Denis Dyack, kreator Eternal Darkness dan Legacy of Kain, angkat bicara soal banyaknya game berbasis Unreal Engine 5 yang dianggap kurang optimal performanya. Dalam wawancara panjang bersama KiwiTalkz, Dyack menegaskan bahwa masalah performa bukan sepenuhnya kesalahan engine, melainkan cerminan kondisi industri game saat ini.
Dyack, yang kini juga mengerjakan proyek Deadhaus Sonata, menjelaskan bahwa Unreal Engine 5 adalah engine serba bisa. Namun optimalisasi sangat bergantung pada jenis game yang dibuat. Racing game, open-world RPG, dan game 2D punya kebutuhan teknis yang sangat berbeda. Tanpa pemahaman mendalam soal proyeknya sendiri, optimalisasi memang jadi hal yang sulit.
Ia juga menyoroti ukuran tim pengembang modern yang sangat besar. Dalam satu proyek bisa ada ratusan hingga ribuan orang, masing-masing fokus pada satu bagian kecil, seperti hanya mengerjakan rumput atau elemen visual tertentu. Masalahnya, koordinasi teknis menyeluruh jadi jauh lebih rumit. Tidak semua anggota tim punya pengalaman panjang, dan optimalisasi memang bukan pekerjaan mudah.
Menurut Dyack, realitas pahitnya banyak studio saat ini bahkan tidak punya waktu untuk benar-benar mengoptimalkan game. Selama game bisa berjalan dan dirilis, itu sudah dianggap cukup. Fokus lebih sering diberikan pada penambahan konten baru demi menarik pemain, sementara optimalisasi dianggap tidak memberikan dampak pemasaran yang langsung terasa.

Ia menyebut situasi industri dalam beberapa tahun terakhir sebagai semacam “extinction-level event”. Yang dimaksud adalah kegagalan kesepakatan besar senilai 2 miliar dolar antara Embracer Group dan Savvy Group pada 2023. Setelah kesepakatan itu gagal, saham Embracer anjlok dan perusahaan terpaksa melepas banyak studio serta membatalkan berbagai proyek.
Dampaknya terasa luas. Banyak prototipe game dengan dana besar tiba-tiba membanjiri pasar, membuat publisher lebih tertarik pada proyek yang sudah terlihat “matang”. Sementara itu, studio indie dan menengah kesulitan bersaing dan banyak yang akhirnya tutup. Dyack bahkan memperkirakan 50 hingga 70 persen developer indie dan mid-sized sudah tidak bertahan. Dalam konteks seperti itu, ia menegaskan lagi bahwa masalah performa game bukan sekadar soal engine, melainkan akibat tekanan dan krisis yang masih membayangi industri.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id













Discussion about this post