Stupid Never Dies berhasil menarik perhatian kami lewat premisnya yang absurd dan presentasi penuh gaya. Tapi hal paling menarik dari game ini adalah bagaimana transformasi monster dijadikan pondasi sistem pertarungannya. Ada banyak hal yang patut diapresiasi, mulai dari jajaran karakter yang unik hingga kebebasan untuk memakan musuh dan mencuri kemampuan mereka. GPTRACK50 jelas mencurahkan banyak upaya untuk membuat game pertamanya tampil beda, dan hasilnya cukup mengesankan dalam beberapa aspek.
Sayangnya gameplay yang ditawarkan tidak selalu mampu memenuhi potensi penuhnya. Meski dipasarkan sebagai action RPG, Stupid Never Dies justru terasa lebih seperti roguelite dengan dungeon yang harus dijelajahi berulang kali dan progres yang perlahan berkembang dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.
Struktur tersebut sebenarnya cukup efektif, tapi adanya time limit dan sejumlah restriksi dalam sistem combat kerap mengganggu pengalaman bermain kami. Mengesampingkan semua itu, harus diakui kalau ada game yang benar-benar menarik. Untuk mendapat gambaran lebih jelas akan kualtasnya, langsung saja simak rangkuman review lengkap kami pada artikel berikut.
Jalan Cerita
Stupid Never Dies mengambil latar dunia di mana manusia dan berbagai makhluk pernah hidup berdampingan. Semuanya berubah ketika para monster yang dipimpin KOM mengambil alih dunia dan membawa umat manusia ke ambang kepunahan. Meski di tengah situasi suram tersebut, ternyata masih ada ruang di mana sebuah kisah romansa bisa tercipta, dan dari sanalah kita akan berperan sebagai Davy, seorang zombie penakut yang secara tidak sengaja menemukan jasad seorang gadis manusia bernama Julia dalam keadaan membeku di sebuah pusat perbelanjaan. Davy langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan bertekad menghidupkannya kembali, tidak peduli betapa mustahilnya tujuan tersebut.
Untuk mewujudkan ambisinya, Davy bekerja sama dengan Dr. Frank Steiner yang lebih dikenal sebagai Doc yang memperkenalkannya pada kekuatan bernama Style Eat. Dengan memakan monster dan mencuri kemampuan mereka, Davy bisa menjadi cukup kuat untuk mengalahkan KOM sekaligus mendapatkan Overtechnology yang dibutuhkan sebagai kunci untuk menghidupkan kembali umat manusia. Tentu saja perjuangan menuju tujuan tersebut mengharuskannya menjelajahi banyak dungeon dan menghadapi musuh yang semakin berbahaya.

Game ini membagi gameplay loop antara pusat perbelanjaan yang menjadi markas Davy dan dunia bawah tanah tempat sebagian besar aksi berlangsung. Menariknya, pembawaan Davy berubah drastis tergantung pada lokasinya. Saat berada di permukaan / human layer, dia bergerak dan berbicara layaknya zombie yang hampir tidak berfungsi, menyeret tubuhnya ke mana-mana sambil mengucapkan dialog dengan lambat dan nyaris tanpa kehidupan. Begitu memasuki dunia bawah tanah, dia mendadak menjadi penuh energi dan mampu bergerak hingga berbicara dengan lancar. Kontras ini cukup lucu dan membuat Davy terasa lebih punya sisi unik daripada yang mungkin kita bayangkan dari penampilannya.
Karakter pendukungnya juga menjadi salah satu daya tarik utama. Ada Goyle, gargoyle yang berkeliling menggunakan troli belanja dengan kecenderungan suka melupakan sesuatu. Ada pula Acelino, manusia serigala pemarah tetapi cerdas yang bisa berubah menjadi Chihuahua menggemaskan, serta Bessie, zombie cantik sekaligus pengendara motor tangguh yang ingin menghidupkan kembali tokonya. Karakter-karakter ini terasa sangat menarik dan membuat pusat perbelanjaan jadi spot yang hidup.

