gamerwk.com
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
gamerwk.com
No Result
View All Result

Review Echoes of Aincrad – Setidaknya Bukan Game SAO Terburuk

Taufik by Taufik
July 9, 2026
in Konsol, PC, PlayStation 5, Review, Xbox Series S, Xbox Series X
0
Seri terbarunya, Echoes of Aincrad, yang dikembangkan oleh Game Studio, mencoba menghadirkan pengalaman action RPG yang lebih dalam.

Seri terbarunya, Echoes of Aincrad, yang dikembangkan oleh Game Studio, mencoba menghadirkan pengalaman action RPG yang lebih dalam.

Share ke FacebookShare ke TwitterShare ke Telegram

Game adaptasi dari anime populer Sword Art Online memang sudah lama selalu menarik perhatian para pemain. Dengan premis para pemain yang terjebak di dalam dunia VRMMO, franchise ini sudah melahirkan banyak adaptasi selama bertahun-tahun. Seri terbarunya, Echoes of Aincrad, yang dikembangkan oleh Game Studio, mencoba menghadirkan pengalaman action RPG yang lebih dalam tanpa meninggalkan nuansa nostalgia dari cerita aslinya.

Setelah menghabiskan cukup banyak waktu memainkan game ini, apakah Echoes of Aincrad benar-benar berhasil keluar dari pola lama yang selama ini melekat pada game Sword Art Online? Berikut review lengkapnya, mari simak!

Cerita yang Familiar, Tapi Penyampaiannya Kurang Menggigit

Dunia yang dihadirkan Echoes of Aincrad masih menggunakan latar yang sama seperti anime orisinalnya. Karakter utama buatan pemain ikut terjebak di dalam game Sword Art Online bersama sepuluh ribu pemain lainnya. Aturannya masih sama seperti yang sudah dikenal para penggemar. Mati di dalam game berarti mati di dunia nyata, dan satu-satunya cara untuk keluar adalah menaklukkan Aincrad dari lantai pertama hingga lantai ke-100 dengan mengalahkan boss terakhir.

Salah satu hal yang cukup menarik adalah bagian prolog yang membawa pemain kembali ke masa Closed Beta Test atau CBT Sword Art Online. Bagian ini lengkap dengan tutorial sekaligus berbagai konten eksklusif yang hanya ada selama CBT, sehingga terasa seperti prekuel dari cerita utama. Bahkan pemain juga akan mendengar nama Kirito disebut selama fase CBT tersebut, menjadi fan service kecil yang cukup menyenangkan bagi mereka yang sudah mengikuti seri Sword Art Online sejak lama.

Sayangnya, cara penyampaian ceritanya justru menjadi salah satu titik lemahnya. Sebagian besar cerita disampaikan lewat NPC yang terus-menerus menjelaskan berbagai hal kepada pemain. Di sisi lain, karakter utama yang memang merupakan silent protagonist sama sekali tidak memberikan respons. Akibatnya banyak adegan yang hanya berisi NPC atau partner berbicara panjang lebar sementara karakter pemain hanya berdiri diam tanpa reaksi, sehingga interaksi terasa kurang hidup.

Dialog juga mengambil porsi yang sangat besar sepanjang permainan. Tempo ceritanya berjalan lambat, suasananya cenderung datar, sementara isi ceritanya sendiri terasa cukup sederhana dan mengikuti formula yang sudah sering ditemui pada adaptasi anime. Jumlah dialog yang begitu banyak membuat Echoes of Aincrad terasa lebih seperti RPG adaptasi anime dibanding sebuah action RPG yang benar-benar mencoba menawarkan sesuatu yang baru.

Combat Cukup Menyenangkan dengan Sistem Switch yang Menjadi Nilai Plus

Untuk urusan pertarungan, Echoes of Aincrad menghadirkan enam jenis senjata yang bisa digunakan, yaitu one-handed sword, rapier, mace, dagger, greatsword, dan greataxe. Tiga senjata pertama dapat dipasangkan dengan shield, sementara tiga sisanya hanya bisa digunakan tanpa perlindungan tambahan.

