Alice in Borderland Season 3 akhirnya rilis juga. Setelah dua musim penuh permainan maut dan drama yang bikin deg-degan, seri adaptasi manga populer ini balik membawa dunia Borderland ke level baru. Dari jalanan Shibuya yang rame sampai arena permainan yang bisa bikin jantung copot, kami dapat kesempatan wawancara dengan sutradara Shinsuke Sato bareng Kento Yamazaki dan Tao Tsuchiya.

Season 3 kali ini nggak cuma nerusin cerita lama, tapi juga kasih banyak permainan baru, karakter yang makin berkembang, dan tema hidup yang lebih nyentuh. Sato bahkan bilang penonton baru bisa langsung nikmatin tanpa harus baca manga aslinya dulu. Jadi entah kamu fans lama atau baru mau coba nonton, pasti akan bisa menikmati keseruannya. Simak detail wawancara kami!

Membuka Lembar Baru Tanpa Beban Masa Lalu
Sutradara Shinsuke Sato kembali menggarap Alice in Borderland Season 3 dengan semangat yang sama seperti saat ia memulai proyek ini. Dalam obrolannya, ia menegaskan bahwa meski musim terbaru ini memang melanjutkan kisah dari dua musim sebelumnya, penonton tidak harus menguasai manga aslinya untuk bisa menikmati ceritanya.
“Kami ingin siapa pun bisa langsung masuk ke dunia Borderland tanpa harus tahu detail manga,” kata Sato. Ia menambahkan bahwa pendekatan visual dan drama yang intens akan membuat penonton langsung terbawa arus cerita, bahkan jika baru pertama kali menonton.

Menurut Sato, yang membedakan Alice in Borderland dengan karya survival game lain adalah bagaimana permainan bukan hanya sekadar tantangan fisik atau teka-teki, tapi juga cara untuk membuka luka lama para karakter.
“Setiap game bukan hanya uji strategi, tapi juga proses karakter menghadapi trauma dan beban pribadi mereka,” jelasnya. Dari game brutal penuh darah, sampai permainan otak yang tenang tapi menegangkan, semuanya dirancang agar penonton ikut larut, seakan ikut bermain sendiri.
Permainan yang Jadi Jiwa Cerita

Sato menekankan bahwa pemilihan setiap permainan selalu punya makna khusus dalam jalan cerita. Tidak ada game yang hadir hanya untuk efek dramatis semata. “Gameplay harus nyambung dengan tema inti yang ingin kami sampaikan,” ujarnya.
Beberapa permainan bahkan diciptakan khusus untuk seri ini dan tidak ada di manga, sebuah proses yang diakui cukup rumit. Ia bercerita bahwa merancang aturan game seringkali seperti menjadi game designer sendiri—menciptakan aturan, mencari celah, lalu menutupinya dengan logika cerita.
Salah satu keputusan terbesar adalah menjadikan permainan terakhir sebagai sebuah psychological mind game yang berlatar di Shibuya. Bagi Sato, lokasi ini sangat penting karena seri pertama dimulai di sana, tapi tak pernah ada satu pun permainan yang benar-benar berlangsung di Shibuya. “Saya ingin kisah ini berakhir di tempat yang sama, biar terasa seperti penutup buku yang indah,” katanya.
Permainan terakhir itu digambarkan seperti Sugoroku, permainan dadu tradisional Jepang, tapi dengan sentuhan modern yang menggambarkan pilihan hidup dan konsekuensinya.
Inspirasi Besar di Balik Akhir Cerita

Sato ingin permainan akhir mencerminkan tema utama musim ini: hidup itu sendiri. “Sugoroku adalah metafora bahwa pilihan hidup menentukan masa depan. Begitu juga para pemain, keputusan mereka akan menentukan nasib,” ujarnya. Menurutnya, menciptakan permainan seperti ini berbeda jauh dengan menulis skenario.
Prosesnya menuntut otak bekerja di jalur lain, tapi justru itulah yang membuatnya menarik. Ia bahkan mengaku tidak sepenuhnya ingat bagaimana bisa menemukan solusi dari tantangan desain game yang rumit itu, hanya saja tekad untuk membuat cerita dan gameplay saling terkait yang selalu menuntunnya.
Sato menutup dengan pesan sederhana: penonton sebaiknya datang dengan pikiran kosong, tanpa ekspektasi. “Anggap saja menonton Alice in Borderland seperti membuka kertas putih. Lupakan apa pun yang sudah kalian tahu, dan nikmati saja perjalanannya,” katanya.
Kento Yamazaki dan Tao Tsuchiya: Menemukan Makna Hidup Lewat Karakter

Beralih ke pemeran utama, Kento Yamazaki (Arisu) dan Tao Tsuchiya (Usagi) berbagi pengalaman mereka membawa karakter ke musim ketiga. Kento menilai sejak awal, tantangan terbesar adalah menyadari bahwa karya ini akan disaksikan penonton global. “Rasa ingin terus menantang diri sendiri justru jadi motivasi,” ujarnya. Sementara Tao mengaku bahwa meski banyak adegan penuh perjuangan, semua terbayar saat melihat reaksi penonton. “Rasanya validasi banget, semua kerja keras itu layak,” katanya.

