Di tengah banyaknya game AAA dan indie yang terus bermunculan, Cygames punya pendekatan baru lewat CygamesEdge, sub-brand yang lebih fokus mengembangkan game berskala kecil sampai menengah. Salah satu proyek pertamanya adalah Where the Seeds Fall, game dengan konsep unik yang ternyata lahir dari kompetisi internal perusahaan dan awalnya cuma dibuat oleh satu orang.
Dalam interview eksklusif di gamescom asia x Thailand Game Show 2026, kami berkesempatan ngobrol dengan Hamada Shuichiro, Brand Producer Cygames sekaligus pemimpin CygamesEdge. Ia bergabung dengan Cygames sejak 2019 dan terlibat dalam pengembangan divisi game konsol yang saat itu masih punya banyak proyek belum diumumkan.
Sebelumnya, ia juga pernah menangani berbagai proyek seperti Granblue Fantasy dan Shadowverse. Sekarang, Hamada lebih fokus mengembangkan CygamesEdge sekaligus menangani Where the Seeds Fall.

CygamesEdge Dibentuk untuk Menggarap Game yang Lebih Kecil dan Fleksibel
Cygames sudah dikenal lewat berbagai franchise besar seperti Granblue Fantasy, Shadowverse, sampai Umamusume. Namun, perusahaan ini melihat peluang lain yang belum tentu cocok dikerjakan lewat pendekatan produksi berskala besar. Karena itulah mereka membentuk CygamesEdge, sebuah sub-brand yang masih berada di bawah Cygames, tetapi punya fokus mengembangkan dan menerbitkan game dengan skala lebih kecil.
Menurut Hamada, keputusan tersebut muncul karena selera gamer terus berubah dalam beberapa tahun terakhir. Game AAA memang masih punya pasar besar, tetapi game indie dengan konsep unik juga semakin populer. Cygames sendiri tetap berfokus menjangkau audiens luas lewat proyek besarnya, sementara CygamesEdge hadir untuk memenuhi kebutuhan pemain yang lebih spesifik dengan pendekatan pengembangan yang lebih ringkas.
“Kami merasa kebutuhan dan selera pemain terus berubah. Karena itu, kami ingin punya ruang pengembangan yang lebih ringkas dan fleksibel agar bisa menghadirkan pengalaman bermain yang lebih beragam,” ujar Hamada Shuichiro.
Dengan pendekatan ini, CygamesEdge bisa lebih bebas mengeksplorasi ide yang mungkin terlalu spesifik untuk sebuah game AAA. Mereka tidak selalu harus membuat game dengan dunia superbesar atau konten puluhan jam, karena pengalaman bermain yang lebih singkat juga bisa menarik selama konsep dan kualitasnya tetap bagus.

Tidak Terpaku Genre Tertentu, CygamesEdge Juga Mencari Developer untuk Diajak Kerja Sama
Menariknya, CygamesEdge punya tiga pendekatan dalam mengembangkan game. Pertama, proyek bisa dikerjakan sepenuhnya oleh tim kecil internal Cygames. Kedua, mereka bisa bekerja sama dengan studio eksternal untuk melakukan pengembangan bersama. Sementara pendekatan ketiga adalah menyerahkan proses pengembangan kepada pihak luar dan CygamesEdge hanya bertindak sebagai publisher.
Artinya, mereka juga aktif mencari game dari developer lain yang sekiranya cocok untuk diterbitkan. Hamada mengonfirmasi bahwa mereka memang mencari berbagai proyek potensial, termasuk lewat kesempatan bertemu developer dari luar perusahaan. Namun, proyek tersebut tetap harus sejalan dengan visi Cygames untuk menghadirkan konten terbaik bagi pemain.
Soal genre, Hamada menjelaskan bahwa mereka tidak punya batasan tertentu. Cygames selama ini memang cukup identik dengan game bergaya anime dan JRPG, tetapi CygamesEdge justru ingin mengeksplorasi berbagai konsep berbeda. Mereka lebih mementingkan seberapa menarik sebuah ide dibanding sekadar mengikuti genre yang sudah terbukti sukses.
“Kami tidak terpaku pada genre tertentu. Hal yang paling penting buat kami adalah seberapa menarik ide game tersebut dan apakah game itu bisa memberikan pengalaman yang menarik bagi pemain,” ujar Hamada Shuichiro.
Nama CygamesEdge sendiri juga mencerminkan pendekatan tersebut. Mereka ingin mencari game yang bisa sedikit melampaui batas atau menawarkan sesuatu yang tidak biasa, tetapi bukan sekadar aneh tanpa alasan. Untuk jumlah proyek, Hamada menyebut target ideal mereka adalah merilis dua sampai tiga game setiap tahun, meskipun angka tersebut belum bisa dijanjikan karena proses pengembangan game sulit diprediksi.
Where the Seeds Fall Ternyata Awalnya Cuma Proyek Satu Orang
Berbicara soal Where the Seeds Fall, Hamada mengungkapkan bahwa game ini awalnya lahir dari kompetisi internal Cygames sekitar dua tahun lalu. Kompetisi tersebut memungkinkan karyawan dari berbagai departemen membuat game dalam waktu terbatas, kurang lebih seperti hackathon yang dilakukan di luar jam kerja. Dari berbagai proyek yang dibuat, prototype Where the Seeds Fall akhirnya terpilih sebagai game terbaik.
Menariknya, prototype tersebut awalnya cuma dikerjakan oleh satu orang yang bekerja sebagai level designer di Cygames. Bentuk gamenya masih sangat sederhana, hanya menggunakan karakter seperti manekin dan level yang terlihat polos tanpa banyak detail. Namun, konsep utama berupa mekanisme aksi jatuh menuju permukaan sudah ada sejak awal, dan hal tersebut langsung menarik perhatian Hamada.
“Prototype awalnya sangat sederhana, hanya karakter seperti manekin dan level yang polos. Tapi konsep aksi jatuh menuju permukaan sudah ada sejak awal, dan saya langsung melihat potensinya,” ujar Hamada Shuichiro.
Kebetulan, pada periode yang sama Cygames juga sedang membicarakan rencana membentuk CygamesEdge. Hamada merasa konsep jatuh yang unik dari Where the Seeds Fall sangat cocok dengan visi brand baru tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan mengembangkan prototype itu menjadi game sungguhan sekaligus menjadikannya salah satu proyek pertama CygamesEdge.

