Ghost of Yōtei Hokkaido Tour terinspirasi dari game Ghost of Yōtei di PlayStation, dan membawa peserta menyusuri lokasi-lokasi nyata yang menjadi inspirasi latar dunia dalam game tersebut. Tur ini menggabungkan landmark bersejarah, pemandangan alam yang luar biasa, dan warisan budaya yang dirangkai jadi satu pengalaman untuk menunjukkan sumber inspirasi di balik dunia game itu.
Kami ikut dalam Ghost of Yōtei Hokkaido Tour dengan harapan bisa merasakan sisi lain dari Hokkaido. Sepanjang hari, kami menjelajahi desa samurai, lembah vulkanik, sampai ladang bersalju, menyusuri tempat-tempat yang menghubungkan dunia fiksi dengan kenyataan. Sayangnya, cuaca tidak sepenuhnya mendukung. Hujan datang dan pergi, bahkan salju sempat turun secara tiba-tiba. Meski dingin dan jalannya licin, perjalanan ini tetap terasa berkesan seperti yang kami harapkan.
Noboribetsu Date Jidai Village – Langkah ke Zaman Edo


Noboribetsu Date Jidai Village: Google Maps
Ghost of Yōtei Hokkaido Tour dimulai dengan Noboribetsu Date Jidai Village, yang jaraknya sekitar satu setengah jam dari hotel. Tempat bertema samurai ini merekonstruksi suasana Jepang di zaman Edo dengan detail luar biasa, mulai dari bangunan sampai staf yang memakai pakaian tradisional. Di pintu masuk, dua patung besar Masamune Date dan Katakura Kojūrō langsung menyambut kami, menandai awal perjalanan sejarah yang menarik.


Salah satu bagian paling seru di desa ini adalah Utsuroi-kan, tempat pengunjung bisa menyewa pakaian tradisional Jepang. Pilihannya sangat beragam, mulai dari kimono, yukata, kostum ninja dan kunoichi, baju zirah samurai, seragam shinsengumi, pakaian oiran dan maiko, sampai kostum putri dan bangsawan. Semua tersedia untuk anak-anak dan dewasa, meskipun tidak semua ukuran lengkap. Ada dua katalog yang bisa dipilih, satu untuk kostum yang hanya dipakai di sesi foto studio, dan satu lagi untuk kostum yang bisa dipakai berkeliling desa.

| Foto | Harga |
| L size photo (89mm x 127 mm) | 3500 yen per orang |
| 8x10 size photo (203mm x 254mm) | 4500 yen per orang |
| Additional L size photo (89mm x 127 mm) | 1000 yen per photo |
| Additional 8x10 size photo (203mm x 254mm) | 1500 yen per photo |
Untuk foto studio, biayanya 3.500 yen per orang untuk ukuran L dan 4.500 yen untuk ukuran 8×10. Harga ini sudah termasuk sewa pakaian, sesi foto, dan satu hasil cetak. Beberapa kostum premium seperti baju zirah samurai formal dan kostum oiran harganya sedikit lebih mahal, yaitu 4.000 yen dan 5.000 yen untuk ukuran foto yang sama.


| Kostum | Harga |
| Ninja Kid (elementary school and younger) | 1100 yen |
| Ninja Adult (middle school and older) | 3300 yen |
| Towns Lady | 3700 yen |
| Samurai / Samurai’s Daughter | 4700 yen |
| Yukata Kid *During summer only | 1100 yen |
| Yukata Adult *During summer only | 2200 yen |
Kalau ingin jalan-jalan keliling desa sambil memakai kostum, harganya berbeda-beda tergantung jenis pakaiannya. Kostum ninja anak-anak dan yukata dikenai biaya 1.100 yen untuk seharian, sementara yukata dewasa 2.200 yen. Kostum ninja dewasa 3.300 yen, kostum perempuan kota 3.700 yen, dan set samurai atau kimono dihargai 4.700 yen.


Sesuai tema Ghost of Yōtei, kami tentu saja memilih kostum samurai lengkap dengan dua katana plastik yang bikin tampilannya makin keren. Walaupun, kami sempat beberapa kali menabrak dinding gara-gara katana itu waktu berbalik ke kiri.


