Kami sempat memainkan Marvel’s Wolverine selama kurang lebih dua jam. Build yang tersedia punya lima pilihan tingkat kesulitan, dan kami memilih Normal selama sesi kali ini. Demo-nya sendiri dibagi menjadi dua bagian utama. Pertama ada bagian ketika Team X pergi untuk menyelamatkan Essex, lalu ada bagian lain ketika kami bebas menjelajahi Lowtown di Madripoor.
Game langsung dibuka dengan Wolverine mengeluarkan cakarnya, lalu dari sana kami langsung diperkenalkan dengan berbagai tutorial gameplay. Setelah menghabiskan sekitar dua jam dengannya, kesan awal kami bisa dibilang cukup kuat. Combat-nya seru, eksplorasinya juga terasa niat, dan yang paling penting Wolverine nggak terasa seperti Spider-Man yang sekadar diganti karakter. Ada cukup banyak hal menarik yang bikin gameplay-nya punya rasa sendiri.

Combat Nggak Bisa Cuma Asal Gebuk
Combat Wolverine langsung terasa enak sejak awal dan dasar permainannya juga gampang dipahami. Selain light attack dan heavy attack, ada parry, dodge, serta leaping attack. Ketiganya bisa dikombinasikan dengan cukup bebas, tapi parry dan timing-nya bisa dibilang menjadi salah satu bagian paling penting selama bertarung. Ketika sedang dikeroyok, musuh yang akan melancarkan serangan jarak jauh bakal memunculkan indikator merah sehingga masih ada waktu untuk menghindar. Sementara serangan berwarna kuning justru bisa dilawan dengan counter kalau timing pemain pas.
Selain serangan menggunakan cakar, Wolverine punya ability dengan efek area dan tendangan yang lebih kuat untuk menghadapi situasi tertentu. Jadi, pilihan serangannya ternyata lumayan banyak. Memang nggak ada serangan jarak jauh ala Spider-Man, tapi Wolverine punya caranya sendiri untuk menghadapi musuh yang berdiri jauh. Ia bisa langsung melompat dan menerkam mereka, jadi musuh jarak jauh nggak bisa santai menembaki pemain dari belakang. Cara Wolverine langsung lompat ke arah musuh ini juga pas banget dengan karakternya yang liar dan selalu ingin menempel ke lawan.

Sistem revive dan healing-nya juga cukup beda, tapi bukan berarti game jadi gampang. Kalau health sampai nol dan pemain masih punya Rage, tombol kotak bisa ditekan berkali-kali saat Wolverine tumbang untuk langsung bangkit di tempat tanpa terkena game over. Tapi kalau Rage sudah habis, ya sudah, langsung game over. Ada juga sistem persepsi yang sedikit mirip Spider-Sense. Sistem ini bisa dipakai untuk melihat serangan jarak jauh yang bakal datang atau mencari petunjuk di sekitar. Selain itu, ada skill tree dan sistem move-set yang cukup lengkap untuk membuka lebih banyak combo cakar secara bertahap.
Ada juga beberapa kostum yang bisa diganti, jadi sistem progression-nya sudah lumayan kelihatan dari demo ini. Yang perlu digarisbawahi, Marvel’s Wolverine bukan game yang bisa dibereskan cuma dengan spam tombol serangan. Pemain harus terus melihat kondisi pertarungan, jumlah musuh, tanda-tanda serangan mereka, kapan harus dodge, kapan parry, kapan mengeluarkan skill, sampai musuh mana yang harus dibereskan lebih dulu. Kalau cuma asal pencet tombol serangan, Wolverine bisa tumbang lumayan cepat.
Pada salah satu bagian demo, game juga memberikan pilihan antara main stealth atau langsung maju dan bikin keributan. Pemain bisa menghabisi musuh satu per satu saat posisi mereka terpencar, atau langsung masuk dan membereskan semuanya sekaligus. Stealth-nya sendiri nggak ribet. Wolverine bisa bersembunyi di rumput tinggi, menghilang dari pandangan musuh, lalu menghabisi mereka satu per satu. Bisa juga turun dari atap untuk melakukan aerial takedown. Rasanya benar-benar seperti serigala yang lagi mengintai mangsanya sebelum tiba-tiba menerkam.