Pasar Game Indie Makin Padat, AI dan Ribuan Game di Steam Jadi Tantangan Besar
Ketika ditanya soal masa depan industri game indie dalam lima tahun ke depan, termasuk perkembangan platform seperti Steam dan pengaruh AI, Hamada justru memberikan pandangan yang cukup menarik. Menurutnya, beberapa tahun mendatang kemungkinan bakal cukup kacau karena membuat game semakin mudah, sementara jumlah game yang dirilis terus meningkat.
Ia mencontohkan bahwa sekitar 20.000 game dirilis di Steam sepanjang tahun sebelumnya, sehingga pemain semakin kesulitan menentukan game mana yang benar-benar bagus. Masalah tersebut juga dirasakan developer dan publisher karena mendapatkan perhatian pemain menjadi semakin sulit, bahkan ketika game yang mereka tawarkan sudah punya konsep menarik.
Hamada kemudian menceritakan pengalaman CygamesEdge ketika mengikuti Steam Next Fest yang berlangsung sebelum wawancara. Mereka berharap event tersebut bisa meningkatkan jumlah wishlist sekaligus menarik banyak pemain untuk mencoba demo. Hasilnya memang meningkat, tetapi tidak sebesar ekspektasi mereka karena menurut Hamada ada sekitar 8.000 game yang mendaftar untuk event tersebut.
“Saya rasa beberapa tahun ke depan bakal cukup kacau karena AI mulai masuk. Jumlah game yang dirilis sudah sangat banyak, dan pemain semakin sulit menentukan game mana yang benar-benar bagus,” ujar Hamada Shuichiro.
Hamada juga mengakui bahwa mereka tidak mengetahui secara pasti bagaimana algoritma Steam maupun platform lainnya bekerja dalam merekomendasikan game. Ditambah lagi, perkembangan AI membuat proses pembuatan game semakin mudah, meskipun menurutnya kualitas banyak game yang dibuat menggunakan AI saat ini masih rendah. Dengan semakin banyaknya game yang masuk ke pasar, CygamesEdge merasa cara terbaik untuk bersaing adalah terus meningkatkan kualitas game mereka, bukan sekadar mengejar jumlah rilis.

CygamesEdge Tegaskan Bukan Studio Indie, Where the Seeds Fall Hanya Butuh 3 sampai 4 Jam untuk Tamat
Menjelang akhir wawancara, Hamada menegaskan satu hal penting, yaitu CygamesEdge tidak menganggap dirinya sebagai studio atau perusahaan indie. Meski mengembangkan game dengan skala lebih kecil, mereka tetap merupakan bagian dari Cygames yang punya dukungan sumber daya berbeda dibanding studio independen.
Hamada juga menyampaikan rasa hormatnya kepada developer indie yang sering kali harus membuat game sendirian atau bersama tim sangat kecil dengan waktu dan sumber daya terbatas. Meski begitu, ia mengakui bahwa CygamesEdge tetap bersaing di pasar yang sama karena game mereka kemungkinan menyasar kelompok pemain yang juga menikmati game indie.
“Kami tidak menganggap diri kami sebagai perusahaan game indie. Kami adalah sub-brand dari Cygames, dan kami sangat menghormati studio indie yang sering bekerja dengan satu orang atau sumber daya yang sangat terbatas,” ujar Hamada Shuichiro.

Perbedaan utamanya terletak pada pendekatan produksi. CygamesEdge memang sengaja menggunakan tim yang lebih ringkas dan membuat pengalaman bermain yang lebih padat dibanding game AAA. Sebagai contoh, Hamada mengungkapkan bahwa Where the Seeds Fall hanya membutuhkan sekitar tiga sampai empat jam untuk diselesaikan, sesuai dengan konsep game yang ingin mereka hadirkan.
Dari sisi pengembangan, Hamada juga mengonfirmasi bahwa tim inti Where the Seeds Fall terdiri dari sekitar 10 orang, termasuk dirinya sendiri. Jumlah tersebut menunjukkan bagaimana CygamesEdge mencoba menghadirkan game dengan konsep menarik tanpa harus melibatkan tim besar.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id






![[GCAxTHGS26] Wawancara Persona 4 Revival Bareng Atlus – Bahas Soal Aika Nakamura, Ragam Perombakan Baru, hingga Musik!](https://cdn.gamerwk.com/2026/11/P4R-Gamescom-Asia-Interview-350x250.jpg)






Discussion about this post