Setiap senjata memiliki gaya bermain yang berbeda lengkap dengan skill tree masing-masing yang berisi sekitar sepuluh skill. Tiga skill sudah tersedia sejak awal permainan, sedangkan sisanya harus dibuka secara bertahap melalui dungeon. Skill tidak menggunakan energy meter, tetapi memiliki cooldown masing-masing, bahkan beberapa skill dapat di-charge lebih lama untuk menghasilkan damage yang lebih besar.

Sistem combat sendiri memadukan light attack, heavy attack, tiga skill utama dari senjata yang digunakan, partner skill, serta tiga jenis counter yang terdiri dari dodge counter, block counter, dan punish counter. Ketiga counter tersebut membutuhkan timing yang cukup presisi sehingga pemain memang dituntut memahami ritme pertarungan.

Di antara seluruh pilihan senjata, dagger menjadi salah satu yang paling menyenangkan digunakan. Kecepatan serangannya jauh lebih tinggi dibanding senjata lain. Memang masih ada sedikit recovery setelah melakukan serangan ringan maupun berat, tetapi setelah terbiasa, ritmenya terasa cukup nyaman. Jangkauannya yang pendek juga berhasil ditutupi dengan mobilitas tinggi sehingga tetap efektif digunakan.

Sementara itu, senjata lainnya secara keseluruhan masih terasa cukup baik, meski tidak bisa dipungkiri masih ada kesan sedikit kaku dan sesekali terasa seperti mengalami input delay. Perbedaan pola serangan dan cara kerja skill di setiap senjata juga membutuhkan waktu untuk dipelajari, sehingga bereksperimen dengan berbagai jenis senjata tetap terasa menarik.

Yang paling menonjol dari keseluruhan sistem combat adalah fitur Switch untuk kerja sama dengan partner. Pemain bisa berganti antara Switch Mode dan Free Mode sesuai kebutuhan. Dalam Switch Mode, partner akan mengambil alih target yang sedang dihadapi atau memberikan perlindungan sementara pemain mundur untuk memulihkan stamina. Sebaliknya, pada Free Mode, partner akan menyerang musuh terdekat secara otomatis dan memprioritaskan lawan yang tidak sedang dikunci pemain, sehingga sangat membantu saat dikepung banyak musuh.

Pergantian mode dilakukan melalui gerakan maupun dodge sehingga sangat mudah digunakan dalam pertarungan. Hasilnya, sistem ini benar-benar memberikan pilihan strategi tambahan yang membuat keberadaan partner terasa jauh lebih berguna dibanding sekadar menjadi NPC pendamping biasa. Bisa dibilang, Switch menjadi salah satu fitur terbaik yang dimiliki Echoes of Aincrad.

Sistem Aggro yang Menyebalkan dan Eksplorasi yang Terlalu Melelahkan

Sayangnya, ada satu masalah besar yang terus muncul selama bermain, yaitu sistem aggro musuh. Begitu musuh melihat pemain, mereka langsung masuk ke mode bertarung. Berlari akan terus menguras stamina, sementara aggro tidak akan hilang meskipun pemain sudah menjauh sangat jauh dari lokasi awal. Begitu musuh mendeteksi pemain, mereka akan terus mengejar tanpa henti.

Situasi ini terasa semakin menjengkelkan karena sebagian besar musuh biasa juga tidak memberikan hadiah yang benar-benar layak untuk diperjuangkan. Akhirnya muncul situasi di mana melawan terasa membuang waktu, tetapi menghindar pun sama-sama merepotkan.

