Selama gelaran IGDX 2025, kami berkesempatan wawancara langsung dengan Agung Chaniago, Country Head Level Infinite Indonesia. Dalam sesi santai tapi penuh insight ini, Agung banyak bercerita tentang perkembangan industri game di Indonesia, serta bagaimana program GameSeed bisa membuka jalan buat para pengembang lokal yang ingin naik kelas dan dikenal dunia.
Level Infinite sendiri saat ini menaungi empat game besar yang sangat populer di Indonesia: PUBG Mobile, Honor of Kings, NIKKE, dan Path of Exile 2. Dengan pengalaman membawa judul-judul global ke pasar lokal, Agung punya pandangan unik soal apa yang sebenarnya dibutuhkan industri game Indonesia agar bisa bersaing.
Mendukung Talenta Lokal Lewat GameSeed

Saat ditanya seberapa efektif program GameSeed dalam membantu pengembang game lokal, Agung menyebut ada tiga manfaat utama yang bisa dirasakan langsung oleh para developer Indonesia.
Pertama, eksposur global. “Program ini jadi semacam jalan resmi bagi developer lokal untuk bisa dilihat, bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia,” jelasnya. Lewat GameSeed, developer yang biasanya kesulitan menembus pasar internasional jadi punya kesempatan untuk tampil di radar publisher besar.
Tapi bukan cuma soal dilihat dunia, GameSeed juga menawarkan hal yang nggak kalah penting: mentorship. “Mereka punya mentor yang sangat bagus, bukan cuma dari kami, tapi juga dari developer dan publisher internasional lainnya,” tambah Agung. Menurutnya, bimbingan dari para senior industri ini bisa membantu developer memahami bagaimana cara membuat game yang lebih matang, sekaligus tahu bagaimana pasar global akan merespons karya mereka.
Pilar ketiga adalah dukungan dari pemerintah. Buat Agung, keberadaan pemerintah dalam inisiatif seperti ini bukan hanya memberi kepercayaan diri, tapi juga membuka peluang networking yang lebih luas antara developer dan publisher.
Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Developer Indonesia

Agung kemudian membedakan kebutuhan antara studio besar dan tim indie kecil. Menurutnya, developer yang sudah mapan perlu fokus membangun infrastruktur dan ekosistem internal.
“Kalau dibandingkan dengan developer global, mereka sudah punya ekosistem lengkap—mulai dari QOL (quality of life), publishing, sampai creative studio dan tenaga kerja yang solid,” jelas Agung. Ia menilai developer Indonesia masih perlu memperkuat fondasi lokal, seperti sistem pendukung kesejahteraan tim, infrastruktur publishing, dan sumber daya kreatif, sebelum berpikir ekspansi global.
Sementara untuk developer indie yang masih terbatas secara sumber daya, Agung menyarankan strategi berbeda: pahami tren pasar. Ia mencontohkan fenomena game viral “Need for Seat” yang sukses karena menggabungkan humor lokal dengan nostalgia. “Saya sendiri waktu kecil main Need for Speed, dan hampir semua orang di sini juga tahu game itu. Jadi waktu versi parodinya muncul, langsung nyambung,” ujarnya.
Menurut Agung, pendekatan seperti ini—mengangkat unsur budaya dan kebiasaan lokal—adalah langkah cerdas untuk developer indie yang ingin membangun basis pemain sebelum melangkah lebih jauh.
Lokalisasi Jalan Dua Arah

Salah satu topik menarik adalah soal lokalisasi—bukan hanya membawa game global ke Indonesia, tapi juga bagaimana game Indonesia bisa diterima di luar negeri.
Agung menjelaskan bagaimana Level Infinite menerapkan strategi ini lewat beberapa game-nya. Di PUBG Mobile, misalnya, mereka menghadirkan lebih dari lima skin lokal dan bahkan membuat map yang terinspirasi dari Crystal Bay, Bali. Sementara di Honor of Kings, yang berasal dari Tiongkok, mereka menambahkan karakter Garuda dan skin batik agar lebih dekat dengan pemain Indonesia.
“Hal seperti ini bisa dipelajari kalau kita mau masuk pasar global. Intinya, harus tahu cara menyesuaikan budaya dan selera pasar yang dituju,” katanya. Namun, ia juga realistis bahwa untuk studio kecil, tantangannya tetap besar karena persaingan di level global sangat ketat.
Belajar dari PUBG Mobile dan Indomie

