Memperkenalkan budaya Asia Tenggara ke seluruh dunia jadi salah satu tujuan utama, bahkan mungkin yang paling penting, bagi Metronomik dalam mengembangkan Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale.
Game action-adventure yang menggabungkan rhythm dan puzzle ini menghadirkan Kaya sebagai karakter utama, seorang gadis yang menggunakan sendok raksasa sebagai senjatanya. Sepanjang permainan, game buatan studio asal Malaysia ini bakal memperkenalkan pemain dengan berbagai cita rasa makanan, musik, dan cerita rakyat, yang menggabungkan unsur tradisional dengan gameplay yang gampang dinikmati.
Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale belum lama ini muncul di Nintendo Direct, yang membuat gamenya semakin dikenal secara internasional berkat dukungan Bandai Namco Entertainment.
Kami berkesempatan ngobrol dengan Wan Hazmer, co-founder, CEO, sekaligus game director Metronomik, bersama Kotaro Usui selaku produser dari Bandai Namco, untuk membahas pengaruh budaya dalam game ini, proses pengembangannya, sampai ambisi studio tersebut membawa game asal Asia Tenggara ke pasar global.

Karya Penuh Dedikasi dari Asia Tenggara
Sebelum mengerjakan Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale, Hazmer sebenarnya sudah sering memasukkan budaya Malaysia ke dalam karyanya, mulai dari roti canai yang muncul di Final Fantasy XV sampai pengaruh musik dalam No Straight Roads. Lewat game terbarunya ini, studio tersebut ingin membawa unsur budaya lokal lebih jauh lagi, sambil memastikan pemain internasional tetap bisa merasa dekat dengan dunia yang mereka buat.
“Saya biasanya menyebutnya ‘relevansi global’, yaitu sesuatu yang benar-benar bisa terasa dekat dengan banyak orang.”
Tim developer juga menjelaskan dua hal yang selalu mereka perhatikan ketika ingin memperkenalkan budaya Asia Tenggara. Menurut Hazmer, budaya yang ditampilkan harus punya keunikan khas daerah tersebut, tapi cara penyampaiannya juga harus bisa dipahami dan terasa relevan secara global. Dia mencontohkan berbagai tema universal yang bisa dipahami banyak pemain, seperti jatuh cinta, putus cinta, sampai hubungan keluarga.

Hazmer menggunakan congkak, permainan tradisional yang populer di berbagai negara Asia Tenggara, sebagai contohnya. Dengan memperkenalkannya sebagai permainan yang biasa dimainkan saat kecil, pemain internasional bisa menghubungkannya dengan pengalaman masa kecil mereka sendiri, meskipun permainan yang mereka kenal mungkin berbeda.
“Seberapa banyak budaya yang dimasukkan sebenarnya tidak sepenting bagaimana budaya itu ditampilkan. Kalau disampaikan dengan cara yang relevan, orang-orang akan menghargainya dan jadi penasaran.”
Hazmer merasa pemain sekarang semakin tertarik dengan setting game di luar dunia medieval dan sci-fi yang selama ini sering mendominasi industri gaming. Menurutnya, Malaysia dan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan, termasuk Indonesia, Thailand, dan Singapura, punya banyak hal unik yang menarik untuk dieksplorasi oleh developer.
Pelajaran Berharga dari No Straight Roads
Game pertama Metronomik, No Straight Roads, juga membantu tim memahami bagaimana pemain internasional merespons identitas budaya yang mereka tampilkan. Hazmer masih ingat ketika melihat streamer dari luar Asia Tenggara begitu antusias mendengar berbagai ekspresi dan aksen khas Malaysia dalam rap battle melawan DK West.
Melihat reaksi mereka membuat Hazmer dan timnya semakin percaya diri untuk memasukkan lebih banyak unsur budaya lokal ke proyek berikutnya.
“Sebagian orang Malaysia malu menunjukkan identitas mereka sendiri karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berkualitas rendah. Dulu, sesuatu yang disebut ‘lokal’ memang sering dianggap punya kualitas rendah.”
No Straight Roads juga jadi batu loncatan bagi tim untuk mempelajari banyak hal penting soal pengembangan game. Contohnya, banyak boss di No Straight Roads dibuat secara khusus satu per satu, sehingga developer cukup kesulitan ketika harus memperbaiki bug dan menjaga konsistensi setiap pertarungan. Pengalaman ini akhirnya membuat mereka memikirkan ulang pendekatannya dan menggunakan desain yang lebih modular untuk Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale.
Menurut Hazmer, pendekatan tersebut membantu menekan biaya produksi sekaligus mempermudah tim untuk memperluas dunia dan gameplay gamenya.

