Industri game mobile gacha di Jepang dulu sempat berjaya banget, terutama di akhir 2010an. Tapi masuk era 2020an, model seperti ini mulai kehilangan tenaga. Pasarnya makin penuh sesak, semua berlomba bikin gacha versi masing masing, dan pemain pun mulai sadar kalau kebanyakan game gacha tidak bertahan lama. Banyak yang curiga umur game live service biasanya cuma dua sampai tiga tahun, dan sisanya cuma kasus spesial. Ternyata setelah diteliti, angkanya memang setajam itu.
Ayashii Rinjin, seorang penulis game yang fokus meneliti industri gacha dan live service, ngebagiin hasil riset pribadi yang lumayan ngeri. Dari database berisi hampir 2.200 game live service, lebih dari 70 persen game resmi tutup sebelum masuk tahun ketiga. Bahkan, tahun kedua adalah titik paling umum mereka mengumumkan end of service. Bisa dibilang, banyak game yang bahkan tidak sempat berkembang sebelum akhirnya menyerah.
ソシャゲが3年で死ぬというソースを調べていてふと自分が集めた現在約2200件あるサービス終了リストの集計を見たら3年目までに終了したゲームが7割ぐらいで、ウ、ウワー!!ってなってる pic.twitter.com/k7N1u3whZy
— 怪しい隣人 (@BlackHandMaiden) November 12, 2025
Kalau lihat kondisi pasar beberapa tahun terakhir, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Persaingan makin kacau, jumlah pemain terbatas, biaya pengembangan terus naik, sementara tenaga kerja makin sulit dicari. Beberapa orang di industri bahkan bilang ekosistem live service Jepang sekarang rasanya kayak kapal Titanic yang pelan pelan tenggelam. Bahkan game dengan modal besar pun makin sering gagal bikin momentum.

Contoh paling baru adalah Tribe Nine dari Akatsuki Games yang ikut diawasi developer Danganronpa. Game itu bakal tutup kurang dari setahun sejak rilis. Ada juga yang lebih cepat tumbang karena masalah pendanaan atau sistem monetisasi yang terlalu agresif. Salah satu yang paling parah terjadi di game NFT TOKYO BEAST, yang cuma bertahan dua bulan sebelum tutup. Ini bukan kasus langka, karena beberapa tahun terakhir banyak game mengalami nasib serupa.
Kalau lihat data Ayashii Rinjin lebih dalam, ngelola game live service ini kaya berjudi total. Lebih banyak game yang tutup dalam enam bulan pertama dibanding game yang bisa bertahan sampai tahun keenam atau ketujuh. Sekilas terlihat “high risk, high reward”, tapi bahkan kalau berhasil bertahan lama, itu bisa berubah jadi beban besar. Dragon Quest of the Stars misalnya, bertahan sepuluh tahun tapi akhirnya tutup karena masalah teknis yang menumpuk. Menurut programmer Eihigh, setelah satu dekade, kode game menumpuk utang teknis sampai tidak bisa dibereskan lagi.

Dengan kondisi pasar seketat ini, banyak developer mulai coba pendekatan yang lebih ramah pemain dan tidak terlalu mengandalkan gacha agresif. Kemunculan Genshin Impact juga jadi titik balik besar, karena ngasih standar baru soal kualitas gameplay dan cerita, bikin banyak game Jepang terasa kurang dalam. Sekarang makin banyak game besar dari China yang nyoba buang sistem gacha sepenuhnya, seperti Duet Night Abyss dan ANANTA. Kita lihat apakah developer game Jepang akan berbenah atau tidak.
Sumber: Automaton
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post