Selama bermain juga ditemukan bug yang cukup mengganggu. Musuh yang sebenarnya berada di balik tembok masih bisa memicu mode combat meskipun tidak dapat menjangkau pemain. Setelah combat aktif, status tersebut bahkan tidak bisa dihentikan sehingga mengganggu jalannya eksplorasi.

Dunia Luas, Tapi Terlalu Kosong

Untuk desain dunianya sendiri, Echoes of Aincrad sebenarnya menawarkan berbagai biome yang berbeda, mulai dari hutan rawa hingga ngarai berpasir. Area yang belum dijelajahi ditandai dengan pilar cahaya, sementara mengaktifkan safe zone akan membuka peta di area sekitarnya. Jalur utama umumnya akan membawa pemain menuju safe zone berikutnya sehingga arah perjalanan sebenarnya cukup mudah dipahami.

Peta juga dipenuhi Ark yang akan memicu pertarungan mini boss. Beberapa Ark bahkan disegel oleh barrier yang baru bisa dibuka setelah mengalahkan boss tertentu. Ada pula berbagai mekanisme lingkungan seperti menghancurkan batu menggunakan bahan peledak atau membakar tanaman merambat menggunakan item api. Dari sisi mekanik level, sebenarnya terlihat cukup banyak ide menarik yang dicoba diterapkan.

Namun semua itu tertutupi oleh satu masalah yang jauh lebih besar, yaitu desain dungeon dan isi eksplorasinya yang terasa sangat kosong. Memang benar game ini memiliki dunia yang luas untuk dijelajahi, tetapi sebagian besar area tersebut nyaris tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Selain musuh biasa, beberapa musuh elite, treasure chest, Ark, dan boss, hampir tidak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan.

Alih-alih terasa seperti dungeon crawler yang penuh aktivitas berburu monster, sebagian besar waktu justru dihabiskan hanya untuk berjalan menuju tujuan berikutnya. Karena itulah eksplorasinya lebih sering terasa seperti walking simulator dibanding petualangan yang benar-benar menarik.

Masalah lain muncul pada desain petanya. Area awal ditampilkan dalam keadaan gelap dan baru akan terbuka setelah pemain mengaktifkan safe zone. Sayangnya, posisi safe zone biasanya justru berada di tengah area, sehingga peta tidak benar-benar membantu menemukan jalan menuju lokasi tersebut. Akibatnya pemain cukup sering mengambil jalur yang salah lalu harus berputar mencari rute lain.

Karena game ini juga tidak menyediakan kemampuan memanjat untuk melewati medan, pemain sering kali dipaksa memutar jalan. Ironisnya, setelah safe zone berhasil diaktifkan dan peta terbuka, baru terlihat bahwa jalur yang sebelumnya sudah dilewati ternyata menyimpan treasure chest. Hal itu membuat pemain harus kembali lagi hanya untuk mengambil satu peti.

Banyak treasure chest juga berada di jalan buntu yang tidak terhubung kembali ke jalur utama. Artinya, pemain harus berjalan bolak-balik lagi hanya untuk mengambil hadiah tersebut. Tidak heran jika banyak pemain kemungkinan besar memilih mengabaikannya karena usaha yang diperlukan terasa tidak sebanding.

Seluruh proses eksplorasi akhirnya berubah menjadi aktivitas berjalan yang sangat panjang. Hampir semua tujuan membutuhkan perjalanan cukup jauh, dan ketika sebuah dungeon selesai, kesan yang paling tertinggal justru bukan pertarungannya, melainkan lamanya waktu yang dihabiskan hanya untuk berjalan.

Padahal keseluruhan gameplay Echoes of Aincrad dibangun di atas siklus sederhana, yaitu menyelesaikan dungeon, mengumpulkan material dan equipment, membuat atau meningkatkan senjata, lalu kembali masuk ke dungeon berikutnya. Karena dungeon menjadi fondasi utama gameplay, kelemahan pada eksplorasi akhirnya ikut merusak keseluruhan pengalaman bermain dan membuat motivasi untuk terus melanjutkan permainan perlahan menghilang.