Studio ini juga ingin menghadirkan suara-suara lokal ke dalam pengalaman bermain. Meskipun daftar pengisi suaranya belum diumumkan, Hazmer mengatakan bahwa tim ingin para aktor menggunakan aksen alami mereka sendiri, bukan mengikuti gaya bahasa Inggris Amerika yang sering digunakan dalam iklan.
Dialog dalam game nantinya bakal menggunakan berbagai kata dan ekspresi bahasa Melayu yang sudah akrab bagi masyarakat Malaysia maupun Asia Tenggara lainnya, lengkap dengan beragam aksen bahasa Inggris khas Malaysia. Hazmer juga menyinggung pengalaman yang cukup familiar bagi orang-orang yang tumbuh besar di kawasan ini, termasuk menghadapi tante-tante yang suka ribut.
“Ada orang yang cerita soal tantenya yang cerewet dan terus bertanya kapan mau menikah dan punya anak. Aksen seperti itu juga kami masukkan ke dalam game.”
Perpaduan Makanan dan Musik

Hazmer mengatakan bahwa tujuan lain dari Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale adalah menggabungkan dua hal yang paling dia sukai, yaitu makanan dan musik.
Dia menjelaskan bahwa alih-alih menggunakan kekuatan elemen seperti tanah, air, dan api yang biasa ditemukan di JRPG, game ini justru menggunakan berbagai profil rasa. Hal ini juga sempat diperlihatkan dalam trailer, ketika Kaya terlihat mengambil ondeh dari sebuah genangan air dan menggunakannya dengan berbagai cara. Hazmer menambahkan bahwa game ini bakal menghadirkan masam (asam), manis, dan berbagai rasa lainnya sebagai pengganti “elemen” dalam dunianya, tetapi dia belum bisa membocorkan lebih banyak detail untuk sekarang.
“Perpaduan antara berbagai profil rasa dan beat musik adalah mekanik utama game ini. Setiap profil rasa memberikan efek yang berbeda, tapi saya belum bisa menjelaskan secara pasti apa saja efeknya. Begitu gamenya rilis, kalian bakal tahu lebih banyak.”
Dari sisi musik, pengaruh budaya lokal juga terasa sampai ke soundtrack. Trailer gamenya menghadirkan lagu tradisional “Rasa Sayang”, tetapi para komposer juga memasukkan berbagai instrumen dan elemen melodi khas Asia Tenggara ke dalam musik yang terdengar lebih modern.
Hazmer menjelaskan bahwa musiknya harus cocok dengan setting dunia fantasi dalam game, bukan sekadar memasukkan lagu tradisional begitu saja tanpa perubahan.

Cerita rakyat Asia Tenggara juga menjadi inspirasi untuk berbagai boss dalam game, termasuk Induk Serigala dan Tarifiman. Hazmer mengatakan bahwa tim mempertimbangkan peran setiap karakter dalam cerita rakyat, pola visual, musik yang mengiringinya, sampai desain dungeon tempat pertarungan berlangsung. Dungeon tersebut bakal memperkenalkan berbagai hal yang nantinya harus diterapkan pemain ketika menghadapi boss, sehingga inspirasi budayanya benar-benar terhubung langsung dengan gameplay.
Dari Pertarungan Mecha ke Kuliner Asia Tenggara

