Selama setahun terakhir, Where Winds Meet berhasil membangun komunitas yang cukup besar di Asia Tenggara, dan sekarang salah satu cerita terbesarnya akhirnya bakal segera mencapai penutup. Dalam sebuah acara media khusus Asia Tenggara yang baru-baru ini digelar, kami mendapat kesempatan untuk mencoba lebih awal Hidden Mountain Chapter 3 sebelum resmi dirilis, dilanjutkan dengan wawancara bersama Joy Chen, NetEase SEA Publishing Lead.
Pembahasannya cukup luas, mulai dari apa yang bakal hadir setelah Hidden Mountain selesai, bagaimana tim melihat sistem monetisasi, filosofi Wuxia yang menjadi fondasi gamenya, proses lokalisasi untuk berbagai region, sampai rencana besar Where Winds Meet menjelang anniversary pertamanya.
Menjajal Chapter Terakhir Hidden Mountain

Selama sesi hands-on, kami sempat mencoba beberapa konten dari Hidden Mountain Chapter 3, termasuk main story quest A Borrowed Self, campaign Skyward City Ruins dengan Boss Halcyon, serta world boss Goshawk. Bagian cerita utamanya sendiri memakan waktu sekitar 10 menit, dimulai dengan rangkaian cerita singkat sebelum akhirnya membawa pemain ke pertarungan melawan Qianye. Sementara itu, pertarungan Guardian dan world boss secara keseluruhan memakan waktu sekitar 20 menit.
Sebagai chapter penutup dari cerita Hidden Mountain yang dibagi menjadi tiga bagian, chapter ini membawa pemain menuju konfrontasi besar dengan villain yang selama ini sudah terus dikejar sepanjang cerita. Menurut Joy Chen, bagian ini sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari dan terus disempurnakan dengan mempertimbangkan feedback komunitas serta pengujian melalui focus group.
Semua konten yang sempat kami coba dalam sesi tersebut tersedia saat Hidden Mountain Chapter 3 resmi dirilis pada 16 September.
Setelah Hidden Mountain, Region Baru Hadir Oktober
Meski cerita Hidden Mountain segera berakhir, tim Where Winds Meet jelas masih punya banyak rencana untuk beberapa bulan ke depan. Setelah storyline tersebut selesai, Oktober akan menghadirkan region yang benar-benar baru, lengkap dengan cerita yang berdiri sendiri serta sebuah sect baru.
Joy Chen memang masih belum bisa membagikan detail spesifik mengenai area tersebut, tetapi ia sempat memberikan sedikit gambaran soal betapa berbedanya region baru ini dibanding Hidden Mountain.

“Hidden Mountain lebih menekankan verticality, freerunning, serta eksplorasi dari area tinggi sampai ke bawah air,” jelas Joy Chen.
“Region baru ini akan memberikan sensasi eksplorasi yang benar-benar fresh bagi pemain. Core gameplay-nya juga akan sepenuhnya baru. Cara pemain berinteraksi dengan open world, menyelesaikan puzzle, sampai menemukan harta tersembunyi akan terasa jauh berbeda dibanding apa yang pernah mereka alami sebelumnya.”
Setelah itu, pada November dan Desember, Where Winds Meet akan merayakan anniversary global pertamanya. Joy Chen menyebut perayaan ini sebagai event terbesar yang pernah mereka adakan sejak gamenya dirilis.
Venture deep into Skyward City, confront your nemesis Qianye, and uncover the final secrets of Hidden Mountain…
Get a sneak peek at the upcoming version highlights in the roadmap below! pic.twitter.com/Co201nd2Tg
— Where Winds Meet (@WhereWindsMeet_) September 14, 2026
Pemain nantinya bisa mengharapkan konten cerita baru, mode gameplay baru, serta reward gratis dalam jumlah paling besar sejauh ini sebagai bentuk terima kasih kepada komunitas yang sudah mendukung game tersebut selama setahun terakhir. Meski detail lengkapnya masih dirahasiakan, Joy Chen memastikan tim saat ini juga sedang mempertimbangkan berbagai special event, baik secara online maupun offline.
Bersamaan dengan sesi interview, tim Where Winds Meet juga membagikan roadmap yang lebih luas melalui akun X resmi mereka, memberikan gambaran awal mengenai berbagai update yang bakal hadir dalam beberapa bulan mendatang.
Monetisasi Non-Pay-to-Win yang Dibangun dari Kepercayaan Pemain

