gamerwk.com
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4
No Result
View All Result
gamerwk.com
No Result
View All Result

Review Yasha: Legends of the Demon Blade – Roguelike dengan Style Jempolan!

Fadhil by Fadhil
May 26, 2025
in Review
0
Simak review kami untuk Yasha: Legends of the Demon Blade yang merupakan roguelike style Jepang besutan 7Quark

Simak review kami untuk Yasha: Legends of the Demon Blade yang merupakan roguelike style Jepang besutan 7Quark

Share ke FacebookShare ke TwitterShare ke Telegram

Studio indie 7Quark yang berbasis di Taiwan akhirnya telah resmi merilis game roguelike menawan mereka yaitu Yasha: Legends of the Demon Blade, yang lebih menariknya lagi mengusung style khas feodal Jepang dengan elemen fantasi. Ini tentu sangat berbeda dari ekspektasi di mana pasti ada lebih banyak developer di wilayah mereka yang berfokus pada legenda sendiri, belum lagi ide dari mitologi lain seperti Yunani misalnya yang juga jadi opsi populer di genre ini.

Kombinasi antara pertarungan intens dan cerita emosional membuat Yasha terasa cukup fresh namun tetap familiar bagi penggemar genre roguelike. Lalu apakah kualitasnya secara keseluruhan memang tepat sasaran? Langsung saja simak reviewnya di artikel berikut.

Semesta yang Menawan

Game ini berlatar di versi fiksi era Edo, di mana manusia dan iblis telah hidup damai selama 300 tahun. Namun sebelumnya, para iblis di bawah kendali Rubah Berekor Sembilan sempat mengamuk dan menghancurkan banyak desa yang menjadi target utama.

Kehidupan berubah saat seorang pahlawan hebat bernama Yashahime muncul dan membasmi para iblis, membuat mereka takut untuk kembali membuat kekacauan. Sejak saat itu, hubungan manusia dan iblis mulai membaik dan akhirnya hidup berdampingan. Setelah tiga abad berlalu, kedamaian kembali terganggu ketika iblis-iblis mulai muncul dan menyerang lagi.

Game ini menghadirkan tiga karakter utama dengan cerita masing-masing yang saling berkaitan. Tokoh sentralnya adalah Shigure, seorang pendekar wanita dari Desa Konpeki. Ia ditemani oleh Sara, iblis yang diasingkan, dan Taketora, seorang jenderal perang yang dihormati. Perjalanan mereka membentuk inti dari cerita game ini, dengan Shigure menjadi benang merah yang menghubungkan semuanya.

Combat yang Relatif Solid

Dari sisi gameplay, Yasha: Legends of the Demon Blade mengusung format roguelike klasik: pemain akan menjelajahi level demi level, dan jika mati, progres akan diulang dari awal. Tidak banyak inovasi dari segi mekanik, tapi game ini tetap terasa solid seperti judul-judul lain di genre ini, misalnya saja seperti Hades.

Pemain bebas memilih salah satu dari tiga karakter utama sejak awal. Tidak ada urutan khusus, dan game ini mendukung banyak file penyimpanan. Setiap karakter memulai dengan senjata dasar dan akan menjadi lebih kuat seiring progres. Pertarungan berlangsung dalam gaya hack-and-slash yang simpel, tapi adiktif.

Shigure dan Sara berfokus pada senjata jarak dekat dan memiliki gaya bermain yang mirip. Sebaliknya, Taketora menggunakan busur dan menuntut akurasi serta posisi yang tepat, membuatnya lebih cocok bagi pemain yang suka bermain taktis. Setiap karakter bisa membawa dua senjata sejenis sekaligus, dan bebas bertukar saat bertarung. Masing-masing senjata memiliki kemampuan unik, memberi ruang bagi pemain untuk bereksperimen dan menemukan gaya bermain favorit mereka.

Sistem Parry dan Mystic Art

Satu aspek yang terutama sangat penting dalam pertarungan adalah sistem parry. Jika dilakukan dengan tepat, parry terasa memuaskan. Namun timing eksekusinya tidak selalu jelas, karena tutorial hanya menyebutkan menekan tombol R1 saat lingkaran kuning muncul, tapi dalam praktik, pemain perlu “menebak” waktu serangan lawan.

Terdapat dua cara melakukan parry: menekan R1 secara tepat waktu, atau menahan R1 dan melepasnya saat muncul lingkaran kuning. Metode kedua lebih mudah dan tetap memberi peluang untuk menyerang balik meskipun menerima sedikit damage. Setelah berhasil memparry, pemain bisa menekan R1 lagi untuk mengaktifkan Mystic Art, serangan spesial sebagai reaksi terhadap serangan musuh.