Bagian yang justru benar-benar membuat ceritanya menarik adalah Davy sendiri. Keinginannya menghidupkan kembali Julia mungkin terdengar konyol, tapi game ini memperlihatkan tekadnya dengan cukup serius hingga membuat kita jadi ingin mendukung perjuangannya. Davy jelas bukan protagonis heroik pada umumnya. Pengabdiannya kepada seorang gadis yang bahkan belum begitu dikenalnya terasa aneh dan bahkan bisa terkesan creepy. Meski begitu, ada sesuatu yang menggemaskan dari betapa tulusnya dia menyayangi Julia.
Keterikatan emosional ini juga membuat setiap perjalanan ke dungeon terasa lebih bermakna. Ini karena kita bukan sekadar membantai monster demi menaikkan stats, melainkan membantu zombie kecil yang sedang jatuh cinta mendekati satu-satunya hal yang paling diinginkannya.
Lebih Terasa Seperti Roguelite daripada RPG
Terlepas dari label action RPG yang disandangnya, Stupid Never Dies pada dasarnya adalah roguelite. Gameplay loop utamanya berpusat pada menjelajahi dungeon, mengalahkan musuh, mengumpulkan berbagai upgrade, dan berusaha menjangkau dasar dungeon sejauh mungkin sebelum kembali ke markas. Setiap perjalanan memberi Davy kesempatan untuk menjadi lebih kuat, tapi sebagian besar progres tersebut hanya bersifat sementara. Karena itu kita harus mengulangi proses yang sama sambil perlahan meningkatkan kemampuan permanen untuk percobaan berikutnya.
Beberapa jam pertama bisa terasa menjengkelkan karena game ini membutuhkan waktu cukup lama untuk memperkenalkan seluruh mekaniknya. Tutorial dan adegan cerita disebar ke beberapa perjalanan dungeon singkat sehingga bagian awal terasa lebih bertele-tele daripada seharusnya. Saat kita akhirnya bisa menjalani ekspedisi dengan leluasa, game ini masih kembali menghadirkan tutorial atau menghentikan aksi untuk memberikan penjelasan tambahan. Ceritanya sendiri cukup menghibur, tetapi penyajiannya membuat progres awal terasa lambat.

Pengalaman bermain mulai terasa lebih menarik ketika gamenya memberi kita kesempatan menjalani ekspedisi yang lebih panjang. Davy bisa naik level selama berada di dungeon untuk meningkatkan HP, ATK, dan Defense. Dia juga mendapatkan Level-Up Receipt yang memberikan kemampuan pasif sementara dengan tingkat rarity berbeda. Bonus ini bisa memberikan pengaruh besar pada build yang digunakan, sehingga kita perlu mempertimbangkan kombinasi upgrade yang paling cocok daripada sekedar memilih bonus acak dengan angka terbesar.
Hanya saja level dan skill sementara tersebut akan hilang saat Davy kembali ke markas. Meski begitu, tidak semua progres ikut lenyap. Ada upgrade permanen termasuk bonus EXP yang membantu Davy naik level lebih cepat dalam ekspedisi selanjutnya. Ini membuat semua percobaan baru terasa memiliki tempo yang terus dioptimalkan. Kita juga bisa mengumpulkan komponen OT dan meminta Acelino mengolahnya menjadi equipment yang meningkatkan stats atau memberikan skill aktif maupun pasif. Dengan begitu, bahkan ekspedisi yang berakhir gagal tetap bisa membantu progress jangka panjang Davy, sehingga keharusan untuk memulai suatu dungeon run dari awal lagi tidak terlalu menyebalkan.