Side Quest Kurang Menarik, Tapi Progression Cukup Memuaskan

Game ini juga memiliki sistem side quest yang diberikan NPC di kota, lengkap dengan penanda objektif pada peta. Sayangnya, jumlah maupun kualitas side quest masih terasa minim sehingga belum mampu memberikan variasi berarti di luar aktivitas utama.

Terdapat pula collectible berupa marker lore yang tersebar di berbagai wilayah dan kota. Setelah ditemukan, informasi tersebut otomatis masuk ke database dalam game. Secara konsep fitur ini memang mendorong pemain mempelajari dunia Aincrad lebih dalam, tetapi karena tidak ada hadiah maupun dampak cerita yang benar-benar menarik, fitur tersebut akhirnya hanya menjadi daftar koleksi lain yang mengharuskan pemain kembali berjalan jauh.

Item bertipe amulet juga tersedia untuk membantu menjelajah, misalnya menerangi gua gelap atau melewati celah tertentu. Namun fungsi amulet hanya bekerja pada titik-titik yang memang sudah ditentukan. Item ini sama sekali tidak bisa menggantikan kemampuan dasar seperti memanjat atau double jump.

Sebagian besar perubahan elevasi tetap mengharuskan pemain mencari jalan memutar. Tidak sedikit jalur tersebut ternyata berakhir di jalan buntu sehingga pemain kembali dipaksa berjalan balik setelah mengambil treasure chest. Secara keseluruhan, eksplorasi lebih terasa menguji kesabaran dibanding memberikan rasa penasaran untuk terus mencari sesuatu yang baru.

Dungeon pada bagian akhir permainan yang seharusnya terasa lebih menantang juga ternyata tidak menawarkan banyak perubahan dibanding dungeon biasa. Perbedaan utamanya hanya berupa puzzle yang membutuhkan item tertentu seperti flint atau batu peledak. Masalahnya, item tersebut tidak bisa dibuat langsung dan belum tentu tersedia di dalam dungeon. Jika kebetulan tidak memilikinya, progres pemain benar-benar bisa terhenti begitu saja.

Sebenarnya kalau puzzle ini dilewatin juga gak masalah. Paling cuma kehilangan beberapa peti harta. Tapi kalau terus dilewatin, eksplorasi dungeon jadi berasa itu itu aja dan repetitif, ditambah lagi gak dapat hadiahnya. Memang sih progres gak bakal ketahan gara gara puzzle ini, tapi ritme mainnya jadi kerasa putus.

Sebaliknya, kalau mau nyelesain puzzlenya, harus balik dulu ke safe zone, fast travel ke kota, terus cari atau beli material yang dibutuhin sebelum balik lagi ke dungeon. Prosesnya jadi terasa cukup ribet dan makan waktu.

Berbeda dengan eksplorasinya, sistem progression justru menjadi salah satu bagian yang paling solid. Setiap naik level, pemain bebas membagikan stat point ke tujuh atribut berbeda, termasuk HP, strength, agility, hingga intelligence.

Peningkatan senjata juga menggunakan sistem yang cukup menarik, yaitu memanfaatkan senjata lain hasil dungeon sebagai material upgrade. Selain itu ada sistem EX-MOD yang berfungsi layaknya gear affix. Setiap senjata memiliki hingga empat slot yang dapat diisi dengan berbagai mod pilihan untuk meningkatkan statistik.

Sistem EX-MOD justru terasa jauh lebih menyenangkan dibanding eksplorasi dungeon itu sendiri. Menemukan senjata baru, melihat mod yang dimilikinya, lalu menyusun build sesuai gaya bermain favorit memberikan kepuasan tersendiri. Sayangnya, untuk mendapatkan senjata yang dibutuhkan, pemain tetap harus berulang kali masuk dungeon yang justru menjadi titik terlemah game ini.

