Pernahkan kamu memiliki impresi negatif akan suatu hal sebelum kemudian berubah pikiran setelah merasakan atau mendalaminya? Kami yakin banyak orang pasti bisa memahaminya, yang mana momen ini ternyata sempat dirasakan Masato Kato selaku penulis cerita Chrono Trigger dan beberapa game legendaris dari Square Enix. Tapi apa yang membuatnya begitu menarik adalah bagaimana Kato ternyata sempat benci dengan video game.
Diungkapkan lewat wawancaranya dengan media Denfaminicogamer, di masa lalu tepatnya saat masa kuliah dulu Kato memiliki kecintaan besar pada literatur. Dia melihat game sebagai sesuatu yang lebih mengikuti tren semata saja dan bagaimana dia seolah dipaksa untuk menyukainya agar bisa bergaul. Baginya waktu beberapa jam yang digunakan untuk bermain game rasanya jauh lebih berguna untuk membaca buku.

Ketidaksukaannya pada video game lebih mengarah ke genre spesifik seperti shooter dan action yang menaruh fokus lebih pada gameplay, tapi impresinya pada media ini berubah drastis berkat Dragon Quest. Saat melihat saudarinya memainkan game tersebut, Kato seolah dibuat takjub dengan premis di mana dia bisa menempuh suatu petualangan, memilih bertarung atau kabur dari musuh, beristirahat di Inn, serta mengikuti cerita epik untuk menyelamatkan dunia dalam satu paket.
Konsep tersebut merubah sudut pandangnya akan video game, dan dari sana dia memutuskan untuk melamar pekerjaan di industrinya dengan bergabung ke Koei Tecmo (sempat disebut Tecmo saja), sebelum kemudian menempuh karir sesungguhnya di Square Enix. Selain menangani cerita utama Chrono Trigger, dia sempat terlibat dalam penulisan cerita di game-game JRPG ikonik lainnya seperti Xenogears hingga Final Fantasy VII.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post