Musuh pada bagian awal memang terasa agak terlalu gampang, tapi kondisinya mulai berubah begitu bertemu anggota The Hand. Mereka jauh lebih merepotkan karena menggunakan busur, bom, dan katana, ditambah variasi serangannya juga lebih banyak. Mereka bahkan bisa dodge seperti pemain, jadi nggak semua serangan Wolverine bakal masuk begitu saja. Di sini pemain mulai harus benar-benar memperhatikan gerakan musuh sebelum mereka menyerang, dan combat langsung terasa jauh lebih ramai sekaligus intens.
Bagian yang paling menonjol buat kami adalah pertarungan melawan Sentinel, walaupun perlu dicatat kalau demo ini cuma punya satu boss fight. Pertarungannya cukup bervariasi karena Sentinel bisa menggunakan pukulan, laser, sampai misil dengan tempo yang cepat. Setelah pola serangannya mulai terbaca, memang ada sedikit rasa repetitif dan pertarungannya terasa agak panjang. Pada akhirnya pemain cukup sering mengulang pola parry, dodge, lalu menunggu kesempatan yang pas untuk balik menyerang.
Yang bikin pertarungan Sentinel terasa beda adalah Wolverine nggak bertarung sendirian. Pemain bakal bekerja sama dengan anggota tim lainnya dan menggabungkan kemampuan mereka untuk menjatuhkan Sentinel. Kerja sama antar karakternya terasa cukup seru dan memberikan rasa combat yang lumayan berbeda dibandingkan pertarungan biasa.

Makin Ngamuk, Wolverine Makin Gila
Salah satu sistem yang paling menarik dari demo ini adalah Rage. Dalam build yang kami mainkan, Rage meter punya maksimal tiga segmen dan akan terus terisi ketika Wolverine membunuh musuh atau berhasil melakukan counter. Jadi semakin bagus pemain bertarung dan semakin banyak musuh yang berhasil dibereskan, semakin cepat juga Rage bisa digunakan.
Rasanya cocok banget dengan Wolverine. Semakin lama ia bertarung, semakin brutal juga dirinya. Begitu Rage mode aktif, Wolverine bisa melakukan banyak instant kill sekaligus mendapatkan health, jadi tekanan yang diberikan ke musuh langsung meningkat drastis. Sistem ini berhasil membawa sifat Wolverine yang semakin berbahaya ketika pertarungan berlangsung lama langsung ke gameplay. Mengaktifkan Rage ketika pertarungan sudah mendekati akhir lalu membereskan sisa musuh juga terasa sangat memuaskan.
Menariknya, mekanisme revive yang kami sebut sebelumnya juga sepenuhnya bergantung pada Rage meter. Insomniac harus mencari cara untuk membawa healing factor Wolverine ke dalam gameplay, karena jelas pendekatannya nggak bisa disamakan dengan Spider-Man. Akhirnya kemampuan regenerasi Wolverine dibagi menjadi dua sistem, yaitu revive dan healing attack.

Healing attack cukup simpel. Serang musuh yang sedang stagger dan Wolverine bakal mendapatkan kembali sebagian health. Sementara revive akan menggunakan Rage untuk langsung membangkitkan Wolverine ketika health mencapai nol. Kalau Rage yang tersimpan nggak cukup saat Wolverine tumbang, nggak ada kesempatan kedua dan pemain langsung terkena game over.
Ini yang bikin Rage terasa lebih menarik karena fungsinya bukan cuma buat ngamuk. Rage juga menjadi semacam nyawa cadangan. Pemain harus menentukan apakah meter tersebut mau langsung dipakai untuk menghabisi musuh dengan lebih cepat atau disimpan untuk berjaga-jaga kalau Wolverine sampai tumbang. Jadi ada sedikit dilema setiap kali Rage sudah tersedia, apalagi kalau kondisi health sedang nggak terlalu bagus.
Selain Rage meter, ada sistem progression lain bernama Adaptations yang menggunakan jalur unlock seperti DNA dan terpisah dari skill biasa. Pemain bisa memasang sejumlah Adaptations tertentu, dan masing-masing memberikan efek ke bagian gameplay yang berbeda. Ada yang membuat stealth takedown lebih efektif, ada juga yang langsung memperkuat Rage meter. Jadi sistem ini tetap punya hubungan yang cukup dekat dengan bagaimana pemain ingin memainkan Wolverine.