Partner Memberikan Variasi Strategi

Echoes of Aincrad menghadirkan enam partner yang masing-masing memiliki peran berbeda. Ada Iori sebagai healer, Wyzeman yang berfokus pada damage, Argo sebagai scout, Zash dengan buff pertahanan, Stina yang mengandalkan eksploitasi kelemahan musuh, serta Musoh yang unggul dalam crowd control.

Dipadukan dengan sistem Switch yang sudah dijelaskan sebelumnya, keberadaan keenam partner tersebut membuat pertarungan memiliki variasi strategi yang cukup menarik. Dibanding banyak ARPG lain maupun adaptasi Sword Art Online sebelumnya, Echoes of Aincrad memang menunjukkan kreativitas yang cukup baik dalam variasi senjata, strategi partner, serta mekanisme Switch. Sayangnya, semua potensi tersebut masih tertahan oleh eksplorasi dan pacing cerita yang kurang kuat.

Visual dan Audio

Secara visual, Echoes of Aincrad menggunakan gaya anime yang cukup setia dengan nuansa seri aslinya. Namun jika dibandingkan dengan game-game terbaru saat ini, kualitas detail grafisnya masih terasa cukup sederhana.

Meski begitu, versi PlayStation 5 maupun PlayStation 5 Pro yang digunakan selama proses review mampu berjalan dengan stabil. Performanya memang tidak bisa dibilang luar biasa, tetapi sudah cukup baik untuk memberikan pengalaman bermain yang nyaman.

Dari sisi audio juga tidak banyak hal yang benar-benar menonjol. Efek suara serangan maupun soundtrack selama permainan terasa biasa saja. Satu pengecualian yang cukup berkesan adalah lagu tema yang dibawakan oleh Aimer.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Echoes of Aincrad masih mampu memberikan pengalaman combat yang cukup menyenangkan berkat variasi senjatanya, sementara kombinasi sistem Switch dengan perkembangan partner menjadi salah satu aspek terbaik yang dimiliki game ini. Bagi penggemar Sword Art Online, kesempatan kembali menjelajahi Aincrad sebagai karakter buatan sendiri, lengkap dengan prolog yang membawa pemain kembali ke era Closed Beta Test, jelas menjadi daya tarik tersendiri.

Namun berbagai kekurangannya juga sulit diabaikan. Tempo cerita berjalan lambat, dialog mengambil porsi terlalu besar, dan silent protagonist membuat interaksi terasa kurang hidup. Eksplorasi menjadi masalah terbesar karena side quest dan collectible terasa kurang berkembang, dunia yang luas justru minim aktivitas menarik, sementara berbagai keterbatasan seperti tidak adanya kemampuan memanjat membuat pemain terlalu sering melakukan backtracking. Ditambah lagi bug pada sistem aggro yang membuat combat sulit dihentikan semakin mengganggu alur permainan.

Bagi penggemar lama Sword Art Online, kesempatan menikmati kembali seluruh perjalanan Aincrad dari era CBT hingga death game, dipadukan dengan sistem Switch yang cukup strategis, tetap menjadi alasan untuk mencobanya. Namun bagi pemain action RPG yang lebih mengutamakan eksplorasi yang memuaskan serta pacing cerita yang kuat, Echoes of Aincrad masih memiliki banyak ruang untuk memperbaiki gameplay intinya.