Selain pemandangan yang menarik, ada juga berbagai museum dan pameran di area ini. Di Katana Museum yang berada di dalam Katakura Residence, kami belajar tentang seni pembuatan pedang legendaris Jepang. Koleksinya menampilkan berbagai pedang dari masa ke masa, lengkap dengan penjelasan proses pembuatannya. Ada juga replika bengkel pandai besi (kanuchi) yang memperlihatkan alat-alat dan teknik yang digunakan untuk menempa “jiwa para ksatria.” Dekat situ ada Katakura History Museum yang memamerkan baju zirah dan sejarah wilayah Noboribetsu beserta warisan samurainya.


Bagi yang ingin pengalaman lebih aktif, ada Taiken Dojo tempat latihan memanah dan melempar shuriken. Biayanya 500 yen untuk lima kali lempar, dan meskipun kami tidak berhasil menang hadiah, tetap seru mencoba. Hadiah-hadiahnya juga dipajang di depan dojo, menambah suasana kompetitif kecil-kecilan.

| Games at Taiken Dojo | Price |
| Garapon Lottery | 500 yen / 1x coba |
| Shuriken Throw | 500 yen / 5x lempar |
| Japanese Archery | 500 yen / 5x panah |
Kami juga mencoba Ninja Maze, labirin indoor yang didesain seperti rumah tradisional Jepang. Di sini kami harus menavigasi pintu geser, lorong sempit, dan jalur rahasia seperti ninja dalam misi diam-diam. Kami juga sempat berfoto bersama staf yang semuanya memakai pakaian tradisional, membuat suasana terasa makin hidup.

Sayangnya, cuaca tidak bersahabat sepanjang hari. Hujan datang dan pergi sehingga pertunjukan panggung dan atraksi luar ruangan dibatalkan. Meski begitu, pengalaman di Noboribetsu Date Jidai Village tetap jadi salah satu bagian paling berkesan dari perjalanan ini, perpaduan sempurna antara sejarah, budaya, dan hiburan interaktif.



Noboribetsu Jigokudani (Hell Valley) – Kanvas Alam yang Menyala


Noboribetsu Hell Valley: Google Maps
Berhenti kedua kami adalah Hell Valley atau Noboribetsu Jigokudani, tempat pemandangan terasa hidup dengan uap panas dan aroma belerang yang kuat. Jalur setapak berkelok melewati lembah, menampilkan pemandangan mata air panas yang mendidih dan uap putih yang keluar dari celah tanah. Meski agak licin, setiap langkah memberi pandangan baru ke lanskap yang dramatis.



Menarik sekali melihat bagaimana belerang membentuk lingkungan sekitar. Di beberapa area, tanahnya begitu kaya mineral sampai pohon tidak bisa tumbuh, meninggalkan tanah tandus yang dikelilingi sedikit vegetasi. Udara membawa aroma khas dari mata air panas, tapi juga memberikan kehangatan. Tidak seperti tempat lain, lembah ini terasa lebih hangat karena panas bumi yang menembus udara dingin pegunungan. Di antara kolam uap, batu terjal, dan pepohonan jarang, Hell Valley benar-benar layak dengan namanya, perpaduan keindahan dan kekuatan alam yang menjadi inspirasi adegan-adegan di Ghost of Yōtei.
Danau Toya / Toyako Onsen – Ketentraman di Balik Kabut

Lake Toya: Google Maps
Berhenti ketiga membawa kami ke Danau Tōya, destinasi tenang yang terkenal dengan pemandangan Gunung Yōtei di kejauhan. Sayangnya, cuaca lagi-lagi tidak berpihak pada kami. Kabut tebal menutupi seluruh danau, menyembunyikan gunung dari pandangan. Kami sempat melihat sedikit bayangan gunung di balik kabut, tapi langsung hilang sebelum sempat difoto.