Dari sinilah struktur roguelite-nya mulai terasa memuaskan. Kita perlahan belajar menentukan musuh mana yang layak dilawan, upgrade kemampuan apa yang cocok dengan gaya bermain, serta cara memaksimalkan pacing dari setiap ekspedisi. Game ini juga memberi alasan untuk kembali memanfaatkan mekanik yang sudah dikenal ketika semakin banyak opsi terbuka bagi Davy.
Sayangnya time limit jadi sedikit memperumit pengalaman tersebut. Setiap ekspedisi menuntut kita memanfaatkan waktu yang tersedia sebaik mungkin. Meskipun ada beberapa cara untuk memperpanjang durasinya, timer ini bisa sangat menjengkelkan ketika kita sedang menjelajahi area baru, berusaha mendapatkan kemampuan khusus, atau menghadapi bos dengan HP yang sangat besar. Alih-alih menikmati pertarungan sesuai tempo bermain sendiri, kita harus terus-menerus memikirkan apakah masih ada cukup waktu untuk bertarung lebih lama.
Kami sebenarnya paham tujuan di balik mekanik ini. Batasan waktu bisa mendorong pemain untuk memprioritaskan encounter dengan musuh dan mempertimbangkan cara menggunakan sumber daya yang terbatas. Hanya saja dalam praktiknya, mekanik ini justru terasa terlalu membatasi, terutama ketika kita masih berusaha terbiasa dengan gamenya. Ada kalanya kami ingin mencoba Style baru atau menjelajahi area lebih jauh, tapi akhirnya kami mengurungkan niat karena khawatir akan membuat seluruh ekspedisi berakhir sia-sia. Stupid Never Dies memang semakin seru seiring progression yang lebih jauh, tapi pacing di awal yang lambat dan tekanan waktu yang terus menghantui membuat proses menuju titik tersebut lebih sulit daripada seharusnya.
Combat Seru yang Dihambat Berbagai Restriksi
Pertarungan merupakan aspek yang paling cepat mencuri perhatian kami. Pada dasarnya Davy memiliki serangan biasa, serangan spesial, kemampuan melompat, dan skill aktif. Untuk bertahan, kamu akan sering mengandalkan Stupid Parry. Jika dilakukan dengan tepat, parry ini bisa menangkis sebagian besar serangan musuh, termasuk beberapa serangan yang biasanya tetap memberikan damage. Damage yang diterima juga bisa dipulihkan kembali dengan menggigit musuh dan menyerap Core mereka. Dengan begitu, mekanik menyerang dan bertahan jadi saling berkaitan erat.
Sistem pertarungannya menjadi semakin menarik ketika kita mulai memanfaatkan Style Eat. Dengan memakan Core dari monster tertentu, Davy bisa berubah menjadi Style milik monster tersebut dan menggunakan kemampuan mereka. Werewolf Style misalnya, menawarkan gaya bertarung yang agresif dibandingkan Harpy dengan fokus pada mobilitas. Ada banyak wujud monster yang bisa ditemukan, sehingga kamu memiliki cukup banyak ruang untuk bereksperimen dengan gaya bertarung berbeda.

Tapi penggunaan transformasi ini membutuhkan pertimbangan. Berbeda dengan wujud zombie standar Davy, Style lainnya memiliki konsumsi terbatas sehingga kita tidak bisa bebas berganti bentuk kapan saja. Jika batasan suatu Style habis, kita harus mencari dan memakan monster sejenis untuk bisa menggunakannya kembali. Memakan monster yang Style-nya sudah terbuka tetap bermanfaat karena dengan itu kamu bisa meningkatkan Sync Level mereka, yang secara bertahap memberikan bonus stats tambahan.
Mekanik ini membuat perburuan monster memiliki fungsi lebih dari sekedar menghabisi musuh. Kita harus terus mempertimbangkan apakah sebaiknya memakan musuh untuk mengambil Core, menambahkan konsumsi Style, atau langsung melanjutkan progress menuju objektif berikutnya. Jika dipadukan dengan sistem upgrade kemampuan, pertarungan di game ini jadi terasa lebih menarik karena mendorong kita untuk memperhatikan keadaan sekitar. Mekanik transformasi ini merupakan salah satu ide paling kreatif dalam gamenya, dan kami berharap lebih banyak game sejenis bis memberikan kesempatan kepada pemain untuk mengubah musuh menjadi wujud yang bisa dimainkan.
Kontrolnya juga terasa cukup responsif. Davy bergerak dengan luwes, baik di markas maupun di dunia bawah tanah, sementara animasi yang penuh gaya membuat setiap serangan terasa memuaskan untuk dilihat. Presentasinya juga patut diapresiasi. Stupid Never Dies memiliki identitas visual yang kuat, mulai dari desain karakter yang kreatif hingga cutscene penuh energi dan tampilan UI yang terlihat stylish. Game ini memiliki kepribadian tersendiri dalam cara menyajikan aksinya, bahkan sebelum kita mulai membuka lebih banyak skill.

Hanya saja kontrol dan sistem pertarungannya bukan tanpa masalah. Kekurangan yang paling jelas adalah absennya fitur lock-on. Sistem tracking serangan pada musuh biasa umumnya bekerja cukup baik, tapi ini jadi kurang bisa diandalkan dalam pertarungan satu lawan satu, terutama ketika menghadapi bos. Kita harus terus menyesuaikan arah pandangan Davy secara manual sambil mempertahankan tekanan pada lawan. Ini bisa terasa canggung, dan kami sering berharap ada cara untuk tetap berfokus pada satu target tanpa kehilangan kebebasan bergerak mengitarinya.
Masalah ini semakin terasa ketika menggunakan Style tertentu. Wujud Harpy menawarkan mobilitas udara yang lebih baik dan serangan jarak jauh. Sebenarnya kombinasi tersebut terdengar berguna, tapi nyatanya serangan Harpy cukup sulit diarahkan karena kita sering kali harus diam di tempat agar bisa mengenai sasaran dengan tepat. Tanpa sistem lock-on, kita harus mengatur arah serangan secara manual sambil memperhitungkan pergerakan musuh. Akurasi beberapa serangan jarak jauhnya juga terasa kurang konsisten, sehingga penggunaan Style ini lebih merepotkan.
Serangan gigitan juga terkadang terasa canggung. Animasi serangannya mengunci gerakan Davy dan tidak bisa kamu cancel dengan bebas. Mengarahkannya ke musuh pun bisa sulit ketika lawan terus bergerak. Karena serangan ini memiliki cooldown, ada kalanya kita tidak bisa langsung menyerap Core di dekat kita saat membutuhkan persediaan Style tambahan. Dengan timer yang terus berjalan, kehilangan kesempatan berguna di mana kamu bisa mendapat upgrade sebelum melanjutkan progress dungeon seperti ini terasa sangat menyebalkan.

