Di sela kunjungannya ke Malaysia untuk konser LISA ASIA TOUR 2026 – LiVE is Smile Always ~15~, kami mendapat kesempatan untuk berbincang langsung dengan LiSA lewat sesi wawancara eksklusif. Konser ini sendiri menjadi momen spesial karena merupakan bagian dari perayaan 15 tahun perjalanan karier sang penyanyi yang sudah melahirkan banyak lagu anime populer.
Dalam sesi 1-on-1 dan group interview, LiSA membahas banyak hal menarik. Mulai dari kesannya terhadap konser solo pertamanya di Malaysia, perjalanan karier selama 15 tahun, album terbaru LACE UP, hingga cerita soal makanan favorit yang ia coba selama berada di sana. Berikut rangkuman lengkap obrolan kami bersama LiSA.

Interview Eksklusif 1-on-1
Menikmati Malaysia Lewat Makanan, Kamera, dan Sambutan Fans
Kunjungan LiSA ke Malaysia ternyata bukan cuma soal konser. Penyanyi yang dikenal lewat sederet lagu anime legendaris ini juga memanfaatkan waktunya untuk menikmati berbagai hal yang ditawarkan negara tersebut. Saat membuka sesi wawancara eksklusif, LiSA menyapa dengan sangat sederhana namun hangat. “Apa Khabar, ini LiSA. Terima Kasih!” ucapnya sambil tersenyum.
Salah satu hal yang paling berkesan selama berada di Malaysia tentu saja adalah makanan. LiSA mengaku sudah mencoba beberapa kuliner lokal yang cukup terkenal. Mulai dari laksa, Neslo atau campuran Milo dan teh, hingga durian yang ternyata baru pertama kali ia coba sepanjang hidupnya. Menariknya, pengalaman pertama itu bukan melalui buah durian langsung, melainkan es krim durian. Menurutnya aroma durian memang cukup kuat dan unik, tetapi setelah mencobanya ia justru menyukainya.
Tidak hanya itu, LiSA juga sempat menikmati Ice Kachang yang sempat ia unggah di media sosial. Saat ditanya mengenai makanan penutup tersebut, ia langsung terlihat antusias. Apalagi ia mencoba versi dengan tambahan mangga di atasnya. Menurut LiSA, rasa segar dari es serut tersebut benar-benar cocok dinikmati di cuaca Malaysia yang hangat.
Selain makanan, ada satu hobi lain yang cukup menarik dari LiSA, yaitu fotografi. Para penggemar mungkin sudah mengetahui bahwa dirinya sering membawa kamera ke berbagai tempat. Saat ditanya kamera favorit yang paling sering digunakan saat ini, LiSA menyebut Sony Alpha 7 sebagai pilihan utamanya. Ia bahkan terkadang menggunakan lensa custom atau buatan tangan untuk mendapatkan karakter foto yang berbeda. Tidak heran jika banyak foto yang ia unggah di media sosial memiliki nuansa yang sangat personal.
Gurenge, Spider-Man, dan Inspirasi yang Tak Pernah Habis