Yang menonjol justru danau itu sendiri. Meski airnya tawar, ombaknya cukup besar, berdebur seperti di laut. Dipadukan dengan luasnya danau, rasanya seperti berdiri di tepi pantai, bukan di tepi danau. Walau tidak bisa melihat Gunung Yōtei secara langsung, pihak tur dengan baik hati memberikan foto gunung itu sebagai kenang-kenangan tentang pemandangan yang seharusnya bisa kami lihat di hari yang cerah.


Lake Hill Farm – Manisnya Camilan di Tengah Salju

Lake Hill Farm: Google Maps
Tujuan berikutnya adalah Lake Hill Farm, tempat yang terkenal dengan produk susu segar seperti gelato, puding, dan pizza. Saat kami tiba, area ini diselimuti salju tebal, membuat langkah jadi licin dan sepatu cepat basah. Rasanya seperti tempat yang biasanya penuh hewan ternak yang berkeliaran di padang, tapi karena dingin dan salju lebat, tidak ada satu pun yang terlihat.



| Makanan di Lake Hill Farm | Harga |
| Crunchy Milk Pie | 240 yen |
| Farm-made Cream Puff | 180 yen |
| Milky Custard Pudding | 280 yen |
| Pizza with creamy homemade cheese | 800 yen |
| Curry | 800 yen |
| Four Cheese | 540 yen |
| Single flavour Gelato | 400 yen |
| Mixed flavour Gelato | 500 yen |
| Limited-edition Gelato | 500 yen |
Meskipun udara dingin, kami tetap mencoba gelato andalan mereka. Rasanya tidak lengkap kalau tidak mencicipi menu paling populer di tempat ini. Kami juga mencicipi pizza segar yang cocok banget dengan suasana dingin di luar. Harganya juga ramah di kantong, puding 480 yen, pizza 1.200 yen, dan gelato 400 yen untuk satu rasa atau 500 yen untuk dua rasa. Ada juga varian musiman seharga 500 yen, membuat kami sulit memilih hanya satu.

Nakayama Pass – Pemandangan Terakhir dari Lanskap Hokkaido

Nakayama Pass: Google Maps
Berhenti terakhir kami adalah Nakayama Pass, titik pandang tinggi yang menampilkan pemandangan salju Hokkaido dari ketinggian. Anginnya kencang, saljunya deras, dan semuanya berputar di sekitar kami saat turun dari mobil. Sulit berdiri lama, tapi pemandangan hamparan salju di lembah dan bukit benar-benar luar biasa.

Meski cuaca ekstrem, momen ini terasa istimewa, menggambarkan keindahan liar khas Hokkaido. Kami sempat mengambil beberapa foto, wajah setengah tertutup syal sambil tertawa di tengah badai, sebelum kembali ke kendaraan hangat. Rasanya dramatis dan pas sebagai penutup perjalanan, dikelilingi lanskap liar yang menginspirasi Ghost of Yōtei.
Refleksi Perjalanan
Walau cuaca sulit diprediksi, Ghost of Yōtei Hokkaido Tour tetap jadi pengalaman luar biasa. Setiap tempat punya keunikannya masing-masing, mulai dari budaya di Date Jidai Village, keindahan alam panas bumi di Hell Valley, sampai ketenangan Danau Tōya. Hujan dan salju memang membuat perjalanan agak susah, tapi tidak merusak keseruan. Justru menambah rasa nyata bahwa alam Hokkaido itu indah sekaligus liar.


Kami pasti akan merekomendasikan tur ini, mungkin lebih cocok di musim panas saat cuaca lebih bersahabat. Kami juga beruntung karena sopir kami menggunakan ban musim dingin, karena ia bilang mobil pribadinya di rumah tidak punya ban seperti itu. Dengan segala tantangan yang ada, tur ini benar-benar jadi pengalaman yang tidak terlupakan, membawa semangat Ghost of Yōtei hidup dalam perjalanan nyata dengan cara terbaik.
Baru namatin Ghost of Yotei dan tertarik buati ikutan? Kamu bisa tahu lebih banyak tentang Ghost of Yōtei Hokkaido Tour dengan mengunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id









Discussion about this post