Salah satu topik yang cukup sering muncul ketika membahas Where Winds Meet adalah pendekatan monetisasinya, terutama jika dibandingkan dengan game lain di genre serupa. Joy Chen menjelaskan bahwa keputusan untuk menggunakan sistem seperti sekarang memang sudah direncanakan sejak awal.
“Sejak awal, tujuan kami bukan cuma membuat game komersial lainnya, tetapi membuat sebuah karya seni yang bisa menyampaikan ide utama yang benar-benar ingin disampaikan oleh tim kami,” ujar Joy Chen.
“Kami tidak ingin ada paywall yang menghalangi pemain menikmati cerita utama, pertarungan boss, ataupun kebebasan menjelajahi open world Wuxia.”
Ia juga menyinggung betapa seriusnya riset sejarah yang dilakukan tim selama proses pengembangan. Menurutnya, tim telah menghabiskan ratusan hingga ribuan jam melakukan riset, dan melihat pemain akhirnya menyadari sekaligus menghargai detail sejarah kecil di dalam game menjadi salah satu hal yang terasa sangat memuaskan bagi developer.
Ketika ditanya apakah pendekatan tersebut masih berhasil setelah hampir satu tahun gamenya berjalan, Joy Chen memberikan jawaban yang cukup tegas.
“Model bisnis non-pay-to-win kami terbukti berhasil, dan kami akan terus mempertahankannya secara ketat dalam jangka panjang,” katanya.
Tim juga menyesuaikan cosmetic berdasarkan selera pemain di masing-masing region. Menurut Joy Chen, pemain Asia biasanya lebih menyukai tampilan tradisional ala Wuxia, sementara pemain di wilayah Barat cenderung lebih suka desain bertema pet atau gaya yang lebih berorientasi ke pertempuran. Dalam beberapa kasus, bahkan ada item eksklusif untuk pasar luar negeri yang dipilih melalui voting komunitas.
Joy Chen juga menyinggung sistem dye sebagai salah satu contoh kebebasan yang diberikan kepada pemain. Dalam update Ghost Month baru-baru ini, misalnya, ada pemain yang menggabungkan cropped top dari festive set dengan bawahan bergaya modern untuk menciptakan outfit unik dengan nuansa dance sesuai selera mereka sendiri.
Filosofi Wuxia dan Usaha Mendekatkan Game dengan Asia Tenggara

Untuk pemain internasional, istilah Jianghu terkadang disederhanakan hanya sebagai dunia bela diri. Kami pun bertanya bagaimana tim melihat persoalan tersebut dan apakah mereka berusaha mengubah persepsi pemain global mengenai arti sebenarnya dari Wuxia.
Menurut Joy Chen, tim justru tidak ingin memaksakan satu definisi tertentu kepada pemain.
“Tujuan kami bukan untuk mengoreksi pemain global atau mendikte seperti apa Wuxia seharusnya,” katanya.
“Pada dasarnya, Wuxia merepresentasikan kebebasan dan pilihan pribadi. Memaksakan sebuah definisi kepada pemain justru bertentangan dengan semangat Wuxia itu sendiri.”
Alih-alih memberikan penjelasan panjang lebar secara langsung, tim lebih memilih menyampaikan filosofi tersebut lewat storytelling. Salah satu contohnya ada pada Mohist sect di ekspansi Hidden Mountain. Di sana, pemain melihat konflik internal antara membuka diri terhadap dunia luar atau justru memilih mengisolasi diri di pegunungan. Menurut Joy Chen, konflik seperti inilah salah satu contoh penerapan filosofi Wuxia lewat cerita dan pilihan karakter.
Pendekatan yang sama juga diterapkan dalam proses lokalisasi.
“Lokalisasi itu tentang menyampaikan emosi dan semangat Wuxia, bukan cuma menerjemahkan kata demi kata secara literal,” jelas Joy Chen.
Tim terus menyempurnakan dialog bukan hanya untuk chapter baru seperti Hidden Mountain, tetapi juga area lama seperti Qinghe dan Kaifeng.
Dari sisi operasional, tim juga bekerja sama dengan distributor lokal seperti Funtap di beberapa negara untuk membantu customer service dan community management. Mereka turut mempertimbangkan meetup offline dan kehadiran di berbagai event Asia Tenggara sebagai bagian dari rencana jangka panjang.
Selain itu, tim cukup aktif mendengarkan feedback pemain SEA mengenai masalah network latency. Optimalisasi server routing terus dilakukan agar pengalaman bermain, terutama untuk mode kompetitif, bisa tetap terasa adil dan berjalan mulus di region ini.
Feedback Pemain Benar-Benar Dipakai untuk Pengembangan

