Sebagai penutup dari liputan kami Busan Indie Wave Conference, kami juga sempat menyimak sesi panel bertajuk “New Gameplay Experiences and the Future Shaped by AI” yang menghadirkan diskusi antara Heesu Suh (CEO Eleven Dot Studio), Jihoon Kim (CEO ALIENZ), Jiyun Kim (Leader TEAM.WOOTSANG), serta Profesor Deukwoo Lee. Mereka berbagi insight soal proses dan wawasan dalam mengintegrasikan AI ke dalam proyek game masing-masing.

Motivasi tiap developer dalam hal ini jelas berbeda. Jihoon Kim terinspirasi setelah melihat ayahnya membuat gambar dan musik dengan AI untuk YouTube, yang mana dia membayangkan potensi penerapannya pada game. Heesu Suh ingin melampaui keterbatasan pilihan permainan yang sudah ditentukan, dan bagaimana dia bereksperimen dengan ChatGPT untuk role-play sebagai Jedi dan merasakan interaksi imersif. Sementara itu Jiyun Kim menambahkan fitur obrolan AI untuk memperdalam karakter dan meningkatkan replayability dalam game dengan suatu cerita.
Semua sepakat kalau tantangan terbesar AI adalah sifatnya yang tidak dapat diprediksi, karena menjaga konsistensi karakter membutuhkan usaha besar. Jiyun Kim menjelaskan kalau selain memberikan tipe kepribadian ala MBTI, timnya mendokumentasikan latar belakang, nilai, dan larangan tiap karakter serta menyediakan banyak contoh dialog yang cocok. Hasilnya optimisasi prompt dan pergantian model berhasil memangkas waktu respon AI dari 1–2 menit menjadi sekitar 15 detik saja.

Meski demikian, ketidakpastian AI terkadang menghasilkan suatu keuntungan tak terduga. Jiyun Kim mengakui kalau AI yang lebih memprioritaskan konsistensi karakter dapat menciptakan dunia yang bahkan tidak dibayangkan perancangnya, sehingga ini memberi pengalaman meracik cerita yang lebih kaya. Para developer melihat kalau meski kontrol penuh untuk teknologi ini mustahil, interaksi pemain dengan AI yang menghasilkan kejutan bisa menjadi bentuk hiburan baru.
Mereka menekankan pentingnya prompt engineering untuk mengarahkan AI sesuai tujuan sang kreator. Jihoon Kim menyamakan keahlian ini dengan “resep restoran Michelin” yang bisa menjadi keunggulan kompetitif utama. Meski model AI berbayar menawarkan performa lebih baik, Heesu Suh menilai versi gratis pun sudah cukup menyenangkan, dan kekhawatiran biaya bisa diatasi dengan iklan yang tentu jadi pertimbangan realistis dalam bisnis pengembangan game.

Mereka yakin kedepannya AI akan membuat dunia game terasa lebih hidup. NPC di masa depan bisa mengingat interaksi pemain dan merespon secara personal, narasi bisa berkembang tanpa batas, dan pembuatan ruang 3D real-time seperti proyek “Genie” Google mungkin akan terwujud. Hanya saja mereka mengingatkan agar adopsi AI dilakukan secara bijak, dimulai dari penerapan kecil namun mendalam, dengan desain yang jelas dan tidak mengorbankan inti kesenangan bermain game.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post