gamerwk.com
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
gamerwk.com
No Result
View All Result

Wawancara Eksklusif 1001 Nights dengan Lead Programmernya – Suguhkan Cerita Segar Berbasis AI

Rafif by Rafif
August 19, 2025 - Updated on August 26, 2025
in Berita, Event, Industri, PC, Semua, Wawancara
0
Wawancara Eksklusif 1001 Nights dengan Lead Programmernya – Suguhkan Cerita Segar Berbasis AI

Credit Image: GamerWK

Share ke FacebookShare ke TwitterShare ke Telegram

Di ajang Busan Indie Connect Festival 2025, kami berkesempatan untuk duduk bersama Chuyan Xu, Lead Game Programmer di studio Ada Eden, dalam sebuah interview eksklusif untuk berbincang soal game 1001 Nights.

Dalam interview ini, Xu mengenalkan game garapannya yang baru dibuat, yaitu 1001 Nights. Game ini menjanjikan pengalaman unik dengan naratif bergaya pixel art di mana pemain berperan sebagai Shahrzad yang harus bertahan hidup dari raja dengan bertutur cerita. Uniknya, bahasa yang ditulis pemain bisa berubah menjadi senjata, memadukan interaktif fiksi, visual novel dan teknologi AI untuk menciptakan pengalaman bercerita yang segar.

Kenapa memilih 1001 Nights sebagai inspirasi game dan bukan mitologi atau cerita rakyat Cina? Apa alasan khusus di balik pilihan ini?

Credit Image: Ada Eden

Chuyan Xu, Lead Game Programmer di Ada Eden, menjelaskan bahwa pemilihan “1001 Nights” sebagai inspirasi game pertama mereka berawal dari karya personal sang produser.

Pada 2022, ia sempat memamerkan “1001 Nights” sebagai karya seni digital di sebuah museum, dengan konsep menghadirkan kolaborasi antara AI dan pemain dalam bercerita. “Idenya saat itu adalah membiarkan AI dan pemain ‘menceritakan kisah’ bersama, dan karena 1001 Nights sendiri merupakan dongeng klasik yang berpusat pada tradisi bercerita, pilihan ini terasa sangat tepat,” ujar Xu. Dari situlah, proyek tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah game penuh seperti yang ada sekarang.

Dengan rumitnya mengintegrasi AI ke dalam mekanisme game, bagaimana kalian mengatasinya?

Xu mengakui integrasi AI ke dalam game bukan proses mudah karena inti proyek mereka bertumpu pada teks AI. Pada awal 2022, kemampuan output AI belum cukup merealisasikan visi tim, sehingga mereka sempat menjajal AI “Dreamily” yang hasilnya “cukup baik.” “Terobosan sebenarnya datang pada akhir 2023 ketika teknologi AI melesat, yang akhirnya memungkinkan kami memutuskan untuk mengubahnya menjadi game penuh,” ujarnya. Lanjut Xu, tantangan terbesar bukan lagi persoalan teknis, melainkan bagaimana menyusun alur cerita jangka panjang yang kohesif.

Seberapa sulit mempelajari AI untuk jadi inti mekanis dari game ini?

Xu menuturkan bahwa mempelajari penggunaan AI sebagai alat tidak terlalu sulit bagi timnya. Hal ini karena sang produser memang ahli di bidang tersebut. “Produser kami memang ahli di bidang AI, jadi ia membimbing kami sepanjang proses pembuatan game,” ujar Xu.

Konsep di mana cerita pemain memengaruhi senjata yang dihasilkan terdengar unik, terinspirasi dari mana ide ini?

Credit Image: Ada Eden

Xu mengungkapkan bahwa mekanik unik dalam game yang di mana cerita yang dituturkan pemain memengaruhi senjata yang dihasilkan, terinspirasi dari kutipan filsuf Ludwig Wittgenstein yaitu “The limits of my language stand for the limits of my world.” “Kami ingin bahasa bisa berubah menjadi sesuatu yang nyata,” jelasnya. Konsep itu kemudian dipadukan dengan latar 1001 Nights. Dalam kisah aslinya, sang raja gemar mendengar dongeng dan sang putri harus terus menunda akhir cerita demi menyelamatkan hidupnya, hingga akhirnya mereka hidup bahagia.

Namun, tim Ada Eden merasa cerita akhir tersebut kurang seru, sehingga mereka menawarkan ending lain. Dalam versi mereka, sang tokoh utama memiliki kemampuan untuk “mengubah bahasa menjadi kenyataan” dan menggunakan kekuatan itu demi membalas dendam pada sang raja yang telah kejam membunuh para pengantin tiap malam. Dari situlah lahir inti konsep 1001 Nights, kata yang ditulis pemain menjelma menjadi senjata, mengiringi cerita sang tokoh utama menuju balas dendam.

Bagaimana game ini menilai cerita yang “bagus,” dan apakah mungkin pemain menulis cerita bagus tapi dapat senjata yang lemah?