Lowtown Kayak Jalan-jalan di Asia Tenggara
Kalau combat menjadi bagian yang paling brutal, eksplorasi justru menjadi bagian yang memberikan banyak karakter ke demo ini. Hampir semuanya berpusat di Lowtown, salah satu kawasan kelas bawah Madripoor. Ukuran areanya memang nggak terlalu besar, tapi isinya padat dan cukup banyak detail kecil yang rasanya sayang kalau dilewati begitu saja.
Begitu jalan-jalan di Lowtown, suasananya terasa familier banget. Papan toko, kios pinggir jalan, keramaian orang, sampai bentuk gang-gangnya terasa seperti kawasan kota tua yang ramai dan agak semrawut di Asia Tenggara. Kalau berkeliling cukup lama, pemain bisa mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa Mandarin dan menemukan papan besar bertuliskan “Makanan Melayu”. Bahkan suasana gang yang lembap, susunan papan toko, sampai suara pedagang jalanannya terasa seperti sedang jalan-jalan di kawasan tua yang mungkin sering ditemukan di negara Asia Tenggara.

Bagi pemain asal Indonesia yang memainkan demo ini, berbagai detail tersebut jadi kejutan yang menyenangkan. Rasanya Insomniac nggak cuma memasukkan beberapa dekorasi generik supaya tempatnya terlihat “Asia”, lalu selesai. Ada usaha yang terasa cukup serius untuk membuat Lowtown benar-benar punya suasana Asia Tenggara yang multikultural sampai ke bagian jalanannya.
Cerita selama eksplorasi kebanyakan berjalan ketika Wolverine mencari masing-masing anggota Team X untuk ngobrol. Dari percakapan tersebut, pemain perlahan bisa mengenal kepribadian setiap karakter sekaligus mengetahui lebih banyak soal masa lalu Wolverine. Semuanya masuk dengan cukup natural ke dalam eksplorasi dan nggak terasa seperti dialog yang sekadar ditempel. Percakapannya juga bukan cuma karakter berdiri lalu ngobrol panjang karena ada beberapa interaksi kecil di tengahnya, termasuk pilihan yang bisa dibuat pemain.
Saat menjelajahi Lowtown, kami juga menemukan sebuah “Nightmare Door”. Ini merupakan aktivitas sampingan opsional yang membawa Wolverine masuk ke sebuah challenge encounter. Kalau berhasil menyelesaikannya, pemain akan mendapatkan sedikit tambahan cerita mengenai masa lalu Wolverine. Jadi side content ini nggak cuma memberikan tantangan tambahan, tapi juga dipakai untuk menggali karakternya lebih jauh.
Jadi, Cuma Spider-Man Versi Wolverine?
Setelah bermain selama sekitar dua jam, memang sulit untuk bilang kalau Marvel’s Wolverine sama sekali nggak punya kemiripan dengan Spider-Man buatan Insomniac. Beberapa bagian UI, tipe musuh, sampai desain lingkungan tertentu masih terasa familier. Tapi ketika mulai masuk lebih dalam ke combat, perbedaannya langsung terasa.
Combat yang sangat mengandalkan parry dan counter, revive yang bergantung pada Rage, Rage mode yang membuat Wolverine semakin brutal, sampai cara Wolverine menutup jarak dengan langsung menerkam musuh semuanya dibuat supaya pemain benar-benar merasa sedang memainkan Wolverine. Ia bisa berdarah, bisa merasakan sakit, bisa tumbang, tapi semakin panjang pertarungannya justru semakin liar.
Sifat liar tersebut juga terasa dari presentasinya. Wolverine benar-benar menggunakan cakarnya tanpa banyak kompromi. Anggota tubuh musuh bisa terpotong, darah berhamburan, dan finisher-nya brutal. Jadi meskipun fondasi khas Insomniac masih terasa di beberapa bagian, rasa combat-nya jelas berbeda dari Spider-Man dan lebih cocok dengan karakter Wolverine yang memang jauh lebih ganas.
Marvel’s Wolverine akan dirilis pada 15 September untuk PlayStation 5.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post