Bagi Usui, Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale jelas sangat berbeda dari proyek-proyek sebelumnya yang banyak berhubungan dengan game mecha besar, termasuk seri Gundam Breaker. Meskipun begitu, sang produser mengatakan bahwa prinsip utamanya dalam mengembangkan game tetap sama.
“Saya tetap berkomitmen untuk mengeluarkan pesona dan daya tarik sebenarnya dari sebuah karya semaksimal mungkin, lalu memperkenalkannya kepada dunia dengan tetap menghormati kreator aslinya.”
Usui sudah tinggal di Jepang selama beberapa tahun, sehingga Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale terasa sangat menyegarkan baginya. Ketika pertama kali mengenal proyek ini, dia bahkan menyebut dirinya sebagai “penggemar pertama di Jepang yang langsung terpikat dengan karya ini.”
The reveal trailer for Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale is finally out!🥄We are deeply honored to announce our partnership with @BandaiNamcoSEA as our publishing partner✨
Thank you for all the incredible love and patience along the way. Stay tuned for more updates!
#OndehOndeh https://t.co/OS1COZPowx
— Metronomik – Wishlist Ondeh Ondeh & NSR2 now! (@MetronomikIncEN) September 10, 2026
Proyek ini juga memperkenalkan Usui dengan makanan khas Malaysia. Dia mengaku sangat menikmati kesempatan mencicipi ondeh ondeh autentik selama berada di Malaysia, termasuk berbagai makanan manis yang terinspirasi dari jajanan tradisional tersebut. Setelah proses pengembangan game selesai, dia berharap bisa merayakannya lewat sebuah pesta dengan berbagai hidangan klasik khas Malaysia.
Membawa Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale ke Nintendo Direct
Usui kemudian menjelaskan bahwa hubungan baik Bandai Namco Entertainment dengan Nintendo, ditambah koordinasi antara tim regional dan global mereka, ikut membantu Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale tampil di Nintendo Direct. Secara terpisah, Hazmer juga memberikan apresiasi kepada executive producer Idir Alexander yang sudah bekerja keras menawarkan game ini ke berbagai calon partner, sampai akhirnya Bandai Namco Entertainment Asia melihat potensinya dan membantu mengamankan kerja sama publishing.
Pihak publisher juga memberikan banyak masukan langsung selama proses pengembangan. Berbekal pengalaman mereka dalam mengerjakan rhythm game, Bandai Namco Entertainment Asia bekerja sama dengan Metronomik untuk urusan quality assurance, responsivitas rhythm, keseimbangan tingkat kesulitan, sampai feedback dari pemain. Lewat playtesting rutin, tim bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki agar input terasa lebih memuaskan, serta petunjuk visual maupun audio yang perlu dibuat lebih jelas, sambil tetap memastikan gamenya gampang dinikmati pemain baru.
Pesan untuk Developer Asia Tenggara
Hazmer berharap Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale bukan cuma bisa memberikan pengalaman bermain yang seru, tetapi juga mendorong developer Asia Tenggara untuk lebih percaya diri menunjukkan identitas budaya mereka.
“Untuk orang-orang Asia Tenggara, saya ingin game ini jadi bukti bahwa menunjukkan game, budaya, dan identitas kalian ke dunia adalah sesuatu yang luar biasa. Jangan malu. Yang penting, pastikan identitas itu benar-benar mencerminkan siapa diri kalian, lah. Itulah yang saya harapkan dari Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale.”

Lewat Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale, Metronomik ingin memperkenalkan budaya Malaysia dan keberagaman Asia Tenggara kepada lebih banyak pemain melalui sebuah petualangan yang terinspirasi dari makanan, musik, cerita rakyat, dan berbagai pengalaman unik yang menjadi ciri khas kawasan ini.
Studio tersebut juga sudah mendapatkan banyak pengalaman sejak mengembangkan No Straight Roads, dengan para anggota tim yang saling berbagi pengetahuan, menawarkan solusi baru, dan membawa sudut pandang berbeda selama proses pengembangan. Hazmer mengatakan bahwa timnya sekarang jauh lebih siap untuk mewujudkan berbagai ide mereka, terutama karena dia ingin menunjukkan kepada pemain internasional apa yang sebenarnya bisa dicapai oleh developer Asia Tenggara.

Sang director juga ingin pemain internasional bisa menikmati visual, musik, dan dunia dalam game ini, sekaligus jadi semakin tertarik mengenal Asia Tenggara. Ketika mengingat kembali respons terhadap penampilan game ini di Nintendo Direct, Hazmer mengaku begitu terharu sampai meneteskan air mata.
Untuk sekarang, fokus utamanya tetap membuat game yang menyenangkan untuk dimainkan, sambil terus mendorong developer lain agar berani memperkenalkan identitas mereka sendiri kepada dunia.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post