Review pengguna di Valve lewat Steam memang sudah lama dikenal campur aduk. Ada yang benar-benar informatif dan detail, tapi tidak sedikit juga yang emosional, asal tulis, atau bagian dari aksi review bombing. Namun laporan terbaru dari The Guardian mengangkat sisi lain yang lebih serius: maraknya ujaran kebencian, pelecehan, dan bigotry di forum serta kolom review Steam yang dinilai dibiarkan begitu saja.
Sejumlah developer dan kreator konten menyebut Valve terkesan enggan bertindak, bahkan ketika review tersebut jelas melanggar pedoman konten mereka sendiri. Dalam panduan resmi Steam, penghinaan, pelecehan, diskriminasi, dan tuduhan publik terhadap individu sebenarnya dilarang. Tapi di praktiknya, banyak laporan yang disebut tidak ditindaklanjuti dengan tegas.
please help me report these Steam reviews (that ridicule my SA) made to my games. steam moderators cleared them as acceptable (so i can’t flag them) but i don’t think calling me a slur & bringing up my r*pist is acceptable.
steamcommunity.com/profiles/765…
steamcommunity.com/id/Luceres/r…
— Nathalie Lawhead (@alienmelon.bsky.social) January 2, 2026 at 5:38 PM
Salah satu contoh datang dari desainer game Nathalie Lawhead. Ia mengaku kesulitan menghapus review yang mengandung komentar antisemit sekaligus mengejek tuduhan kekerasan seksual yang pernah ia sampaikan. Meski sudah dilaporkan, moderator Steam sempat menyatakan review tersebut tidak melanggar aturan. Karena review yang sudah “dibersihkan” tidak bisa dilaporkan ulang kecuali diedit oleh penulisnya, Lawhead akhirnya harus menghubungi kenalan langsung di Valve untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Valve disebut merespons bahwa mereka tidak dalam posisi untuk memverifikasi kebenaran pernyataan dalam review, dan tidak memoderasi berdasarkan akurasi demi menghindari tuduhan sensor. Bagi Lawhead, respons itu terasa “menghancurkan”. Ia merasa seolah harus membuktikan pengalaman pribadinya agar bisa terlindungi dari pelecehan. Menurutnya, proses moderasi seperti ini jelas bermasalah.

Kasus lain juga menimpa developer game Coven, sebuah FPS bergaya retro. Review negatif yang muncul disebut bukan membahas kualitas game, melainkan menyerang sikap pribadi developernya terkait isu politik. Bahkan ada kurator Steam yang merekomendasikan atau tidak merekomendasikan game berdasarkan sikap developer terhadap peristiwa tertentu, bukan isi gamenya. Developer lain seperti Émi Lefèvre dari Caravan SandWitch juga mengaku gamenya diserang review bernada homofobik.
Beberapa developer yang mencoba melaporkan komentar transfobik bahkan mendapat jawaban agar fokus mengembangkan game dan membiarkan sistem voting komunitas menentukan review mana yang dianggap relevan. Banyak yang menilai pendekatan ini justru membuat forum dan review Steam jadi arena “perang budaya” yang tidak aman, terutama bagi kelompok marjinal. Dengan posisi Steam sebagai platform distribusi PC terbesar, developer sering merasa tidak punya pilihan selain bertahan di sana, meski harus menghadapi risiko pelecehan yang berulang.
Sumber: WCCFTech
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post