Masalah terbesarnya justru berkutat di tidak adanya gerakan dodge yang benar-benar bisa diandalkan. Davy memang bisa melompat dan menggunakan Stupid Parry untuk bertahan, tapi keduanya tidak terasa seperti pengganti yang memadai untuk gerakan menghindar. Beberapa musuh menyerang terlalu cepat sehingga sulit ditangkis dengan tepat waktu. Ada pula musuh yang memang sulit dihadapi dengan kemampuan yang tersedia. Harpy menjadi salah satu contoh paling menjengkelkan karena mereka bisa terus berada di luar jangkauan sambil melancarkan serangan tanpa henti. Tingkat encounter mereka yang tinggi cukup sering membuat masalah ini bukan sekedar gangguan sesekali, terutama ketika build yang digunakan kurang cocok untuk menghadapi musuh di udara.
Beberapa skill juga hanya bisa digunakan ketika Davy berada di darat, sehingga pertarungan melawan musuh terbang menjadi semakin merepotkan. Kita bisa menyiasati kekurangan ini dengan skill dari equipment tertentu, contohnya seperti Boost Drift yang memungkinkan Davy melakukan air dash sambil melancarkan damage. Kemampuan ini cukup berguna hingga kami sering mengandalkannya untuk menyerang sekaligus menjadi pengganti gerakan menghindar. Meski begitu, kemampuan quick-dash khusus yang sederhana akan membuat pertarungan terasa jauh lebih nyaman tanpa mengurangi tantangannya.
Variasi musuh juga perlu dibahas. Game ini memiliki beberapa monster yang menarik, tapi jumlah variasinya yang relatif terbatas membuat encounter jadi repetitif dengan cepat. Hal ini terutama terlihat ketika musuh seperti Harpy terus muncul dan menjadi sumber rasa frustrasi kami. Stupid Never Dies sebenarnya memiliki pondasi untuk sistem pertarungan yang luar biasa, tapi kombinasi pergerakan yang terbatas, sistem penargetan musuh yang canggung, dan timer yang menghambat eksperimen membuat potensinya belum bisa tercapai sepenuhnya.
Konten Sampingan

Saat berada di antara sela-sela ekspedisi dungeon, pusat perbelanjaan bukan sekedar tempat untuk mempersiapkan perjalanan berikutnya. Lokasi ini juga menjadi tempat untuk berinteraksi dengan karakter pendukung, memeriksa perkembangan terbaru, dan menemukan konten tambahan yang berkaitan dengan perjalanan Davy. Game ini cukup berhasil dalam memberikan alasan untuk menjelajahi markas. Sebuah indikator juga memberi tahu ketika ada sesuatu yang baru untuk kamu cek.
Salah satu konten tambahan yang menarik berkaitan dengan ponsel milik Julia, yang menyimpan Salvage Data berisi informasi tentang masa lalunya. Temuan ini memberikan konteks tambahan mengenai gadis yang ingin dihidupkan kembali oleh Davy, sehingga ceritanya memiliki kedalaman lebih daripada sekedar obsesi sang protagonis. Davy juga memiliki Diary yang mendokumentasikan pengalamannya sepanjang petualangan. Catatan tersebut menjadi cara lain untuk mengikuti perjalanan pribadinya.