Mengingat Where Winds Meet cukup sering mengadakan survei kepada pemain, kami juga bertanya seberapa besar feedback tersebut benar-benar berpengaruh terhadap pengembangan game.
Joy Chen menjelaskan bahwa tim mengumpulkan masukan dari berbagai platform seperti Reddit, Discord, X, Instagram, dan Facebook. Feedback tersebut kemudian dipilah berdasarkan seberapa banyak pemain yang membicarakannya, seberapa mendesak masalahnya, dan seberapa penting hal tersebut untuk menentukan prioritas pengembangan.
Menariknya, tim tidak cuma berfokus pada pemain yang aktif bersuara di media sosial. Mereka juga melihat data demografi dan kebiasaan bermain untuk menemukan kebutuhan pemain yang mungkin jarang mengutarakan pendapat secara langsung.
“Kami memperkenalkan sistem Homestead dan Companion untuk memenuhi kebutuhan pemain casual dan pemain yang lebih suka elemen simulasi, yang mungkin tidak terlalu sering aktif di media sosial. Sistem ini memberi mereka alternatif cara bermain yang tetap memuaskan di luar combat dan main quest,” jelasnya.
Tim lokalisasi dan komunitas juga disebut memantau masukan pemain dari seluruh dunia setiap hari. Setelah itu, lead developer akan mengatur jadwal update berdasarkan tingkat urgensi feedback serta kapasitas produksi yang tersedia.
Kalau melihat secara khusus bagaimana feedback pemain memengaruhi Hidden Mountain, Joy Chen memberikan tiga contoh dari satu tahun terakhir. Keluhan mengenai latency di beberapa region akhirnya membuat tim menghadirkan dedicated server untuk Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Oceania.
Untuk balance combat, tim menggabungkan pendapat komunitas dengan data internal.
“Kami menggabungkan feedback komunitas mengenai performa senjata dengan telemetry data PvP internal untuk terus menyesuaikan balance martial arts,” jelas Joy Chen.
Pemain juga cukup sering meminta agar konten baru bisa dirilis bersamaan dengan server China. Meski tidak selalu mudah dilakukan, tim mencoba mengakomodasi permintaan tersebut jika memungkinkan.
“Walaupun ada tantangan dalam proses produksinya, kami berhasil menyinkronkan perilisan Reflection Temple serta Wuxia extraction mode yang akan datang secara global, dan kami akan terus berusaha menghadirkan lebih banyak update secara bersamaan di masa depan.”
Bekerja Sama dengan Para Ahli, dari Combat Sampai Reflection Temple

Salah satu kolaborasi besar yang dilakukan Where Winds Meet adalah dengan koreografer bela diri legendaris Yuen Woo-ping, yang diajak bekerja sama pada awal tahun ini untuk membantu menyempurnakan animasi combat dan penggunaan senjata.
“Kami menghubungi Master Yuen Woo-ping sejak awal tahun ini untuk memulai kerja sama dalam menyempurnakan gerakan martial arts yang terlihat dalam combat maupun penggunaan senjata, dengan tujuan menghadirkan pengalaman Wuxia yang paling murni dan autentik,” ujar Chen.
Bukan cuma karena pengalamannya dalam motion capture dan koreografi film, ada satu hal yang menurut tim paling menarik dari pendekatan Yuen Woo-ping, yaitu bagaimana ia selalu menekankan bahwa bela diri harus tetap terasa punya dasar fisik di dunia nyata.
“Ia benar-benar memeriksa detail seperti perpindahan berat tubuh, stabilitas core, dan bagaimana tenaga disalurkan di setiap stance,” jelas Joy Chen.
Menurutnya, hasil pendekatan tersebut bisa langsung terasa di combat akhir, di mana setiap serangan memiliki bobot dan momentum yang jauh lebih nyata ketika dimainkan.
Ketertarikan tim untuk bekerja bersama ahli dari luar industri game juga menghasilkan salah satu konten paling unik di Where Winds Meet, yaitu Reflection Temple. Stage tersebut dibuat dengan sistem survival berdasarkan sejumlah aturan tertentu, alih-alih menjadi story mission biasa.
Joy Chen menjelaskan bahwa inspirasi utamanya datang dari tradisi Zhongyuan Festival atau Ghost Month, yang dirayakan di sejumlah negara Asia.
“Kami menerjemahkan berbagai pantangan dari cerita rakyat dunia nyata menjadi aturan survival yang benar-benar digunakan dalam gameplay,” jelasnya.
Stage tersebut juga memasukkan mekanisme yang terinspirasi dari tradisi memberi persembahan kepada leluhur dan membimbing roh-roh yang berkeliaran.
Lewat berbagai petunjuk yang tersebar di lingkungan, pemain perlahan mencoba memahami sejarah lama dari kuil tersebut.
“Gameplay-nya perlahan mengungkap sejarah dan rahasia yang telah terlupakan dari kuil kuno tersebut,” ujar Joy Chen.
“Kami mengajak pemain menyusun sendiri kebenaran sejarah yang terjadi di sana, sehingga ketika semuanya selesai, pemain bisa mendapatkan impact emosional yang cukup kuat.”

Reflection Temple sendiri merupakan event time-limited dan bukan tambahan permanen. Event tersebut saat ini tersedia selama sekitar empat minggu, dengan tanggal berakhir yang tepat bisa dilihat langsung di dalam game.
Konten ini juga terpisah dari Ghost Festival secara keseluruhan, meskipun Where Winds Meet memang menghadirkan berbagai aktivitas Ghost Month lain serta cosmetic bertema serupa secara bersamaan.
Menariknya, konsep Reflection Temple sebenarnya muncul secara cukup organik. Awalnya, tim hanya menghubungi Kevin Ko, sutradara yang dikenal lewat film Incantation, untuk membuat promotional short film.
“Namun, lead level designer kami ternyata merupakan fans berat Incantation,” kata Joy Chen.
“Dalam proses brainstorming awal, diskusi mereka akhirnya berkembang secara natural menjadi ide untuk memasukkan storytelling horror bergaya film dan desain atmosfer langsung ke dalam sebuah gameplay level.”
Joy Chen memastikan pendekatan kolaborasi seperti ini bakal terus dilakukan ke depannya.
“Kami benar-benar akan mengejar lebih banyak kolaborasi besar seperti ini,” katanya.
“Karena kami melihat game ini sebagai sebuah karya seni, kami ingin mencari ahli terbaik di setiap bidang, baik itu koreografi action bersama Stephen Tung Wai dan Yuen Woo-ping, koreografi traditional dance dengan seniman tari ternama, ataupun cinematic horror bersama Kevin Ko.”
Penghargaan, Pembicaraan dengan Ikon Bela Diri, dan Platform Baru
Where Winds Meet baru-baru ini berhasil memenangkan penghargaan Best Mobile Game di Gamescom, dan Joy Chen mengatakan tim merasa sangat terhormat dengan pencapaian tersebut.
Ia juga mengaitkan penghargaan tersebut dengan pencapaian game yang sudah menembus lebih dari 100 juta pemain di seluruh dunia, yang menurutnya mencerminkan fokus tim terhadap kualitas gameplay.
“Ini membuktikan bahwa open world yang immersive, bebas, dan mampu memberikan resonansi emosional bisa membuat Wuxia menembus batas budaya dan diterima secara global,” ujarnya.
Kami juga sempat bertanya mengenai kemungkinan kolaborasi dengan aktor bela diri terkenal seperti Jet Li, Donnie Yen, atau Jackie Chan. Joy Chen belum mau mengonfirmasi nama tertentu, tetapi ia memastikan pembicaraan ke arah sana memang sedang berjalan.
“Kami secara aktif mencari kesempatan untuk bekerja sama dengan bintang bela diri legendaris, dan proses kolaborasinya sejauh ini berjalan sangat baik,” katanya.
“Silakan nantikan update selanjutnya.”
Selain itu, kami juga bertanya soal kemungkinan Where Winds Meet hadir di platform lain seperti Nintendo Switch, terutama setelah game tersebut mendapatkan perhatian lebih besar berkat penghargaan Gamescom serta anniversary yang sebentar lagi tiba.
Menurut Joy Chen, tim sangat menyadari banyaknya permintaan dari pemain untuk versi platform lain. Namun, kualitas tetap menjadi prioritas utama dibanding sekadar merilis game secepat mungkin.
“Komitmen kami yang tidak bisa ditawar adalah pemain di platform mana pun harus mendapatkan pengalaman kelas atas tanpa kompromi,” jelas Joy Chen.
“Kami menolak terburu-buru merilis game ke banyak platform jika hasil akhirnya justru memberikan pengalaman yang lebih buruk dan merusak kepercayaan pemain.”
Dengan cerita Hidden Mountain yang sekarang segera berakhir, jelas kalau Where Winds Meet masih jauh dari kata melambat. Ada region dan sect baru yang datang pada Oktober, perayaan anniversary besar dalam beberapa bulan setelahnya, serta berbagai kolaborasi bersama nama-nama besar dari dunia action, tari, sampai film.
Baik untuk pemain lama maupun mereka yang baru tertarik mencoba, beberapa bulan ke depan sepertinya bakal jadi periode yang cukup sibuk untuk Where Winds Meet.
Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut. Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id










![[EKSKLUSIF] Wawancara Hearthstone dengan Cora Georgiou dan Ryan Hickman – Expansion Baru, Antusiasme Untuk Monk, dan Perombakan Besar di Sisi Cerita!](https://cdn.gamerwk.com/2026/09/Hearthstone-Interview-Blizzcon-2026-120x86.jpg)


Discussion about this post