Desain Level hingga Sistem Progression

Sebagaimana roguelike pada umumnya, level di Yasha dibuat secara acak setiap kali bermain. Meski variasinya terbatas dan beberapa layout terasa berulang, game tetap menjaga tantangan dan rasa penasaran pemain. Level dan ruangan yang ditemui tidak berubah berdasarkan karakter yang dimainkan — struktur tetap sama baik itu Shigure, Sara, maupun Taketora.

Setiap area terdiri dari tiga level utama dan ditutup dengan pertarungan melawan bos unik. Setelah mengalahkan bos, pemain bisa beristirahat, menyembuhkan HP, membeli Soul Orb, serta menikmati semangkuk ramen untuk bonus tambahan. Sistem progres memungkinkan pemain meningkatkan kekuatan seiring waktu. Setelah gugur, kamu akan kembali ke kuil awal yang bertempat di dimensi lai nsekaligus tempat untuk meng-upgrade kemampuan dasar seperti HP, jumlah dash, dan lainnya.

Selain itu, ada desa khusus untuk menaikkan level senjata, menggunakan dua jenis mata uang: token khusus dan Soul Currency yang dijatuhkan musuh. Uniknya, setiap karakter membutuhkan token berbeda: Shigure butuh pelindung tangan katana, Sara hanya butuh sebatang kayu, dan Taketora memerlukan bulu anak panah. Setiap level juga memberi kesempatan memperoleh upgrade senjata atau Soul Orb dengan efek pasif unik, seperti lingkaran api otomatis saat energi penuh, atau tembakan proyektil ekstra. Namun, semua buff ini hanya berlaku untuk satu sesi permainan.

Visual dan Sinematik Menawan

Yasha hadir dengan grafik cel-shaded yang artistik, menciptakan nuansa khas dan menenangkan. Walau bukan kekuatan utama, visual tetap mendukung atmosfer game secara keseluruhan. Area istirahat terasa tenang, memberikan kontras yang menyejukkan setelah pertempuran penuh aksi. Nuansa ini diperkuat oleh musik latar tradisional Jepang yang lembut dan mendalam, memperkuat kesan era Edo yang ingin disampaikan.

Sayangnya, aspek sinematik tidak sempurna. Beberapa adegan terasa kaku, terutama dalam dialog antar karakter. Kemungkinan besar ini akibat masalah terjemahan atau localization, membuat sejumlah frasa terdengar canggung atau kurang alami. Meski tidak mengganggu keseluruhan pengalaman secara signifikan, hal ini bisa mengurangi imersi bagi pemain yang memperhatikan detail cerita.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Yasha: Legends of the Demon Blade adalah roguelike yang menarik dengan latar fiksi era Edo penuh mitologi Jepang. Tiga karakter utama dengan cerita yang saling terhubung menciptakan narasi yang kaya dan berlapis. Sistem pertarungan yang mudah dipahami namun tetap memuaskan, ditambah variasi senjata dan buff pasif, memberi ruang bagi pemain untuk menyesuaikan strategi masing-masing.

Meski desain level acak terasa sedikit repetitif setelah beberapa kali bermain, kehadiran bos menantang dan titik istirahat yang menyegarkan menjaga ritme permainan tetap menyenangkan. Secara visual dan audio, game ini menyuguhkan pengalaman yang khas dan atmosferik, walaupun beberapa kekurangan dalam sinematik bisa sedikit mengurangi kualitas narasi.

Tertarik dengan gamenya? Yasha: Legends of the Demon Blade kini sudah tersedia di PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC. Detail lebih lengkap mengenai gamenya bisa kamu cek lewat website resmi mereka DI SINI. 

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:
 
Follow @GamerwkID
 

Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!
@gamerwk_id

The Review

Yasha: Legends of the Demon Blade

7.5 Score

PROS

  • Roguelike dengan latar dunia dan cerita yang lebih fresh
  • Adanya opsi untuk memainkan tiga karakter
  • Visual menawan dengan style cel-shaded
  • Gameplay yang relatif cukup solid

CONS

  • Variasi kombo terbatas
  • Timing parry yang tidak selalu konsisten
  • Variasi level yang minim
  • Beberapa scene cerita dengan penyampaian yang kurang natural

Review Breakdown

  • 7.5 0
Tags: 7QUARKGame Source EntertainmentNintendo SwitchPCPS4PS5ReviewXbox SeriesYasha: Legends of the Demon Blade
ShareTweetShare
Previous Post

Neil Druckmann Tetap Santai Meski Protagonis Intergalactic Dihujat

Next Post

Director Expedition 33 Kasih Rahasia Sukses: “Bikin Game yang Kalian Sendiri Mau Mainin”