Xu menjelaskan bahwa sistem dalam game dirancang untuk menilai cerita pemain berdasarkan beberapa aspek, seperti logika, koherensi, kesesuaian dengan sejarah, serta apakah cerita tersebut menyinggung sang raja. “Kalau pemain menulis hal yang ngawur misalnya menyebut ‘roket’ tanpa penjelasan, raja tidak akan menganggap penjelasanmu. Tapi kalau ada alasan yang masuk akal, bisa saja diterima,” jelasnya. Menurut Xu, kualitas senjata sangat bergantung pada tulisan pemain. Jika ceritanya bagus, biasanya senjata yang dihasilkan juga kuat, dan kasus di mana cerita bagus menghasilkan senjata buruk sangat jarang terjadi.

Apa mekanisme game yang paling membanggakan untukmu secara personal?

Xu menyebut fitur yang paling dibanggakannya adalah “Storybook”, yakni galeri yang menyimpan setiap cerita yang dituturkan pemain seperti perpustakaan pribadi. “Setiap kali sebuah cerita diceritakan, game ini akan mengoleksinya, bahkan membuat judul dan ringkasan otomatis. Itu memberikan rasa pencapaian dalam proses bercerita,” ujarnya.

Jika AI bisa digunakan secara maksimal, fitur atau gameplay apa yang paling ingin Anda wujudkan?

Xu mengatakan bahwa saat ini game mereka masih berada pada tahap “mengubah bahasa menjadi senjata.” Namun, jika sistem AI bisa digunakan tanpa batas, ia berharap bisa membawa konsep game ini lebih jauh. “Di masa depan, kami ingin AI mampu menghasilkan cerita yang utuh, seperti model atau scenes,” ungkapnya. Meski saat ini aset yang dibuat seperti karakter dan latar pixel art masih digambar manual oleh tim, Xu optimis perkembangan AI ke depan dapat memungkinkan konten visual yang langsung terhubung dengan cerita untuk tercipta secara otomatis.

Apa batasan konten yang dihasilkan oleh AI sampai sistem crash?

Credit Image: Ada Eden

Xu menuturkan bahwa gamenya tidak benar-benar “crash,” namun ada kemungkinan AI keluar jalur jika cerita pemain terlalu rumit dan panjang. Untuk mengatasi hal ini, tim developer merancang mekanik “Inspiration Card” yang membantu pemain melanjutkan kisahnya ketika buntu. “Kami memberikan kartu yang bisa melanjutkan cerita berikutnya. Misalnya, jika pemain mendapatkan kartu ‘Black Cat’, maka detail kecil akan otomatis mengembangkan cerita dan membantu pemain terus menulis,” jelasnya.

Pixel art memang ada daya tarik tersendiri, tapi tidak semua orang menyukainya. Apakah kalian akan mencoba gaya art lain ke depannya?

Xu mengakui bahwa pemilihan pixel art karena keterbatasan dari studio indie. Menurutnya, pixel art lebih mudah dikelola karena sumber daya yang relatif lebih sedikit digunakan, sekaligus mampu menghadirkan nuansa retro yang ingin mereka pertahankan. “Sebagai tim indie, kemampuan produksi kami terbatas. Pixel art lebih ringan dan tetap memberikan daya tarik klasik yang sesuai dengan visi kami,” ujarnya.

AI masih banyak erornya, misalnya kadang teks berbahasa Mandarin dibalas campuran Inggris, atau gambar kurang presisi. Apakah menurutmu “ketidaksempurnaan” ini justru menambah keseruan game ini?

Xu justru melihat ketidaksempurnaan AI sebagai bagian dari daya tarik game. Ia mencontohkan, ada kalanya sang raja tiba-tiba marah dan merubah alur cerita pemain, misalnya saat pemain menulis tentang pahlawan melawan monster, raja bisa membuat pahlawan itu mendadak terluka. “Hal-hal tak terduga ini justru selaras dengan desain karakter sang raja, yang memang dibuat untuk susah diprediksi. Ketidakpastian itu membuat pengalaman bermain terasa lebih hidup,” jelasnya.

AI game masih tidak lazim di pasar dan banyak orang masih salam paham tentang itu, bagaimana menurutmu mengenai hal itu?

Credit Image: Ada Eden

Xu mengakui bahwa masih ada stigma dan kesalahpahaman terhadap game AI. Menurutnya, banyak orang belum memahami apa itu game AI yang bersifat native, karena konsepnya masih sangat baru dan unik. “Di media sosial, kami selalu menjelaskan bahwa AI hanya digunakan untuk membuat sang raja bercerita atau menghasilkan gambar senjata.” jelasnya.

Saran apa yang Anda ingin katakan kepada tim developer yang ingin membuat game berbasis AI?

Credit Image: GamerWK

Xu memberikan saran bagi tim developer yang ingin mencoba mengembangkan game berbasis AI. Ia menekankan pentingnya memikirkan secara matang hubungan antara input dan output, yaitu apa yang ingin dihasilkan AI dan informasi apa yang akan digunakan untuk mengarahkannya. “Selain itu, mulailah bereksperimen dengan AI yang gratis atau yang murah. Tidak semuanya butuh AI tercanggih, karena banyak tugas sederhana bisa ditangani dengan baik oleh model yang lebih ringan,” tuturnya.

“Demo dari game 1001 Nights sudah tersedia secara gratis di Steam. Sebelum perilisan resmi, kami akan meluncurkan pembaruan besar. Kami berharap semua orang mau mencobanya,” tutup Xu

Info tentang game menarik ini bisa langsung dicoba demonya DI SINI.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:
 
Follow @GamerwkID
 

Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!
@gamerwk_id
Tags: beritaEventIndustriPCSemuaWawancara
ShareTweetShare
Previous Post

Neptunia Resmikan Website Baru untuk Sambut Perayaan Anniversary ke-15

Next Post

The Seven Deadly Sins: Origin Buka Pendaftaran Closed Beta untuk PS5 dan PC

Related Posts

Rangkuman wawancara kami dengan Masayuki Hirano selaku producer DRAGON BALL XENOVERSE 3 yang sudah membahas tuntas mengenai premis gamenya
Wawancara

Wawancara DRAGON BALL XENOVERSE 3 – Bahas Tuntas Konsep Baru dan Rencan Jangka Panjang AGE 1000!

October 1, 2026
Simak review kami untuk Total War: WARHAMMER III - Lords of the End Times yang menghadirkan empat campaign Immortal Empires baru sekaligus
PC

Review Total War: WARHAMMER III – Lords of the End Times! Antara Standar dan Ambisius!

Grasshopper Manufacture yang merupakan studio pimpinan Suda51 kini sudah lepas dari NetEase dan kembali beroperasi secara independen
Berita

Grasshopper Manufacture Berpisah dari NetEase dan Kembali Jadi Dev. Independen

October 1, 2026
Football Manager 27 akhirnya punya tanggal rilis resmi dan dipastikan gamenya bakal meluncur secara global mulai 10 November 2026.
Berita

Football Manager 27 Resmi Rilis 10 November 2026, Ada Early Access 2 Minggu

October 1, 2026
Tiga seleksi game utama untuk semua pelanggan PlayStation Plus di bulan September 2026 akhirnya sudah diumumkan
Berita

PlayStation Plus Umumkan Lineup Game Utama Untuk Oktober 2026

October 1, 2026
Map GTA 6 disebut punya ukuran sekitar dua kali lebih besar dibanding GTA 5, sekaligus menjadi map terbesar.
Berita

Map GTA 6 Dua Kali Lebih Besar dari GTA 5, Punya Sistem Bencana Seperti Badai

October 1, 2026
Next Post
Netmarble membuka pendaftaran Closed Beta The Seven Deadly Sins: Origin yang kali ini hanya dikhususkan untuk para pemain PS dan PC

The Seven Deadly Sins: Origin Buka Pendaftaran Closed Beta untuk PS5 dan PC

Discussion about this post

FACEBOOK KAMI

YOUTUBE KAMI

TWITTER/X KAMI

Follow @GamerwkID

UPDATE MOBILE GAMES

Developer Spiral AI ngumumin kalau RyzaChat: AI bakal mulai membatasi input dari pemain lewat update model AI pada Oktober.

RyzaChat AI Bakal Batasi Chat Pemain Demi Jaga Marwah Karakter dan Seri Atelier

by Taufik
October 1, 2026
0

Developer Spiral AI ngumumin kalau RyzaChat AI, game chatbot RPG berbasis Atelier Ryza, bakal mulai membatasi input dari pemain lewat...

Developer sekaligus publisher ODD No ngumumin kalau versi offline Link! Like! Love Live! bakal dihapus dari Google Play dan App Store.

Game Mobile Link! Like! Love Live! Versi Offline Bakal Dihapus Karena Developer Bangkrut

by Taufik
September 30, 2026
0

Developer sekaligus publisher ODD No ngumumin kalau versi offline Link! Like! Love Live! bakal dihapus dari App Store dan Google...

Diablo Immortal akhirnya kedatangan event kolaborasi besar terbaru dengan serial komik Spawn garapan Todd McFarlane

Diablo Immortal Sudah Mulai Adakan Event Kolaborasi Besar dengan Spawn

by Fadhil
September 30, 2026
0

Diablo Immortal akhirnya kedatangan event kolaborasi besar terbaru dengan serial komik Spawn garapan Todd McFarlane.

Monster Hunter Outlanders kini sudah mendapat kepastian jadwal rilis untuk akhir Oktober di platform Android dan iOS

Monster Hunter Outlanders Akhirnya Dipastikan Rilis Bulan Depan untuk Android dan iOS!

by Fadhil
September 29, 2026
0

Monster Hunter Outlanders kini sudah mendapat kepastian jadwal rilis untuk akhir Oktober di platform Android dan iOS.

Opera GX telah mengumumkan kolaborasi spesial dengan Persona 5: The Phantom X yang memungkinkan pemain berburu reward in-game

Opera GX Umumumkan Kolaborasi dengan Persona 5: The Phantom X yang Membawa Beragam Reward Menarik

by Fadhil
September 25, 2026
0

Opera GX telah mengumumkan kolaborasi spesial dengan Persona 5: The Phantom X yang memungkinkan pemain berburu reward in-game.

  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd