Pokémon World Championships 2026 jelas sudah berada di level yang sangat berbeda dibanding satu dekade lalu. Tahun ini, kompetisi terbesar Pokémon tersebut kembali digelar di San Francisco dan hadir berdampingan dengan Pokémon XP, event yang dibuat bukan cuma untuk pemain kompetitif, tetapi juga fans Pokémon secara keseluruhan. Skalanya pun sudah benar-benar masif, mulai dari ribuan pemain, puluhan ribu pengunjung, area event yang sangat luas, sampai final yang digelar terpisah di Chase Center.

Di tengah Pokémon World Championships dan Pokémon XP 2026, kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang langsung dengan Christopher Brown, Director, Global Esports and Events at The Pokémon Company International. Ada banyak banget hal menarik yang dibahas, mulai dari alasan Pokémon Unite tidak hadir di Worlds tahun depan, Pokémon Champions sebagai masa depan kompetisi Pokémon, peluang Worlds kembali digelar di luar Amerika Serikat, perkembangan pemain dari berbagai negara, sampai bagaimana Pokémon XP sebenarnya sudah direncanakan sejak bertahun-tahun lalu. Simak wawancara kami!
Pokémon Unite Keluar dari Worlds, Pokémon Champions Jadi Masa Depan Kompetitif

Salah satu perubahan besar yang sudah dipastikan untuk Pokémon World Championships berikutnya adalah tidak hadirnya Pokémon Unite. Menurut Brown, keputusan tersebut merupakan bagian dari perubahan strategi mereka terhadap World Championships. Artinya, bukan berarti Pokémon Unite langsung ditinggalkan dari sisi kompetitif. Mereka justru sudah menyiapkan event besar tersendiri di Jepang pada awal tahun depan, lengkap dengan proses kualifikasi menuju event tersebut.
Untuk sekarang, fokus mereka masih menyelesaikan perjalanan Pokémon Unite di Worlds tahun ini dengan maksimal. Ada banyak tim yang datang untuk bertanding dan finalnya bakal digelar di Chase Center pada hari Minggu. Brown sendiri mengaku masih sangat antusias melihat seperti apa masa depan kompetitif Pokémon Unite setelah formatnya mulai berubah nanti.
Sementara itu, Pokémon Champions justru kelihatannya punya posisi yang sangat penting untuk masa depan esports Pokémon. Dari sisi pemain, Brown merasa game ini membuat proses membangun tim kompetitif menjadi jauh lebih gampang dibanding sebelumnya. Hambatan buat mulai bermain serius semakin kecil dan menurutnya Pokémon Champions adalah game Pokémon paling mudah diakses sejauh ini untuk pemain yang ingin masuk ke ranah kompetitif.

Tapi kalau dilihat dari sisi penyelenggara turnamen, ceritanya beda lagi. Karena Pokémon Champions merupakan game online, setiap pemain harus mendapatkan koneksi internet yang stabil. Kedengarannya sederhana, tetapi bayangkan menyediakan koneksi untuk lebih dari 600 pemain yang bertanding di World Championships secara bersamaan. Situasinya bahkan bisa lebih gila di Amerika Utara karena mereka biasa menggelar turnamen Swiss dengan sekitar 1.000 peserta.
Brown membandingkannya dengan sekitar sepuluh tahun lalu ketika perangkat Nintendo DS masih bisa menggunakan koneksi infrared. Secara operasional, sistem lama tersebut justru jauh lebih gampang ditangani. Sekarang internet menjadi salah satu tantangan terbesar penyelenggara, walaupun dari perspektif pemain, akses menuju pertandingan kompetitif justru jauh lebih simpel.
The Pokémon Company juga terus bekerja bersama developer untuk membuat Pokémon Champions semakin enak ditonton. Mereka melihat bagaimana game tersebut ditampilkan dalam broadcast, bagaimana penonton bisa mengikuti pertandingan dengan lebih gampang, dan berbagai hal lain yang bisa meningkatkan pengalaman esports secara keseluruhan. Brown bahkan cukup yakin dengan potensinya.
Menurut sang director, “Pokémon Champions bisa menjadi esports yang sangat kuat untuk Pokémon dalam jangka panjang.” Jadi meskipun transisi menuju game baru ini membawa tantangan teknis yang cukup besar, mereka melihat Champions sebagai salah satu fondasi utama kompetisi Pokémon ke depannya.
Pokémon XP Dibuat Supaya Fans Nggak Harus Jadi Pemain Kompetitif

Pokémon XP tahun ini terasa cukup berbeda karena event tersebut membawa banyak bagian dunia Pokémon ke satu tempat. Pertanyaannya tentu apakah konsep sebesar ini suatu hari nanti juga bisa hadir di Asia, termasuk dalam skala yang mungkin lebih kecil. Brown belum bisa memberikan jawaban spesifik soal wilayah Asia, terutama karena The Pokémon Company International sendiri hanya menangani World Championships untuk konteks tersebut, sementara event di masing-masing pasar bisa dikelola dengan pendekatan berbeda.
Meski begitu, filosofi Pokémon XP ternyata ingin mereka bawa lebih luas. Tujuannya adalah mengumpulkan berbagai cara orang menikmati Pokémon dalam satu event. Jadi seseorang nggak harus datang sebagai pemain VGC, TCG, Pokémon GO, atau Unite. Fans yang sekadar suka Pokémon pun harus punya sesuatu yang menarik untuk dilakukan.

Pendekatan tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan bahkan pada event kompetitif yang tidak memakai nama Pokémon XP. Mereka perlahan menambahkan semakin banyak pengalaman non-kompetitif supaya event Pokémon bisa menjadi tempat berkumpul seluruh komunitas. Brown merasa penting untuk menyediakan sesuatu bagi berbagai jenis fans sehingga nggak ada kelompok yang merasa ditinggalkan hanya karena mereka nggak tertarik mengejar gelar juara dunia.
Konsep tersebut ternyata berhasil menarik audiens yang cukup berbeda tahun ini. Sekitar 10 ribu pengunjung Pokémon XP berasal dari California, dan Brown bertemu cukup banyak orang yang baru pertama kali datang ke event Pokémon. Jumlah keluarga yang membawa anak-anak juga terasa lebih banyak dibanding event sebelumnya. Buat timnya, ini menjadi salah satu tanda bahwa menyediakan pengalaman di luar kompetisi memang punya arti besar.
Tentu masih banyak yang harus diperbaiki. Begitu formatnya berkembang menjadi convention untuk audiens yang lebih luas, muncul masalah klasik seperti antrean yang semakin panjang dan berbagai kebutuhan operasional baru. Brown mengatakan mereka bakal mempelajari semua itu untuk mencari cara membuat pengalaman berikutnya lebih nyaman.

Meski begitu, respons awalnya bahkan sedikit melampaui ekspektasi. Area Rayquaza Road, penampilan band, sampai panggung panel Pokémon XP terus ramai. Brown mengaku sempat khawatir apakah panggung panel bakal benar-benar terisi sepanjang hari, tetapi setiap kali melewatinya, tempat tersebut hampir selalu penuh dengan hanya beberapa kursi kosong. Respons seperti inilah yang membuatnya berharap konsep tersebut bisa dilanjutkan.
Soal apakah Pokémon XP bakal menjadi event tahunan, jawabannya masih belum pasti. Timnya memang sengaja ingin menjalankan event pertama ini terlebih dahulu, melihat hasil akhirnya secara keseluruhan, baru setelah itu membicarakan masa depan Pokémon XP.
Dari 4.000 Pengunjung Menjadi Event dengan Jutaan Kaki Persegi

Perkembangan Pokémon World Championships paling gampang terlihat kalau membandingkan San Francisco 2016 dengan 2026. Sepuluh tahun lalu, Worlds digelar di Marriott Marquis dengan luas sekitar 70 ribu kaki persegi, dihadiri kurang lebih 4.000 orang, dan Brown memperkirakan jumlah pemainnya saat itu sekitar 1.500 peserta.
Sekarang angkanya sudah jauh berbeda. Pokémon World Championships 2026 memiliki sekitar 2.700 pemain, menargetkan 50 ribu pengunjung unik, dan menghadirkan peserta dari lebih dari 52 negara dan wilayah. Area yang digunakan bahkan sudah menembus lebih dari satu juta kaki persegi.
Belum selesai sampai situ, final hari Minggu digelar di Chase Center sebagai produksi arena tersendiri dengan sekitar 15 ribu penonton. Di hari yang sama, sekitar 30 ribu orang diperkirakan masih berada di area convention. Setelah semua kegiatan tersebut selesai, malamnya masih ada pertunjukan drone di Ferry Building pada pukul 21.40.

Brown sendiri sampai menggambarkan situasinya dengan sangat sederhana, “Ini gila.” Dan kalau melihat angka di balik layar, memang nggak berlebihan. Sekitar 2.000 staf berada di lokasi untuk mendukung keseluruhan event, ditambah lebih dari 300 judge, sekitar 80 interpreter khusus untuk membantu bagian turnamen, serta ratusan brand ambassador, petugas keamanan, event coordinator, dan event manager.
Sebagai gambaran betapa besarnya perkembangan tersebut, jumlah staf mereka sekarang sudah mencapai sekitar setengah dari total seluruh pengunjung Worlds 2016. Event yang dulu bisa ditangani sebagai satu kesatuan sekarang sudah terlalu besar untuk dijalankan oleh satu tim saja.
Solusinya adalah membangun apa yang Brown sebut sebagai “team of many teams.” Ada tim yang selama lima hari fokus menyiapkan Chase Center dan secara fisik berada sekitar 15 menit dari venue utama. Mereka jelas nggak mungkin sekaligus mengurus kebutuhan di convention. Hal yang sama terjadi di dalam venue, karena orang yang mengurus pengalaman Rayquaza Road nggak mungkin sekaligus fokus ke panggung Pokémon XP dan World Championships.
Semua bagian akhirnya dibuat bisa beroperasi secara independen, tetapi tetap bergerak sebagai satu tim besar. Menurut Brown, sistem seperti inilah yang sekarang wajib dilakukan karena ukuran event sudah terlalu masif untuk menggunakan struktur organisasi yang sama seperti sepuluh tahun lalu.
Pokémon XP Sebenarnya Sudah Dipikirkan Sejak Sebelum COVID

Menariknya, Pokémon XP bukan ide yang tiba-tiba muncul setelah Pokémon semakin besar beberapa tahun terakhir. Konsep awalnya sudah dilempar sekitar enam tahun lalu, bahkan sebelum pandemi COVID. Pengembangan yang jauh lebih serius kemudian mulai berjalan sekitar empat tahun lalu, termasuk membangun struktur departemen dan tim yang nantinya dibutuhkan untuk menjalankan event sebesar ini.
Saat pertama kali ide tersebut muncul, keberhasilannya sama sekali belum terjamin. Pada periode itu, Brown bahkan merasa mereka belum pernah menjalankan World Championships dengan jumlah pengunjung lebih dari 10 ribu orang. Tiket event seperti Washington D.C. memang habis terjual, tetapi membutuhkan sekitar tiga hari, jadi demand-nya belum segila sekarang.
Karena itu, ada pertanyaan besar di internal mereka. Kalau Pokémon benar-benar mengeluarkan investasi besar untuk membuat event yang menggabungkan kompetisi dengan pengalaman convention untuk fans kasual, apakah orang benar-benar bakal datang?
Jawabannya sekarang sudah sangat jelas. Brown merasa salah satu hal paling memuaskan adalah melihat komunitas benar-benar datang dan menerima konsep tersebut. Ia juga memberikan kredit kepada berbagai perusahaan dan partner yang bekerja bersama untuk membangun event sampai akhirnya bisa berkembang sejauh ini.
Lucunya, kesuksesan itu sekarang malah menciptakan masalah baru. Lebih dari 100 ribu orang mendaftarkan ketertarikan mereka, sementara badge yang tersedia hanya sekitar 50 ribu. Menurut Brown, fenomena seperti ini bukan cuma terjadi di San Francisco, tetapi sudah menjadi tantangan di berbagai event Pokémon secara global, termasuk di Asia.
Target Berikutnya, Bukan 50 Ribu Orang Lagi tapi 250 Ribu

Dengan permintaan sebesar itu, tantangan masa depan bukan lagi membuktikan apakah fans tertarik datang. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Pokémon bisa memperbesar skala event supaya lebih banyak orang mendapatkan kesempatan merasakan pengalaman serupa.
Brown sadar nggak semua fans bakal bisa datang langsung ke World Championships. Karena itu, salah satu pemikirannya adalah membawa pengalaman yang mirip ke pasar lokal. Fans seharusnya nggak merasa melewatkan satu-satunya kesempatan hanya karena gagal mendapatkan badge Worlds. Harus ada lebih banyak kesempatan untuk menikmati event Pokémon dengan skala dan pengalaman yang terasa spesial.
Pembicaraan internal bahkan mulai masuk ke konsep yang jauh lebih besar, seperti apa artinya kalau Pokémon benar-benar “mengambil alih sebuah kota” ketika event berlangsung. Jadi bukan cuma satu convention center yang penuh Pokémon, tetapi pengalaman yang skalanya bisa meluas ke berbagai bagian kota.
Kalau tahun ini targetnya sekitar 50 ribu pengunjung, Brown sudah punya bayangan yang jauh lebih ambisius untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan. Menurutnya, “Sekarang kami punya 50 ribu orang. Seperti apa bentuknya kalau mungkin menjadi seperempat juta dalam lima atau sepuluh tahun?”
Artinya, Pokémon XP 2026 bisa saja baru menjadi awal eksperimen untuk melihat seberapa besar sebenarnya event Pokémon bisa berkembang.
Menang Itu Penting, tapi Pokémon Juga Mengajarkan Cara Kalah
Di balik seluruh angka besar tadi, ada sisi World Championships yang menurut Brown justru jauh lebih personal. Pemain bisa menghabiskan satu tahun penuh berlatih dan berkompetisi hanya supaya bisa sampai ke Worlds. Masalahnya, pada akhirnya cuma ada satu World Champion. Hampir semua orang yang datang pasti bakal merasakan kekalahan.
Brown sempat membaca feedback dari seorang orang tua yang anaknya bertanding di World Championships. Sang anak sempat memenangkan tiga pertandingan pertama, lalu kalah dalam empat pertandingan berikutnya. Setelah menghabiskan waktu sepanjang tahun untuk mencapai Worlds, hasil seperti itu tentu terasa sangat mengecewakan.
Namun justru di situlah Brown melihat salah satu nilai terbesar Pokémon kompetitif. Pemain dan orang tua bisa belajar bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan dengan baik, memahami kesalahan, lalu mencoba kembali dengan lebih kuat. Menurutnya, kekalahan bahkan menjadi salah satu sisi positif lingkungan kompetitif yang selama ini selalu ia coba dorong.
Bukan berarti semua fans harus punya mental kompetitif. Kehadiran Pokémon XP justru menjadi bukti bahwa mereka ingin memberikan lebih banyak ruang bagi fans yang nggak tertarik bertanding. Tetapi untuk mereka yang memang menyukai kompetisi, Pokémon bisa menjadi tempat belajar menghadapi tekanan, bangkit dari kegagalan, dan tetap bermain ketika kondisi mental sedang nggak berada di titik terbaik.
Brown juga sudah berkali-kali melihat momen kekalahan yang memperlihatkan kuatnya komunitas Pokémon. Setelah juara ditentukan, pemain sering kali saling mendekat dan berpelukan. Dalam salah satu pertandingan Pokémon GO, pemain yang baru saja kalah bahkan mengangkat tangan lawannya sendiri seolah mengatakan, “Ini juara kalian.”
Menurut Brown, pemandangan seperti itu mungkin nggak selalu ditemukan di banyak olahraga lain, tetapi cukup sering terjadi di Pokémon. Pemain bisa mengakui bahwa lawannya memang tampil lebih baik. Pada akhirnya pemenang dan yang kalah sama-sama memahami betapa sulit perjalanan yang mereka lewati untuk mencapai pertandingan tersebut.
Baginya, semua pengalaman itu bisa membuat pemain muda maupun pemain dewasa menjadi lebih kuat, bukan cuma saat bermain Pokémon, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Jepang dan Amerika Masih Kuat, tapi Juara Dunia Bisa Datang dari Mana Saja

Jepang sejak lama dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam kompetisi Pokémon, begitu juga Amerika Serikat. Menurut Brown, salah satu alasannya cukup sederhana. Kedua pasar tersebut sudah berkembang dalam waktu yang sangat lama, punya komunitas pemain besar, dan memiliki lebih banyak turnamen lokal yang membantu pemain terus berkembang.
Tetapi situasinya mulai berubah ketika melihat game yang kompetisinya dimulai relatif bersamaan di berbagai wilayah. Pokémon GO menjadi contoh paling menarik. Karena banyak pasar punya titik awal yang lebih mirip, peluang munculnya juara dari negara yang sebelumnya jarang menonjol menjadi jauh lebih besar. Brown mencontohkan bagaimana juara dunia Pokémon GO tahun lalu berasal dari India, negara yang secara historis tidak terlalu menonjol di kompetisi Pokémon lain yang mereka gelar.
Tujuan akhirnya adalah membuat pemain dari pasar mana pun merasa punya peluang nyata menjadi juara dunia. Untuk mencapai itu, kompetisi lokal harus terus tumbuh sehingga setiap wilayah bisa mengirim pemain terbaik mereka ke Worlds dalam kondisi yang benar-benar kompetitif.
Jumlah pemain dari tiap negara tetap menjadi faktor. Jepang dan Amerika biasanya berada di posisi pertama dan kedua dari sisi jumlah peserta karena basis pemain dan ekosistem turnamennya memang jauh lebih berkembang, khususnya untuk TCG. Karena itu, sistem kualifikasi juga dirancang supaya representasi masing-masing wilayah kurang lebih tetap proporsional dengan perkembangan komunitasnya.
Pokémon Ingin Junior, Senior, dan Masters Punya Jumlah Peserta yang Setara
Masalah representasi bukan cuma datang dari negara, tetapi juga kelompok umur. Sistem kualifikasi VGC sendiri bisa berbeda di setiap wilayah. Untuk konteks regional, Brown menjelaskan bahwa TPCI menangani Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin, dan Oceania, sementara pasar Asia Pasifik lainnya ditangani perusahaan induknya, The Pokémon Company. Karena itu, ia nggak bisa memberikan detail mengenai kebijakan kualifikasi di masing-masing pasar Asia.
Untuk World Championships sendiri, mereka punya target yang cukup jelas. Saat ini jumlah pemain kategori Masters kira-kira dua kali lebih banyak dibanding Junior dan Senior. Dalam jangka panjang, mereka ingin ketiga divisi tersebut punya representasi yang lebih seimbang.
Targetnya bahkan sudah dipikirkan untuk sekitar lima tahun ke depan. Yang menarik, cara mencapainya bukan dengan mengurangi slot Masters. Mereka justru ingin bekerja dengan berbagai pasar untuk mencari cara meloloskan lebih banyak pemain muda.
Menurut Brown, “Kami nggak akan melakukannya dengan mengambil jatah Masters. Kami ingin bekerja di semua pasar dan bertanya, bagaimana caranya meloloskan lebih banyak anak?” Jadi peningkatan jumlah Junior dan Senior memang sudah menjadi salah satu target aktif mereka.
Banyak Game dalam Satu Worlds, tapi Semua Harus Punya Momen Sendiri

Mengelola Pokémon World Championships juga semakin kompleks karena sekarang bukan cuma TCG dan video game utama yang harus dipikirkan. Ada Pokémon GO dan Pokémon Unite yang bergabung setelah pandemi, masing-masing dengan karakteristik kompetisi dan komunitas berbeda.
Jumlah pemain di Worlds salah satunya dipengaruhi seberapa lama sebuah game sudah menjadi bagian dari sirkuit kompetitif. TCG sudah memiliki Worlds sejak 2004, sementara video game baru masuk beberapa tahun setelahnya. Brown menyebut sekitar 2009, meskipun ia sendiri meminta angka tersebut jangan dijadikan patokan mutlak karena mungkin berbeda satu tahun. Pokémon GO dan Unite jauh lebih baru karena baru bergabung setelah COVID.
Karena itulah jumlah peserta GO dan Unite masih lebih kecil dibanding video game, sementara video game sendiri masih lebih kecil daripada TCG. Jumlah peserta Worlds juga nggak bisa langsung dipakai untuk menilai seberapa populer sebuah game secara keseluruhan. Pokémon GO, misalnya, punya jumlah pemain harian yang luar biasa besar. Lamanya sebuah game berada dalam sirkuit kompetitif tetap menjadi faktor penting karena jumlah slot biasanya terus bertambah sedikit demi sedikit setiap tahun.
Penempatan area kompetisi pun ternyata dipikirkan berdasarkan karakteristik gamenya. Game digital sengaja ditempatkan lebih dekat dengan panggung. Bukan karena dianggap lebih penting, tetapi karena area panggung penuh cahaya dan suara yang bisa mengganggu konsentrasi pemain.
TCG justru ditempatkan lebih jauh meskipun menjadi kompetisi terbesar. Karena permainannya bersifat lebih tactile dan nggak bergantung pada layar digital, suara keras dan lampu panggung bisa lebih mengganggu pemain. Jadi posisi yang terlihat kurang dekat dengan pusat keramaian sebenarnya sengaja dipilih demi kenyamanan kompetitor.
Meski ukuran masing-masing kompetisi berbeda, Brown menegaskan bahwa setiap game tetap harus mendapatkan momennya. Pada Final Sunday, setiap pertandingan final akan mendapat giliran tampil dan setiap World Champion harus mendapatkan penghormatan yang layak. TCG dan video game memang ditempatkan lebih belakangan dibanding Unite dan Pokémon GO karena sejarah kompetitifnya lebih panjang, tetapi tujuan mereka tetap memastikan semua gelar juara dunia terasa penting.
World Championships Nggak Akan Selamanya Digelar di Amerika Serikat

Beberapa tahun terakhir Worlds sudah membuktikan bahwa event tersebut bisa dibawa keluar Amerika Serikat, termasuk ke London dan Yokohama. Brown menegaskan bahwa secara jangka panjang, tujuan mereka memang membuat World Championships terus berpindah tempat sehingga komunitas dari pasar lain juga bisa merasakannya secara langsung.
Keputusan menggelar event di California dua kali punya alasan tersendiri. Sebagian besar tim mereka berbasis di area Seattle, sementara tahun ini mereka sedang membangun kemampuan organisasi untuk menghasilkan Pokémon XP dalam skala sangat besar. Karena itu, tetap berada relatif dekat dengan basis operasional mereka membantu proses membangun pengalaman dan struktur yang dibutuhkan.
London dan Yokohama menjadi bagian penting dari proses belajar mereka menjalankan Worlds di luar Amerika. Semakin sering dilakukan, timnya juga semakin memahami tantangan operasional yang muncul ketika event sebesar ini dibawa ke negara lain.
Brown tentu belum mau membocorkan kapan atau negara mana yang bakal mendapatkan giliran berikutnya. Informasi seperti itu harus menunggu pengumuman resmi, termasuk lewat closing ceremony. Tetapi satu hal yang bisa dipastikan darinya adalah, “Kami nggak berniat untuk selalu berada di Amerika Serikat.”
Dari Suka Charmander sampai Sekarang Anaknya Memilih Squirtle

Setelah panjang membicarakan kompetisi dan masa depan event Pokémon, Brown juga sempat membagikan cerita yang jauh lebih santai mengenai Pokémon favoritnya. Perjalanannya bersama franchise ini dimulai ketika Pokémon Red dan Blue hadir di wilayahnya. Saat berumur 11 tahun, ia memainkan Pokémon Red dan memilih Charmander sebagai starter.
Karena itulah jawabannya sampai sekarang tetap Charmander dan terutama Charizard sebagai Pokémon favorit. Brown sadar Charizard mungkin menjadi jawaban yang sangat umum, tetapi buat dirinya ada hubungan personal karena Pokémon tersebut berada di cover Pokémon Red dan berasal dari starter yang dipilihnya sejak kecil.
Sekarang pengalaman serupa mulai berlanjut ke generasi berikutnya di keluarganya, hanya saja pilihan Pokémon-nya berbeda. Putrinya yang sekarang berusia tiga tahun ternyata memilih Squirtle. Ketika anaknya masih berusia satu tahun, Brown meletakkan plush para Pokémon dan membiarkannya merangkak memilih sendiri. Sang anak akhirnya langsung menuju plush Squirtle.
Kamu bisa baca soal liputan lengkap kami soal PokémonXP 2026 DI SINI.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id











Discussion about this post