Sulit membahas perjalanan karier LiSA tanpa menyebut “Gurenge”. Lagu pembuka anime Demon Slayer tersebut menjadi salah satu lagu anime paling populer dalam sejarah. Lagu itu berhasil menembus jutaan unduhan dan ratusan juta penayangan di YouTube. Namun yang menarik, LiSA mengaku sama sekali tidak pernah membayangkan lagu tersebut akan menjadi fenomena sebesar sekarang.
Menurutnya, saat proses rekaman berlangsung ia memang tahu bahwa animenya sangat bagus dan lagunya juga kuat. Tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa lagu tersebut akan dikenal lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, “Gurenge” masih menjadi lagu yang mampu menyatukan ribuan orang dalam satu suara.
Pengalaman itu kembali ia rasakan saat konser di Malaysia. Ketika para penonton bernyanyi bersama membawakan “Gurenge” dan “Homura”, LiSA mengaku mendapatkan salah satu pengalaman sing along terbaik sepanjang kariernya. Bagi dirinya, momen tersebut menjadi bukti bagaimana musik bisa melampaui batas bahasa dan negara.
Di sisi lain, LiSA juga pernah mendapatkan kesempatan yang cukup unik saat mengerjakan lagu “REALIZE” untuk proyek Spider-Man. Ini menjadi salah satu pengalaman berbeda karena untuk pertama kalinya ia terlibat dalam karya yang berhubungan dengan produksi Hollywood. Menariknya, LiSA justru melihat banyak kesamaan antara anime Jepang dan Spider-Man.
Ia bahkan memberi contoh bagaimana aksi karakter anime seperti Kirito yang menerjang musuh memiliki energi yang mirip dengan Spider-Man yang berayun dari gedung ke gedung. Saat menulis lagu tersebut, ia mengaku terus membayangkan sosok Spider-Man bergerak bebas di antara gedung pencakar langit. Gambaran itulah yang akhirnya menjadi fondasi utama dalam proses kreatif “REALIZE”.
Menjaga Semangat Setelah 15 Tahun Berkarier

Bertahan selama 15 tahun di industri musik tentu bukan perkara mudah. Namun bagi LiSA, sumber motivasi terbesar ternyata datang dari hal yang sangat sederhana, yaitu makanan. Dengan nada bercanda ia mengatakan bahwa makanan adalah salah satu sumber energi utamanya, dan karena itulah Malaysia menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk dikunjungi.
Meski begitu, inspirasi kreatifnya tentu tidak hanya berasal dari kuliner. LiSA menjelaskan bahwa dirinya selalu aktif menyerap berbagai bentuk hiburan dan karya kreatif. Musik, film, manga, hingga pengalaman sehari-hari menjadi bahan bakar yang terus menghidupkan kreativitasnya. Ia juga memiliki kebiasaan menulis pemikiran dan perasaannya setiap hari. Kebiasaan sederhana itulah yang membuat ide-ide baru terus mengalir hingga sekarang.
Di luar musik, LiSA juga dikenal sebagai penggemar berat Minions. Ketika ditanya mengenai karakter favoritnya, jawabannya datang tanpa ragu. Stuart menjadi Minion kesayangannya. Alasannya sederhana tetapi sangat cocok dengan kepribadiannya. Stuart adalah karakter yang bermain gitar dan memiliki jiwa rocker. Tidak heran jika karakter tersebut terasa sangat dekat dengan dirinya.
Makna LACE UP dan Janji untuk Kembali

Album terbaru LiSA yang berjudul LACE UP memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar judul album biasa. Secara harfiah, istilah tersebut berarti mengikat tali sepatu. Namun bagi LiSA, frasa itu juga melambangkan proses mengikat semua perjalanan yang sudah dilalui sebelum melangkah menuju masa depan.
Karena album ini dirilis bertepatan dengan perayaan 15 tahun kariernya, LiSA ingin mengumpulkan seluruh pengalaman, kenangan, dan pencapaian yang sudah ia raih selama ini menjadi satu kesatuan. Seperti seseorang yang mengencangkan tali sepatu sebelum memulai perjalanan baru, ia ingin memastikan semua fondasi masa lalu sudah siap untuk membawanya menuju bab berikutnya.
Menutup sesi wawancara eksklusif, LiSA menyampaikan pesan hangat untuk para penggemarnya di Malaysia. Ia mengaku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu langsung dengan begitu banyak penggemar yang sudah lama menantikan konsernya. Antusiasme yang ia rasakan membuat satu hal menjadi sangat jelas. LiSA berjanji akan kembali lagi ke Malaysia di masa depan.
“Bertemu kalian semua membuatku sangat bahagia. Sampai jumpa lagi,” ujarnya.