Ketika membahas strategi lokalisasi PUBG Mobile, Agung membagikan contoh kolaborasi yang cukup unik dan efektif. “Kami cari hal-hal dari budaya Indonesia yang semua orang kenal, tapi tanpa harus punya hak cipta,” jelasnya.
Salah satu hasilnya adalah kerja sama dengan Indomie, merek mi instan paling terkenal di Indonesia. Mereka menciptakan item dalam game seperti tas yang desainnya mirip kardus Indomie. “Yang menarik, biaya yang dikeluarkan nol rupiah,” ungkapnya.
Kedua pihak saling mendukung secara promosi: Level Infinite merayakan ulang tahun Indomie ke-50 lewat event dalam game, sementara Indomie membantu mempromosikannya lewat kanal marketing mereka. “Kolaborasi seperti ini bisa jadi inspirasi buat developer lokal juga,” saran Agung. Menurutnya, banyak brand besar Indonesia yang bisa jadi mitra potensial untuk game lokal jika ada ide kreatif yang tepat.
Bukan Cuma Bikin Game, Tapi Paham Bisnisnya

Agung juga menekankan bahwa kemampuan teknis saja nggak cukup. Developer perlu memahami sisi bisnis dan pemasaran dari game yang mereka buat.
Selain materi edukasi, GameSeed memberikan kesempatan networking dengan publisher besar, baik lokal maupun global. “Mereka bisa terus berhubungan dengan kami, atau dengan publisher lain untuk cari peluang kolaborasi dan belajar lebih banyak,” katanya.
Ia juga membagikan contoh nyata dari pengalaman Level Infinite sendiri. Saat menimbang untuk membawa game basket NBA ke Indonesia, timnya memutuskan untuk tidak melanjutkan, karena setelah riset, ternyata minat masyarakat Indonesia lebih kuat ke sepak bola. “Identifikasi pasar itu penting banget sebelum bikin game,” tegasnya.
Visi Jangka Panjang Level Infinite
Saat ditanya apa motivasi Level Infinite mendukung GameSeed, Agung menjawab dengan sederhana tapi jelas: tumbuh bersama industri.
“Kami ingin mendukung komunitas game lokal, karena kalau industri ini tumbuh, kami juga ikut berkembang,” ujarnya. Ia juga mengaku tertarik dengan hasil karya peserta GameSeed. “Kami juga ingin belajar dari mereka, bukan cuma membimbing. Siapa tahu ada game menarik yang bisa dikembangkan lebih jauh.”
Ketika ditanya apakah Level Infinite tertarik untuk mem-publish game buatan Indonesia, Agung menjawab diplomatis, “Kemungkinannya nggak nol. Kami akan lihat dan eksplor lebih lanjut setelah melihat hasil game-nya.”

Membawa Tren Global ke Pasar Lokal
Di akhir wawancara, Agung menegaskan strategi utama Level Infinite di Indonesia: mengambil tren global dan menyesuaikannya dengan budaya lokal.
“Strategi kami adalah bagaimana membuat lokalisasi jadi nilai jual baru di Indonesia,” jelasnya. Ia mencontohkan kolaborasi PUBG Mobile dengan G-Dragon, yang jadi bukti bahwa pendekatan budaya lintas negara bisa sangat efektif.
Lewat GameSeed dan dukungan komunitas lokal, Agung percaya masa depan industri game Indonesia akan semakin cerah. Kuncinya ada pada keseimbangan: pahami pasar lokal, kuasai sisi bisnis, bangun koneksi, dan kembangkan game dengan strategi jangka panjang.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post