Related Posts

Stranger Than Heaven jadi salah satu game yang paling menarik perhatian dari Ryu Ga Gotoku Studio. Simak impresi hands on kami!
Konsol

Nyobain Stranger Than Heaven – Pertarungan Brutal Jadi Daya Tarik Utama

July 22, 2026
Seri terbarunya, Echoes of Aincrad, yang dikembangkan oleh Game Studio, mencoba menghadirkan pengalaman action RPG yang lebih dalam.
Konsol

Review Echoes of Aincrad – Setidaknya Bukan Game SAO Terburuk

July 9, 2026
Kami dapat kesempatan menjajal The Blood of Dawnwalker selama sekitar empat jam yang langsung memperlihatkan keseruannya.
Berita

Nyobain The Blood of Dawnwalker – Jadi Vampir di RPG Open World yang Masif!

July 8, 2026
Witchspire mencoba masuk ke persaingan game survival crafting dengan pendekatan yang sedikit berbeda dan seru.
PC

Review Witchspire Early Access – Jadi Penyihir di Game Survival Crafting Ternyata Seru

Kami mendapat kesempatan untuk mengikuti sesi hands-off preview untuk melihat langsung DOOM: The Dark Ages - Revelations.
Konsol

Preview DOOM: The Dark Ages – Revelations: DLC Masif yang Bikin Makin Brutal dan Cerita Makin Gelap

July 1, 2026
Simak review terbaru kami untuk Final Fantasy VII Rebirth versi Nintendo Switch 2 yang kembali menawarkan kualitas port jempolan
Konsol

Review Final Fantasy VII Rebirth (Nintendo Switch 2) – Port yang Mengesankan dan Cukup Stabil!

Next Post
Guillaume Broche, sutradara Clair Obscur: Expedition 33, akhirnya buka suara soal kenapa RPG turn-based garapannya bisa meledak.

Director Expedition 33 Kasih Rahasia Sukses: "Bikin Game yang Kalian Sendiri Mau Mainin"

Discussion about this post

FACEBOOK KAMI

YOUTUBE KAMI

TWITTER/X KAMI

Follow @GamerwkID

UPDATE MOBILE GAMES

Snowbreak Kembali Vakum Tanpa Kabar Soal Update Baru dan Perayaan Anniversary

Snowbreak Kembali Vakum Tanpa Kabar Soal Update Baru dan Perayaan Anniversary

by Fadhil
July 17, 2026
0

Snowbreak masih dirundungi banyak masalah sejak berakhirnya fase maintenance panjang yang membuat banyak fans khawatir soal masa depannya.

Neverness to Everness (NTE) terus mencatat performa yang luar biasa sejak dirilis pada 29 April lalu. Dapat 3 triliun Rupiah.

NTE Raup Pendapatan Lebih dari 3,3 Triliun Rupiah Hanya dalam Dua Bulan

by Taufik
July 17, 2026
0

Neverness to Everness (NTE) terus mencatat performa yang luar biasa sejak dirilis pada 29 April lalu. Setelah berhasil membukukan pendapatan...

BlackJack Studio resmi mengumumkan Langrisser: Sea of Sword untuk platform Android, iOS, PC, dan platform lain yang belum dikonfirmasi

Langrisser: Sea of Sword Diumumkan Sebagai Game Gacha RPG Baru untuk Franchisenya

by Fadhil
July 16, 2026
0

BlackJack Studio resmi mengumumkan Langrisser: Sea of Sword untuk platform Android, iOS, PC, dan platform lain yang belum dikonfirmasi.

Di artikel ini, kamu bakal nemuin panduan tier list Ragnarok The New World paling update dan terbaik untuk menjadi guide kamu.

Ragnarok The New World Tier List – Pilih Class Terbaik

by Taufik
July 16, 2026
0

Lagi cari tier list Ragnarok The New World terbaru buat tahu class paling kuat dan meta saat ini? Di artikel...

Developer Arknights Endfield menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas pemain di Korea Selatan melalui Naver Lounge resmi.

Arknights Endfield Minta Maaf ke Pemain Korea Karena Animasi Gestur “Cubit”

by Taufik
July 16, 2026
0

Developer Arknights Endfield menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas pemain di Korea Selatan melalui Naver resmi. Permintaan maaf ini muncul setelah...

  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Mobile Games
    • iOS
    • Android
  • Konsol
    • PlayStation 4
    • PlayStation 5
    • Nintendo Switch
    • Xbox One
    • Xbox Series S
    • Xbox Series X
  • PC
  • Opini
  • Wawancara
  • Situs Saudara
    • Wanuxi
    • GamerBraves
    • Gamer Santai
    • Gamer555
  • Borderlands 4

© 2020 - 2025 Digital Braves Media Group Sdn Bhd