Saat Red Raketa Studio mulai mengembangkan Kalanoro di Madagaskar pada 2021, pendirinya memiliki ambisi besar untuk menciptakan game hebat di negara mereka sendiri dan memperkenalkannya kepada pemain di seluruh dunia.
Dari yang awalnya hanya terdiri dari tiga orang, kini tim mereka berkembang menjadi delapan anggota seiring semakin besarnya skala proyek perdana mereka. Bagi sebagian besar anggota, ini merupakan pengalaman pertama mereka mengembangkan sebuah game dari awal. Karena itu, seluruh proses pengembangannya menjadi pengalaman yang penuh tantangan sekaligus sangat berarti bagi mereka.

Studio ini menggabungkan talenta dari berbagai bidang, mulai dari programming, game design, seni visual, hingga pembuatan konten. Tiga pendiri bersama studio ini adalah Steevie Harifidy Rasoanaivo (Game Designer & Combat Gameplay Programmer), Dina Valisoa Ratsisetraina (Narrative Designer & Lead Level Designer), dan Luana Karen Andriamamonjy (Producer).
Mereka memimpin tim bersama Richard Navalona (Management Gameplay Programmer & Porting), Irchad Thong Sang (Game Systems & Infrastructures Programmer & Porting), Roddy Razafindrakoto Nirina (Lead 3D Generalist & Environment Artist), Volahary Rakotondramanana Rabeharisoa (Programmer), dan Levi-stéphane Andrianavalona Rakotoarimanana (Level Designer).
Selain anggota tim inti, pengembangan Kalanoro juga mendapat dukungan dari komunitas yang lebih luas. Studio ini bekerja sama dengan sekitar sepuluh rekan dan seniman freelance asal Madagaskar untuk membantu pengerjaan animasi, aset 3D, concept art, desain user interface, sound design, dan musik original. Kolaborasi tersebut berhasil mengembangkan sebuah ide lokal menjadi salah satu game penting dalam sejarah industri game Madagaskar yang masih terbilang muda.
Mengadaptasi Cerita Rakyat Hutan dengan Kehidupan Madagaskar

Dalam cerita rakyat Madagaskar, Kalanoro biasanya digambarkan sebagai makhluk misterius yang cukup menyeramkan dan tinggal jauh di dalam hutan lebat. Tapi Red Raketa memilih untuk tidak mengikuti mitos aslinya begitu saja. Sebaliknya, mereka menjadikan legenda tersebut sebagai inspirasi untuk menciptakan karakter utama sendiri bernama Kalakely. Ia merupakan seorang protagonis yang ceria, penuh rasa ingin tahu, dan sedikit naif, tetapi selalu bersemangat dalam memulai petualangannya.
Sentuhan unik ini terlihat dari gaya visual dan unsur komedi dalam game yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di Madagaskar. Daripada menggunakan senjata sakti atau benda legendaris, Kalakely menghadapi musuh dengan apa pun yang tersedia di sekitarnya, terutama sandal rumah dan wajan. Seperti yang diungkapkan pihak developer: “Mengapa tidak menyelamatkan dunia dengan apa pun yang ada di tangan?”
Tim developer juga memasukkan elemen budaya lokal yang populer, seperti taxi-brousse, yaitu kendaraan angkutan umum berupa taksi atau bus yang umum dijumpai di jalanan Madagaskar. Ide ini muncul di tengah proses pengembangan setelah studio memutuskan untuk membatalkan sistem pengelolaan desa yang sebelumnya direncanakan. Sebagai gantinya, mereka beralih ke konsep perjalanan darat atau road trip musikal yang penuh keceriaan.
Bagi Red Raketa, keseimbangan ini sangat penting. Mereka tidak ingin menjadikan budaya sendiri sebagai bahan ejekan atau karikatur. Sebaliknya, unsur autentik Madagaskar ingin mereka jadikan identitas dunia game tersebut, sementara unsur komedinya berasal dari tingkah laku unik para karakter dan berbagai situasi kacau yang menghibur.
Perpaduan Gameplay Action Platformer dan Nuansa Santai

Mengatur tempo sebuah game petualangan bukanlah perkara mudah, terutama ketika harus berpindah antara aksi 3D platforming yang cepat dan pengelolaan kendaraan dengan tempo lebih santai. Dalam Kalanoro, pemain akan terus bergantian melakukan lompatan dan bertarung, kemudian bersantai di dalam taxi-brousse bersama anggota band, memasak makanan, serta mengurus kebutuhan teman-teman lemur mereka.
Red Raketa menggunakan konsep perjalanan darat sungguhan, di mana perjalanan panjang tentu membutuhkan waktu untuk berhenti dan beristirahat. Para developer tidak ingin aktivitas di dalam bus hanya menjadi minigame tanpa tujuan atau tugas membosankan yang mengganggu alur permainan.
Karena itu, mereka memastikan setiap aktivitas santai memiliki fungsi tersendiri. Memasak dan mengobrol dengan para anggota band merupakan bagian dari cara pemain mengelola kelompok musik tersebut sekaligus mengembangkan jalan cerita. Perpaduan sistem ini menjadikan waktu istirahat di dalam bus sebagai kesempatan menyenangkan untuk mengambil napas, bukan gangguan yang merusak suasana permainan.
Hasilnya, pemain bisa merasa semakin dekat dengan teman-teman seperjalanan mereka. Dengan begitu, perjalanan tersebut terasa seperti petualangan bermakna bersama para sahabat, bukan sekadar berpindah dari satu rintangan ke rintangan berikutnya.
Musik sebagai Cara Menyelesaikan Konflik

