NVIDIA membagikan lebih banyak detail soal DLSS 5 setelah fitur ini sempat jadi perbincangan sejak pertama kali diperkenalkan awal tahun ini. Kali ini, perusahaan menunjukkan bagaimana teknologi tersebut bekerja sekaligus memperlihatkan berbagai kontrol yang bisa dipakai developer untuk mengatur tampilan, intensitas, sampai seberapa besar pengaruh AI di dalam game. NVIDIA juga menegaskan kalau DLSS 5 bukan pengganti teknik rendering tradisional, melainkan pelengkap yang tetap menjaga visi artistik para kreator.
Dalam presentasinya di SIGGRAPH 2026, Director of Applied Deep Learning Research NVIDIA, Edward Liu, menjelaskan kalau DLSS 5 memanfaatkan AI generatif untuk meningkatkan tingkat fotorealisme sebuah adegan. Fokus utamanya ada di peningkatan pencahayaan, bayangan, hingga efek subsurface scattering yang membuat material seperti kulit atau objek transparan terlihat lebih natural.

Karena perubahan seperti itu bisa mengubah tampilan game cukup drastis, NVIDIA memberikan berbagai kontrol khusus untuk developer. Lewat fitur ini, artist bisa menentukan objek mana saja yang ingin diproses DLSS 5, sekaligus mengatur seberapa kuat efek AI diterapkan pada tiap objek.
Developer juga bisa memilih tiga model DLSS 5 yang berbeda. Masing-masing model punya data pelatihan dan parameter sendiri, sehingga hasil akhirnya juga bisa berbeda. Ketiga model ini bisa diterapkan sesuai kebutuhan di setiap area, karakter, atau objek dalam game. Menurut Liu, pendekatan ini dipilih karena tidak ada satu hasil yang benar-benar bisa dijadikan acuan untuk adegan 3D, jadi sentuhan akhir tetap bergantung pada keputusan developer.

Selain itu, NVIDIA juga memperlihatkan slider untuk mengatur intensitas struktur dan tone. Pengaturan ini memungkinkan developer menentukan seberapa kuat efek DLSS 5 diterapkan pada elemen yang rumit maupun sederhana dalam sebuah adegan. Perbedaannya cukup jelas. Bahkan saat slider dipasang ke level tertinggi, hasilnya justru terlihat lebih mirip video buatan AI, sesuatu yang belum tentu cocok dengan gaya visual semua game.
NVIDIA mengatakan kontrol yang diperlihatkan saat ini baru sebagian dari fitur yang sedang mereka siapkan. Perusahaan juga terus berdiskusi dengan berbagai partner dan mengumpulkan masukan agar DLSS 5 benar-benar bisa menjadi alat yang membantu artist mewujudkan visi mereka di hasil akhir game. NVIDIA kembali menegaskan kalau DLSS 5 tidak menggantikan teknik rendering tradisional maupun teknologi DLSS sebelumnya. Perusahaan juga tidak mengklaim teknologi ini sudah berhasil menghadirkan fotorealisme real-time yang sempurna karena masih ada banyak ruang untuk pengembangan.

Seperti DLSS Super Resolution yang sebelumnya beralih dari model CNN ke transformer, NVIDIA menjelaskan kalau DLSS 5 nantinya bisa terus ditingkatkan lewat pembaruan di sisi backend tanpa menambah beban performa. Perbaikan pada data pelatihan, dinamika model, hingga loss function diklaim bisa langsung meningkatkan kualitas gambar saat game dijalankan tanpa biaya komputasi tambahan.
DLSS 5 sendiri dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini. Meski presentasi terbaru ini berhasil menjawab sebagian keraguan, NVIDIA masih belum memperlihatkan bagaimana DLSS 5 bekerja saat gameplay berlangsung. Ditambah lagi, beberapa hasil render masih terasa memiliki nuansa khas AI yang sedikit mengganggu.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post