Echoes of Aincrad akan dirilis pada 10 Juli mendatang untuk PlayStation 5, Xbox Series, dan PC. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:
 
Follow @GamerwkID
 

Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!
@gamerwk_id
Tags: Bandai Namco EntertainmentEchoes of AincradReview
ShareTweetShare
Previous Post

Tencent Daftarkan Merek Honor of Kings: Ace, Rumornya Game PC Kompetitif

Related Posts

Tencent baru saja mendaftarkan merek dagang Honor of Kings: Ace ke European Union Intellectual Property Office (EUIPO).
Berita

Tencent Daftarkan Merek Honor of Kings: Ace, Rumornya Game PC Kompetitif

July 8, 2026
Mendekati persiapan keluar dari Early Access, Pocketpair mengungkap kalau Palworld telah berhasil mencapai 40 juta pemain
Berita

Palworld Sukses Tembus 40 Juta Pemain Jelang Rilis Versi Penuhnya

July 8, 2026
Square Enix baru saja mengumumkan kalau Final Fantasy VII Ever Crisis akan tutup server pada Oktober 2026 mendatang
Android

Final Fantasy VII Ever Crisis Akan Tutup Server Setelah 3 Tahun Bertahan

July 8, 2026
Petisi "Don't Kill the Disc" yang mendesak Sony PlayStation untuk tetap memproduksi game dalam format fisik.
Berita

Petisi “Don’t Kill the Disc” Tembus 165 Ribu Tanda Tangan, Sony Masih Bungkam

July 8, 2026
Kami dapat kesempatan menjajal The Blood of Dawnwalker selama sekitar empat jam yang langsung memperlihatkan keseruannya.
Berita

Nyobain The Blood of Dawnwalker – Jadi Vampir di RPG Open World yang Masif!

July 8, 2026
Kami juga mendapat kesempatan berbincang dengan Jakub Szamalek, Narrative Director sekaligus Main Writer untuk The Blood of Dawnwalker.
Konsol

Wawancara The Blood of Dawnwalker dengan Jakub Szamalek – RPG Ambisus yang Berani Ubah Aturan Main Open World

July 8, 2026

Discussion about this post

FACEBOOK KAMI

YOUTUBE KAMI

TWITTER/X KAMI

Follow @GamerwkID

UPDATE MOBILE GAMES

Bandai Namco akhirnya berbagi detail terbaru game mobile BLEACH Mirrors High yang terlihat sangat menarik di ajang Anime Expo 2026

Game Mobile BLEACH Mirrors High Dipamerkan, Ambil Latar Cerita Setelah Thousand-Year Blood War!

by Fadhil
July 6, 2026
0

Bandai Namco akhirnya berbagi detail terbaru game mobile BLEACH Mirrors High yang terlihat sangat menarik di ajang Anime Expo 2026.

Server China untuk Neverness to Everness (NTE) baru saja menerima patch yang mengubah tampilan karakter baru bernama Shinku.

Protes Pemain, Neverness to Everness Ubah Celana Pendek Karakter Jadi Celana Dalam

by Taufik
July 6, 2026
0

Server China untuk Neverness to Everness (NTE) baru saja menerima patch yang mengubah tampilan karakter baru bernama Shinku. Perubahan ini...

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham, Square Enix mendapat pertanyaan soal nasib game-game live service yang sudah tutup server.

Pemegang Saham Square Enix Pertanyakan Nasib Game yang Tutup Server

by Taufik
July 6, 2026
0

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham ke-46 yang digelar pada 24 Juni lalu, Square Enix mendapat pertanyaan soal nasib game-game live...

Artikel ini akan memberikan panduan yang sangat lengkap dan mudah dipahami tentang cara redeem code Star Sailors.

Star Sailors Redeem Code – Banyak Hadiah Gratis

by Taufik
July 3, 2026
0

Star Sailors adalah RPG turn-based koleksi karakter yang ngasih sensasi battle seru dengan finishing move yang keren  kamu membutuhkan redeem...

TiMi Studio Group telah kembali membuka pendaftaran Closed Beta Monster Hunter Outlanders hingga batas waktu 24 Juli mendatang

Monster Hunter Outlanders Buka Pendaftaran Closed Beta Ketiga

by Fadhil
July 3, 2026
0

TiMi Studio Group telah kembali membuka pendaftaran Closed Beta Monster Hunter Outlanders hingga batas waktu 24 Juli mendatang.

  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd