paling banyak dimainkan. Setelah rilisnya, game ini berhasil meraih lebih dari 1.100 review dengan 92% positif. Pujiannya terutama berkat karakter dan mekanik gameplay yang lebih selaras, sekaligus bagaimana pihak developer ikut mengatasi banyak kekurangan dari game mereka sebelumnya.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post