Ada pula berbagai hadiah yang bisa didapat melalui Shutter Shop dengan menyelesaikan achievement tertentu. Konten ini memberikan insentif tambahan untuk mencoba berbagai sistem permainan dan memenuhi objektif khusus selama ekspedisi. Sementara itu, kita bisa memberikan hadiah kepada Julia untuk mengisi love gauge. Gauge tersebut kemudian bisa digunakan untuk mendapatkan bonus yang meningkatkan stats Davy. Sistem progression kecil ini terasa menggemaskan karena berkaitan langsung dengan hubungan utama mereka dalam cerita, sekaligus memberikan manfaat nyata dalam gameplay.
Aktivitas-aktivitas tersebut memang tidak terlalu rumit, tapi memberikan sensasi progress yang menyenangkan di markas. Daripada menjadikannya tempat untuk membeli equipment lalu langsung pergi, game ini mendorong kita untuk menyapa para karakter dan melihat perubahan yang terjadi setelah setiap ekspedisi. Mengingat karakter pendukungnya memiliki kepribadian yang kuat, momen-momen seperti ini sering kali layak untuk dinikmati sejenak.
Kami juga ingin memberi spotlight pada kualitas produksinya. Stupid Never Dies dipenuhi style pop-punk, desain karakter penuh warna, animasi yang ekspresif, serta tampilan UI yang rapi dan terasa selaras dengan keseluruhan presentasinya. Aspek visual merupakan salah satu keunggulan terbesarnya, dan game ini bahkan tidak terasa seperti proyek perdana sebuah studio. GPTRACK50 berhasil memberikan identitas visual yang khas pada dunia ini, dan menjadikannya mudah dikenali sejak awal.
Kesimpulan

Stupid Never Dies adalah game yang berujung memiliki keunggulan kuat. Ceritanya yang aneh dan menggemaskan terasa benar-benar menghibur, Davy dan teman-temannya menyenangkan untuk diikuti, sementara presentasi pop-punk memberikan identitas yang kuat. Lebih penting lagi, mekanik Style Eat merupakan ide fresh yang membuat sistem pertarungannya terasa berbeda dari game action lainnya. Memakan monster untuk mencuri kekuatan mereka bukan hanya sesuatu yang kreatif, tapi juga memuaskan. Berbagai sistem progressionnya turut memberikan alasan untuk terus bereksperimen dengan kemampuan Davy.
Masalahnya lebih ke bagaimana game ini sering kali memberikan batasan yang tidak perlu pada beberapa keunggulan tersebut. Time limit membuat ekspedisi dungeon terasa terburu-buru, sedangkan absennya manuver dodge dan fitur lock-on yang bisa diandalkan membuat beberapa pertarungan jauh lebih menyebalkan daripada seharusnya. Variasi musuh yang terbatas juga mulai terasa seiring waktu, sementara pacing di bagian awal membutuhkan waktu terlalu lama untuk membawa pemain masuk ke siklus gameplay utamanya.
Berbagai masalah ini sama sekali tidak menjadikan Stupid Never Dies sebagai game yang buruk. Justru ketika berbagai sistemnya mulai terbuka, ada banyak hal yang bisa dinikmati. Tapi kami jadi sering kali membayangkan betapa jauh lebih baiknya sistem pertarungan ini jika mendapatkan beberapa penyesuaian. Opsi bertahan yang lebih fleksibel, sistem penargetan musuh yang lebih baik untuk Style tertentu, serta timer yang tidak terlalu mengganggu akan sangat membantu membuat pengalaman bermain lebih konsisten dan seru.
Meski begitu, Stupid Never Dies tetap memiliki sesuatu yang istimewa. Game ini menghadirkan karakter-karakter memorable, cerita yang ternyata cukup menyentuh, serta identitas yang membedakannya dari game sejenis. Struktur roguelite-nya mungkin tidak cocok untuk semua orang, dan berbagai batasan dalam pertarungannya sulit diabaikan. Tapi ide-ide dasarnya cukup kuat untuk membuat kami bisa merekomendasikan game ini kepada siapa pun yang ingin mengikuti kisah romansa dramatis Davy hingga akhir.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
The Review
Stupid Never Dies
PROS
- Cerita seru dengan karakter yang memorable
- Mekanik Style Eat kreatif yang membuat combat selalu terasa fresh
- Kontrol mulus dengan animasi combat stylish
- Style bergaya pop-up dan kualitas presentasi keseluruhan yang menawan
- Progression ala roguelite yang cukup memuaskan
- Aktivitas sampingan yang lumayan menambah ekstra konten untuk dinikmati terutama untuk porsi ceritanya
CONS
- Pacing bagian awal yang lambat dengan banyak tutorial dan dungeon run singkat
- Time limit yang membuat eksplorasi dan pertarungan boss jadi menambah tekanan
- Tidak adanya fitur lock-on yang juga membuat beberapa encounter terasa canggung
- Karakter tidak memiliki manuver dodge bawaan yang bisa diandalkan selain dari workaround lewat build khusus
- Variasi musuh yang terbatas hingga membuat pengalaman bermain jadi cepat repetitif












Discussion about this post