Tao menambahkan bahwa karakter Usagi mengajarinya banyak hal, terutama soal keteguhan hati. “Dia tidak pernah menyerah, selalu berjuang untuk orang lain. Itu sangat menginspirasi saya pribadi,” ujarnya. Kehadiran karakter baru, Ryuji, juga memberi warna berbeda dalam hubungan Usagi dan Arisu. Menurut Tao, interaksi dengan Ryuji justru membuat perasaan Usagi terhadap Arisu semakin jelas. “Hubungan manusia itu rumit, tapi lewat Ryuji, Usagi bisa lebih jujur dengan perasaannya,” katanya.
Tantangan Berulang, Pertumbuhan Nyata
Kento dan Tao sama-sama merasakan bahwa membawa karakter yang sama untuk ketiga kalinya bukanlah hal mudah. Mereka harus menjaga esensi tokoh yang sudah dicintai penonton, sekaligus menunjukkan pertumbuhan baru. “Arisu sudah banyak kehilangan, tapi ia juga menemukan makna hidup lewat Usagi.
Tujuannya di musim ini jelas: membawa pulang Usagi,” kata Kento. Tao menimpali, “Bedanya sekarang mereka sudah menikah. Tantangannya bukan hanya bertahan hidup, tapi juga menghadapi dunia Borderland sebagai pasangan.”
Kento juga menyoroti adegan percakapan Arisu dengan seorang pria tua yang penuh makna. Ia yakin Arisu tidak pernah ragu bahwa hidup layak dijalani, meski penuh kehilangan. “Bagi Arisu, bahkan saat dunia kejam, kebahagiaan kecil tetap membuat hidup berharga,” ucapnya.
Produksi yang Menguras Energi

Musim ketiga juga menampilkan permainan yang jauh lebih ekstrem. Dari Omikuji Fortune sampai adegan zombie, semua menuntut fisik dan mental. Meski begitu, baik Kento maupun Tao merasa bukan soal semakin pintar menghadapi game, melainkan soal terus menghadapi tantangan baru. “Kuncinya bukan jadi lebih baik, tapi terus mencoba,” ujar Kento.
Tao justru memuji kru yang bekerja keras di balik layar. Salah satunya saat adegan laser dodge di fasilitas bawah tanah, semua peralatan harus dibawa turun lewat tangga. “Mereka yang terkuat, bukan kami,” kata Tao sambil tertawa.
Adegan klimaks yang melibatkan air juga jadi pengalaman tak terlupakan. Tao menjelaskan bahwa set itu sebenarnya kolam raksasa dalam gedung besar. “Ada tim khusus yang ngatur ombak, percikan, bahkan lantai airnya. Kami cuma berusaha tidak tenggelam,” ucapnya sambil bercanda.
Hubungan dan Emosi yang Lebih Dalam

Musim ini juga menampilkan sisi berbeda dari Usagi. Tao menegaskan bahwa meski tampak lebih rapuh, justru di situlah kekuatan karakternya. “Ia ingin membangun keluarga dengan Arisu, dan untuk itu ia harus menghadapi kelemahan serta traumanya. Itu bentuk keberanian yang nyata,” katanya.
Interaksi dengan karakter baru dari berbagai generasi juga membuat dinamika terasa lebih dalam. Kento merasa chemistry dengan pemain lain terbentuk secara natural, bahkan lewat obrolan kecil di sela-sela syuting.
Akhirnya, baik Kento maupun Tao sepakat bahwa Alice in Borderland Season 3 bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang menemukan arti hidup di tengah kekacauan. Seperti kata Kento, “Arisu sudah mengalami tragedi, tapi ia juga menemukan cinta. Dari situlah ia sadar, bahkan di masa tergelap sekalipun, hidup tetap layak diperjuangkan.”
Alice in Borderland Season 3 akan mulai ditayangkan pada 25 September mendatang. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id











Discussion about this post