Daripada mengikuti kisah fantasi klise tentang seorang pahlawan yang menggunakan pedang sakti, Kalanoro menjadikan musik sebagai cara untuk menyelesaikan konflik. Misi Kalakely untuk menghadapi antagonis bernama Raneny berawal dari sebuah ramalan aneh yang disampaikan Great Sage. Menurut ramalan tersebut, cara terbaik untuk mengalahkan penyihir jahat itu adalah dengan membentuk band terbaik dan menantangnya dalam sebuah konser.
Ide cerita ini memungkinkan tim developer menjadikan musik sebagai bentuk perlawanan yang positif. Daripada hanya mengandalkan kekerasan, musik menjadi sarana untuk menyatukan semua orang melalui kreativitas. Kalakely memang masih harus menghadapi berbagai musuh sepanjang perjalanan. Tapi misi utamanya adalah menyelamatkan para musisi, meningkatkan popularitas band, dan tampil di hadapan penonton lokal sebelum akhirnya menghadapi pertarungan konser terakhir.
Untuk memastikan musik dalam game benar-benar mencerminkan jiwa ceritanya, Red Raketa bekerja sama dengan sejumlah musisi lokal asal Madagaskar. Musisi ternama Ando Lalaina turut berkontribusi dalam lagu tema utama berjudul “Lemuria Banana”, yang ditulis oleh salah satu pendiri studio, Dina Valisoa Ratsisetraina, dan dikomposisikan oleh Rindra Ramili.
Bersama Ramili, studio ini juga mengembangkan sistem musik dinamis yang memungkinkan instrumen unik dari setiap lemur yang diselamatkan terdengar dengan jelas. Semakin banyak anggota yang bergabung dengan band, aransemen musiknya akan semakin ramai secara real-time. Dengan begitu, pemain bisa mendengar sendiri bagaimana band mereka berkembang menjadi semakin hebat.
Menghadapi Berbagai Tantangan Sebelum Kemudian Dilirik SEGA

Mengembangkan game penuh untuk PC dan konsol dari Madagaskar bukanlah pekerjaan mudah, terutama karena keterbatasan infrastruktur. Karena sebagian besar anggota tim belum pernah mengembangkan game sebelumnya, mereka harus mempelajari banyak hal sembari mengerjakan proyek tersebut. Mulai dari membangun alur produksi, memahami kebutuhan teknis, mengelola waktu dan tim yang semakin besar, hingga proses porting.
Kondisi di Madagaskar juga menghadirkan tantangan tersendiri. Pasokan listrik sering terputus, peralatan khusus sulit didapatkan, dan pendanaan lokal untuk proyek game sangat terbatas. Karena itu, mereka harus berpikir kreatif dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia sebaik mungkin.
Kemampuan beradaptasi tersebut membantu mereka bertahan pada tahap awal pengembangan. Beruntung, penerbit asal Prancis, New Tales, sudah percaya pada proyek ini sejak awal, ketika Red Raketa masih memiliki tiga anggota saja. Dukungan New Tales membantu tim tersebut berkembang dan menyelesaikan Kalanoro, sekaligus memberikan kebebasan kreatif sepenuhnya dalam mengembangkan dunia game tersebut.
Antusiasme studio semakin besar ketika SEGA ikut bergabung untuk menerbitkan dan mendistribusikan Kalanoro di Jepang serta sejumlah pasar pilihan di Asia. Bagi para anggota tim yang tumbuh besar dengan memainkan game klasik SEGA di Antananarivo, pengakuan ini terasa seperti mimpi. Suasana di kantor pun langsung dipenuhi reaksi terkejut hingga ada anggota yang spontan berkata, “Tunggu, SEGA? SEGA YANG ITU?!”
Bagi sebuah tim kecil dari Madagaskar yang sedang mengembangkan game pertama mereka, melihat nama besar seperti SEGA mencoba build game tersebut, menyukai hasilnya, dan membantu membawanya ke pasar internasional merupakan pencapaian yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Memperkenalkan Budaya Madagaskar kepada Pemain

Kini, setelah Kalanoro mulai dimainkan oleh pemain di seluruh dunia, Red Raketa berharap para pemain bisa menikmati petualangan menjelajahi Lemuria, terus terngiang-ngiang dengan lagu-lagunya, dan menyukai karakter-karakter lemur penari yang hadir di dalamnya. Tujuan utama mereka adalah menghadirkan sebuah petualangan santai dan menyenangkan yang dipenuhi karakter menarik, musik, humor, serta sedikit kekacauan yang menghibur.
Pada yang sama, pihak studio menyadari kalau bagi banyak pemain di luar sana, Kalanoro mungkin menjadi pengalaman pertama mereka mengenal budaya atau memainkan game buatan Madagaskar. Tapi para developer menegaskan kalau mereka tidak bermaksud menyampaikan pelajaran budaya secara formal.
Sebaliknya, mereka ingin menjadikan game ini sebagai undangan bagi para pemain untuk mengenal cerita rakyat, satwa liar, budaya, dan musik negara mereka melalui sebuah petualangan yang menyenangkan. Apa yang terpenting adalah bagaimana mereka ingin membuktikan kalau cerita menarik dan talenta kreatif bisa datang dari tempat yang tidak terduga, termasuk Madagaskar.
Red Raketa sangat berterima kasih kepada semua pemain yang telah menyambut Kalanoro dan membawanya ke rumah masing-masing. Mereka juga berharap game perdana ini bisa membuka jalan bagi lebih banyak kreator game dari Madagaskar untuk memperkenalkan karya mereka kepada dunia.
Jika tertarik memainkan gamenya, Kalanoro kebetulan sudah rilis sejak Agustus lalu di platform PlayStation 5, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC via Steam. Ini termasuk salah satu hidden gem tahun ini dan pastinya wajib untuk dilirik para penikmat genre platformer.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post