Group Interview
Malaysia Menjadi Salah Satu Momen Paling Berkesan dalam Karier LiSA
Perjalanan internasional LiSA sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun konser solo pertamanya di Malaysia menjadi pengalaman yang terasa sangat spesial bahkan dibandingkan banyak penampilan internasional lainnya. Menurut LiSA, negara pertama yang pernah ia kunjungi untuk tampil di luar Jepang adalah Singapura. Saat itu ia terkejut mengetahui bahwa budaya anime dan musik anime ternyata memiliki basis penggemar yang begitu besar di luar Jepang.
Pengalaman tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang membawanya tampil di berbagai negara. Namun konser solo di Malaysia memberikan kesan yang berbeda. Ia mengaku sangat terharu melihat para penonton menyanyikan setiap lagu dengan penuh semangat, tidak peduli apakah lagu tersebut berasal dari era awal kariernya atau rilisan terbaru.
Kehangatan itu semakin terasa karena terakhir kali ia tampil di Malaysia adalah pada Penang Anime Matsuri tahun 2016. Setelah hampir satu dekade berlalu, LiSA merasa semua pihak telah berkembang ke level yang berbeda. Jumlah penonton lebih besar, venue lebih megah, dan energi yang diberikan penonton juga jauh lebih luar biasa dibanding sebelumnya.
Menurut LiSA, konser tersebut menjadi salah satu penampilan terbaik yang pernah ia lakukan sepanjang kariernya. Ada pertukaran energi yang sangat kuat antara dirinya dan para penonton yang membuat malam itu terasa begitu spesial.
Dari Panggung ke Media Sosial, Antusiasme yang Tidak Langsung Berakhir

Banyak orang mungkin mengira setelah tampil penuh energi selama berjam-jam, hal pertama yang dilakukan LiSA adalah langsung beristirahat. Nyatanya tidak sepenuhnya begitu.
Memang benar bahwa setelah konser usai ia langsung ingin terjun ke tempat tidur. Namun sebelum itu ada satu ritual yang selalu ia lakukan. LiSA akan membuka media sosial dan menuliskan semua perasaan yang masih membuncah setelah pertunjukan berakhir.
Menurutnya, emosi setelah konser adalah sesuatu yang sangat berharga karena masih terasa begitu nyata. Ia ingin membagikan perasaan tersebut kepada penggemar di seluruh dunia sebelum sensasinya memudar. Setelah semua pikirannya dituangkan dan diterjemahkan oleh tim lokal untuk diunggah, barulah ia benar-benar beristirahat.
Baginya, media sosial menjadi cara untuk memperpanjang kebahagiaan yang muncul setelah konser. Reaksi dan komentar dari penggemar membuat momen tersebut terus hidup bahkan setelah lampu panggung sudah padam.
Dari Angel Beats! Hingga Menjadi Penyanyi yang Menginspirasi Banyak Orang

Meskipun LiSA sudah bernyanyi sejak kecil, ada satu titik yang benar-benar mengubah hidupnya. Momen tersebut datang ketika ia terlibat dalam anime Angel Beats! dan mengisi suara karakter Yui.
Menurut LiSA, saat itulah untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa lagu yang ia nyanyikan bisa menjangkau begitu banyak orang melalui sebuah karakter anime. Pengalaman itu memberikan dampak emosional yang sangat besar.
Ia merasa bahagia karena musiknya bisa membuat orang lain tersenyum dan terhubung dengan cerita yang mereka cintai. Dari situlah muncul keyakinan bahwa menjadi penyanyi bukan hanya pekerjaan, tetapi sesuatu yang ingin ia jalani sepanjang hidup.
LACE UP Sebagai Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan

Bagi LiSA, album LACE UP bukanlah sekadar album perayaan ulang tahun karier. Album ini menjadi simbol yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu lagu yang dibawakan dalam konser, yaitu “Patch Walk”, merepresentasikan konsep tersebut dengan sangat jelas. Dalam video musiknya terdapat cuplikan perjalanan konser di Jepang bersama para penggemar lama, yang kemudian bertransisi menuju kedatangannya di Malaysia.
Menurut LiSA, visual tersebut menggambarkan jejak langkah yang membawanya sampai ke titik sekarang. Semua pengalaman, semua konser, dan semua pertemuan dengan penggemar menjadi bagian dari perjalanan yang saling terhubung.
Ia juga mengakui bahwa pendekatan kreatifnya saat membuat album pertama, Letters to U, sangat berbeda dibanding sekarang. Dulu ia hanya fokus menuangkan perasaannya sendiri ke dalam lagu. Kini ia melihat LiSA sebagai sosok artis yang dibentuk bersama tim besar di belakangnya. Karena itu, saat membuat musik sekarang, ia juga mempertimbangkan bagaimana publik memandang dan memvisualisasikan sosok LiSA sebagai seorang seniman.
Tantangan 15 Tahun Karier dan Kekuatan Komunitas

Saat membahas dokumenter Netflix miliknya yang mengangkat slogan “Another Great Day”, LiSA mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam tur perayaan 15 tahun ini ternyata bukan soal produksi atau perjalanan, melainkan memilih setlist.
Dengan katalog yang sudah mencapai lebih dari seratus lagu, menentukan lagu mana yang harus dibawakan menjadi pekerjaan yang sangat sulit. Setiap lagu memiliki kenangan dan penggemarnya sendiri.
Ia juga memberikan apresiasi besar kepada para personel band yang membantunya mewujudkan visi konser tersebut. Selain itu, komunitas anime juga berperan penting karena turut mendukung penggunaan berbagai materi visual yang ditampilkan selama pertunjukan.
Menurut LiSA, konser tersebut hanya bisa terwujud berkat hubungan yang sudah dibangun selama 15 tahun bersama para penggemar, komunitas anime, dan seluruh tim yang mendukungnya.
Bahasa Boleh Berbeda, Tapi Cinta untuk Musik Tetap Sama

Salah satu pertanyaan paling menarik dalam sesi grup membahas bagaimana penonton Malaysia yang mayoritas tidak menggunakan bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari tetap mampu menyanyikan lagu-lagunya dengan sempurna.
LiSA mengaku pertanyaan itu cukup sulit dijawab. Namun ada satu kata yang terus muncul di pikirannya saat mengenang konser tersebut, yaitu cinta.
Ia merasa seluruh penonton datang dengan keinginan untuk mendukung dan menikmati musiknya. Di sisi lain, dirinya juga naik ke atas panggung dengan tujuan membuat semua orang bahagia. Ketika dua energi itu bertemu, terciptalah hubungan yang tidak memerlukan bahasa sebagai penghubung utama.
Menurut LiSA, sinergi emosional seperti itulah yang membuat konser menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tidak terlupakan.
Pengaruh Musik, Dari Idol Jepang Hingga Punk Rock

Saat berbicara mengenai inspirasi musik, LiSA menyebut grup Jepang Speed sebagai pengaruh terbesar di masa kecilnya. Melihat anak-anak seusianya tampil di televisi dan menjadi terkenal membuat mimpi menjadi musisi terasa jauh lebih nyata.
Seiring bertambahnya usia, selera musiknya berkembang ke berbagai arah. Ia mulai mendengarkan Avril Lavigne, Limp Bizkit, Green Day, musik hardcore, punk rock, hingga berbagai genre lainnya.
Menariknya, LiSA tidak hanya terpengaruh oleh musik rock. Musik idol Jepang juga memberikan pengaruh besar terhadap gaya bermusiknya. Karena itu, menurutnya suara dan identitas musik LiSA saat ini merupakan campuran dari banyak elemen sekaligus. Mulai dari idol, punk rock, emo, hingga hardcore, semuanya menyatu membentuk karakter unik yang dikenal para penggemar sekarang.
Itulah wawancara kami dengan LiSA. Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita pop culture dan game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id












Discussion about this post